Pandji mengikutinya dari belakang, saat di luar Hazel meninggalkan Pandji sendirian di luar. “Pulanglah. Kami sudah mau tutup. Kau satu-satunya pelanggan yang sulit diberitahu.” Ucapnya ketus. Ia berharap Pandji tidak lagi datang atau muncul di depannya.
“Tunggu! Memang salahku apa?”
“Tidak ada. Ini semua salahku yang sejak awal meladenimu. Oh ia aku tahu sedikit rahasiamu. Kau membolos di belakang ibumu kan?” ucapnya, Hazel membelakangi Pandji. “Aku ingat sedikit demi sedikit, hari itu, aku sering bermain di rumahmu. Tapi aku lebih sering bermain sendiri.” Tambahnya, “Pandji, aku senang pernah berteman denganmu. Tapi jangan membohongi ibumu. Gunakan waktumu untuk membuat mereka bahagia.” Hazel berlalu masuk ke restoran.
Tidak ada satupun tamu. Ia mulai mengangkat seluruh kursi dan membersihkan meja, menurunkan tirai jendela dan membersihkan lantai. Hari ini ia tidak dibantu bibi Kasir, karena bibi sudah pulang dahulu, Hazel tidak kecewa, toh dirinya sering membolos.
Sedangkan Paman membersihkan ruang dapur. Saat mereka sudah hampir menyelesaikan semua pekerjaan, “Loh anak yang bernama Pandji sudah pulang ya?” tanya paman yang keluar dari dapur, dan ingin membersihkan toilet. Hazel hanya mengangguk.
“Oh. Paman.” Hazel memanggil ragu, “Huh?” sahutnya dari dalam toilet.
“Mengenai dokumen tadi, itu terima kasih sudah menyimpannya. Paman pasti sudah dengar semua dari Nadya ya?” tebak Hazel, ia masih sambil mengepel lantai.
Tidak ada balasan dari paman untuk beberapa waktu.
Hazel telah menyelesaikan pekerjaannya. “Hazel, kita bicara sebentar di luar setelah ini ya. Paman mau matikan listrik dulu.” Hazel mengerti apa yang akan dibicarakan paman.
Ia memilih menunggu di dalam, sebab mendapati mobil Pandji masih terparkir di luar. Ia berfikir, ia tidak mengerti mengapa Pandji masih saja menunggu di sini. Padahal ini tidak terlalu malam untuknya pulang, jika ia butuh 2 jam lebih untuk sampai ke balai kota. Atau kenapa ia tidak menginap saja, kenapa ia belum pergi.
“Ayo,” Ajak paman berjalan mendahului, “Loh itu masih ada mobil terparkir. Mobil siapa? Orang sebelah ya” Paman berbicara entah dengan siapa, yang jelas Hazel pun tidak dapat menjawab. Ia memilih pura-pura tidak tahu saja.
Mereka sudah di luar, mobil yang terparkir tidak ada tanda-tanda pemilik di dalamnya, “dimana dia” Hazel melirik sana kemari, mencari keberadaan lelaki itu. “Paman sambil merokok ya. Dari tadi sore sudah ditahan-tahan. Paman sedang mengurangi rokok dalam sehari,” ocehnya, Hazel hanya mendengarkan.
“Tadi Nadya sepulang mengantar Sofia, dia cerita, katanya kamu mau ingat Ijazah sdmu tidak ada di rumah. Nadya bilang ia juga sebenarnya lupa, jadi tadi ia sempat menanyakan pada paman. Ya memang betul dari sejak penutupan kasus insiden itu, paman yang menyimpannya. Apa ada yang mau kau ceritakan atau tanyakan?” paman bertanya setelah ia menghisap dua kali puntung rokoknya.
Hazel terdiam, jadi Nadya tidak memberitahukannya mengenai ia ingin mengejar paket. Tapi kenapa ia malah pura-pura tidak tahu? Aku tidak mengerti jalan pikirannya, Hazel yang terus melamun memikirkan Nadya membuat Paman telah menghabiskan setengah puntung rokok. Ia mematikan dan membuang setengahnya lagi ke dalam tong sampah yang tidak jauh dari mereka.
“Jadi tidak ada ya? Tapi syukurlah kau mengingat Ijazahmu. Paman pikir mau sampai kapan paman akan menyimpannya.” Paman tertawa setelah mengucapkan itu. “Aku berencana mengejar paket B, paman.” Hazel tiba-tiba menjadi yakin. “Menurut paman bagaimana?” tanyanya membutuhkan nasihat.
“Aku? Kau sebenarnya tidak membutuhkan jawabanku untuk pilihanmu. Kau harus berani dalam mengambil keputusan. Saat kau bilang begitu. Itu terdengar ragu-ragu. Apa alasannya?”
“Alasan ragu-ragu?” Ucap Hazel mengulang perkataannya, paman bisa tahu isi hatinya dari Nada ia berbicara. Paman mengangguk menunggu jawaban Hazel.
“Waktu untuk restoran” jawabnya singkat.
Paman tertawa kecil untuk beberapa saat, “Nak. Kau ini. Kenapa begitu mengkhawatirkan restoran kecil ini? Kau besok menaftarlah. Saat sudah mulai bersekolah, datang kapan saja kau senggang.” ia membuka bungkus rokok lagi, tapi berhenti untuk mengambil sepuntung.
“Kau tidak usah mengkhawatirkan restoran, aku akan menjaganya untuk ayahmu. Kita masih dengan kesepakatan pertama, meski nanti kau tidak lagi bekerja di sini. Bagi hasil akan tetap di perjanjian awal,” Tambahnya. “Sebab. Sejak awal ini memang restoran yang didirikan oleh Aden, aku hanyalah pekerja paruh waktu saat itu. Tapi entah keberuntungan apa yang menyertaiku, ia mengajakku membagi hasil jika aku membantunya merenovasi dan menjadi koki utama.”
Paman menutup bungkus rokoknya, ia telah berjanji untuk mulai mengurangi keinginannya. “Terima kasih paman. Aku sangat khawatir awalnya. Tapi aku akan coba tanyakan saat mendaftar esok, mengenai jadwalnya, kuharap waktunya tidak banyak bertabrakan. Aku tetap ingin bekerja.” Hazel yang merasa lelah berdiri, ia mulai berjongkok, melipat tangannya di atas lutut, “Sebab, menjadi koki adalah bagian dari hidupku yang lainnya.” Hazel tiba-tiba mengucapkan kalimat yang pernah diucapkan mendiang ayahnya saat ia kecil, “Pekerjaan ayah adalah bagian dari hidup ayah. Juga takdir pertemuan dengan ibumu.”
“Meskipun aku baru menjadi asisten,” sambungannya, ia tertawa mencairkan suasana dan disambut gelak tawa oleh Paman. “Apa kau ingin menjadi koki utama? Caranya cuma satu. Dan kau tau itu,” tambah Paman. Hazel mulai berdiri, “Itu yang tersulit paman. Paman, aku juga punya rencana lain.” Ucap Hazel tiba-tiba, “Tapi tidak bisa kuberi tahukan sekaran.”
“Ah kau membuatku penasaran saja. Semoga aku masih hidup sampai waktunya tiba,” candanya. Hazel hanya tertawa kecil.
“Ngomong-ngomong ini mobil siapa ya. Kok parker di depan lahan kita, dan mana pemiliknya.” Paaman melihat ke sana kemari mencari seorang yang mencurigakan sebagai tersangka pemilik.
“Ah tidak usah dipikirkan paman, mungkin tamu dari tetangga sebelah.” Ucap Hazel begitu saja, ia tidak ingin paman tahu itu adalah mobil Pandji. “Ya Sudah kalau begitu. Aku mau pulang dulu. Istirahat, dan jangan sering-sering ke laut pagi. Tapi memang kau masih berenang di laut pagi-pagi?”
“Bukan berenang paman.” ia tertawa geli.
“Ya deh. Padahal sudah beberapa kali kubilang, ini bukan pantai yang bagus buat berselancar. Malah bukan tempatnya. Kenapa kau tidak pergi keluar dari pulau ini dan mencari pantai yang sesuai.” Paman berlalu, dan melambaikan tangan tanda perpisahan.
“Pergi keluar dari pulai ini? Maksudnya pergi ke tempat yang pernah orang itu ceritakan?”
Hazel memilih untuk tidak memikirkan hal ini dulu. Sekarang tujuan utamanya mendaftar sekolah, dan dedikasinya untuk restoran.