Sesampainya di parkiran penginapan paman Noah, Hazel segera turun tanpa aba-aba. Dan segera masuk ke dalam. Arnesh berdecak kesal. Ia telah membelikan sekantong besar peralatan p3k dan berbagai makanan ringan juga instan. Tapi gadis itu jangankan menerima atau menyentuh, sejak tadi ia hanya memasang wajah yang berterima kasih saja tidak. “Dasar, tau gitu kubiarkan saja dia terserempet mobil tadi.” Arnesh menggerutu tiada henti terhadap Hazel yang selalu nampak sombong di matanya. Dan anehnya ia kesal karena gadis itu sempat meneriakinya sombong hanya karena ia tumbuh besar dengana nama Ben. Ia tidak pernah ingin terlahir dari darah dagin Benjamin. Begitupun ibunya juga tidak pernah ingin dirinya diketahui oleh keluarga besar Ben, tapi takdir berkata lain. pada akhirnya kini ia harus me

