Saat punggung paman sudah tidak terlihat jelas, Hazel menunggu lelaki itu muncul di hadapannya. Tapi ia tidak muncul juga, Hazel memilih mengetuk jendela yang cukup gelap. Tiada jawaban. Hazel tidak ingin ambil pusing, ia memilih pulang.
Kemana perginya orang itu, tidur di mana ia mala mini, pikir Hazel. Meski ia mengatakan tidak peduli di depannya, namun hatinya sedikit khawatir. Tapi ia juga tidak bisa membawanya ke rumahnya yang mana ia hanya tinggal sendiri. Ia bukannya takut, tapi lebih khawatir, jika ketahuan pak rt setempat mungkin ia akan ditegur dan rumor yang tidak-tidak bisa saja menyebar. Meskipun ia sebenarnya tidak peduli dengan itu semua.
Tiba-tiba ponsel Hazel berdering, “Siapa ini”, pikirannya. Nomor yang tidak tersimpan menelponnya malam-malam. Hazel baru sadar ia juga mendapatkan panggilan tidak terjawab dari Hendra sejam yang lalu. Hazel memilih mematikan panggilan asing itu dan menelpon Hendra kembali namun tiada jawaban. Lagi-lagi nomor asing yang sama menelpon, jika ini spam call biasanya menggunakan nomor yang berbeda. Siapa sih, Hazel akhirnya menerima telepon itu namun diam saja.
“Hazy…” suara tidak asing terdengar dari panggilan itu. Suara Pandji.
Sialan! Dia mainin ponselku ya tadi siang. b******k satu ini sudah di bolehin tidur di sofa, ngelunjak!
“Hazy kau di sana?” panggilnya yang tidak ada jawaban dari Hazel.
Dengan perasaan marah ia menutup panggilan tanpa meninggalkan sepatah katapun. Berulang kali Pandji menelpon ponsel Hazel, ia memilih tidak menjawabnya. Ia merasa menyesal telah kasihan padanya, ia memilih untuk tidak peduli lagi. Hatinya merasa kesal dengan keputusan Pandji yang diam-diam memainkan ponselnya.
Sepulang di rumah, ia memilih bersantai dengan berendam air hangat setelah sekian lama. Biasanya ia tidak pernah punya waktu untuk ini, namun malam ini berbeda. Perasaan lebih ringan dari sebelumnya. Esok hari, hari yang sangat ia tunggu, ia mempersiapkan segalanya untuk pendaftaran sekolahnya yang akan buka seminggu dari sekarang. Ia Pun lupa dengan rencananya untuk menghubungi Hendra, atau Nadya atau menanyai Sofia.
*
Nadya merasa kesal Hazel belum menghubunginya sampai sekarang, ia tengah duduk bersama dengan Hendra yang tadi juga sempat menelpon Hazel namun tidak mendapatkan jawabannya. Ia memilih untuk tidak menanyakan kepada Nadya. Ya, itu keputusan yang tepat, untuk tidak menanyakan pada Nadya. Sebab wajahnya nampak sangat kesal sejak sore tadi.
“Aku ingin istirahat. Kau bisa pulang Hen.” Ucapnya dingin setelah menggenggam erat ponselnya. Tidak biasanya ia memanggil namanya, biasanya ia akan bermanja ria.
Yah aku tidak begitu mengerti permasalahan saudara. Mereka bahkan bukan saudara sedarah. Nadya terlalu berlebihan bermain-main rumah-rumahan.
Meski Hendra sering kesal dengan kebiasaan Nadya yang terlalu berlebihan, rasa cintanya membuat ia buta akan kekurangan itu. Meski begitu, Nadya punya kelebihan yang jarang dipunyai orang lain, rasa peduli dan percaya diri
*
Arnesh yang baru saja selesai merokok, mendengar temannya terus-terusan membicarakan gadis yang mengantar makanan tadi. Arnesh hanya diam mendengarkan, ia mengingat gadis itu dengan jelas. Ia gadis yang sama, yang terluka di bibir pantai. Gadis aneh yang bermain dengan papan selancar di pantai pagi-pagi buta hanya untuk bermain-main dengan ombak yang hanya untuk anak-anak. Itu pikirnya ketika pertama kali melihat dirinya.
Meski begitu, jauh di lubuk hatinya, ia ingin mencoba berselancar sekali saja. Ia mengingat masa kecilnya, duduk di tepi pantai dari pagi ke sore memandangi peselancar yang sangat indah menari di atas laut. Mungkinkah gadis itu akan sangat indah juga menari di atas ombak yang besar itu? Mungkinkah ia sebenarnya seorang yang profesional yang sedang merindukan menari di atas laut? Dan ia bertemu lagi dengannya. Ia gadis yang aneh dan menarik hatinya. Tapi ia tidak suka.
“kalau dia mengantar makanan, berati dia bekerja di restoran sekitar sini? Apa besok aku sarapan di sana ya. Dia tipeku sekali. Gayanya yang sangat santai dan wajahnya yang cantik, tingginya juga masuk kriteria tipeku sekali.” Ucap lelaki muda bernama Ryan yang sangat berisik menurut Arnesh. Teman bermaiannya masih sibuk dan fokus pada game dan konsolnya, meski begitu ia selalu kalah dengan Ryan. Sesekali ia membanting konsol di lantai dan memungutnya kembali, seperti orang yang tidak waras, pikir Arnesh.
Mereka adalah teman-teman kecil saat masih di tanah kelahirannya, dan beberapa teman saat ia mulai pindah dengan Paman Noah. Ryan dan Mikail sendiri bekerja di bawah pengawasannya, di cabang perusahan ayahnya yang ia pegang. Untuk sekarang. Sedangkan dua lainnya hanya sekedar bermain-main menjenguk dirinya sesekali. Mereka teman sekaligus orang yang dapat Arnesh percaya seperti Paman Noah. Ia tidak punya keluarga lagi selain mereka. Baginya Ayahnya hanya masalah waktu sampai si tua itu tidak membutuhkan dirinya dan membuangnya, sekali lagi.
Dengan kesibukannya merawat perusahan ayahnya, pada akhirnya ia bisa beristirahat untuk 3 hari dan memilih menginap sehari semalam di penginapan paman Noah dan akan pindah penginapan di pantai seberang yang menghasilkan Sunrise.
“Sepertinya besok kita akan bertemu kembali gadis aneh.” Arnesh tidak sabar menunggu kesempatan itu.
“Kenapa kau hanya termenung, Ben? Apa kau juga memikirkan gadis itu?” Tanya Ryan setelah menertawakan Jill yang selalu kalah. “Jangan konyol. Aku hanya memikirkan masa lalu.” Ia berlalu dan menuju double bed-nya.
“Aku akan beristirahat, jangan terlalu berisik dan kenapa kalian tidak main di kamar kalian masing-masing, sialan.” Ia memperingati mereka, “Ya kenapa kita tidak main di kamar ku saja? Atau kamarmu?” Tanya Jill. “Tidak-tidak, di sini lebih enak. Lihat” Ryan menunjuk arah balkon.
“Dan lihat,” ia berdiri di samping TV “Layar Tv ini lebih besar dari di kamar kita dan yang lainnya. Dan kualitasnya lebih baik.” Ucap si maniak game itu dengan akurat.
Jill bahkan tidak menyadari ukuran TV di kamar Arnesh lebih besar. “Apa ia? Kau kan baru di sini pertama kali.”
“Benar. Tapi aku tidak hanya sekali mengalahkanmu.” Ucapnya sombong.
“Sial!” Jill membanting konsol, melepas headphonenya dan pergi keluar.
“Menyerah?” Ryan menyeringai. “Berisik! Aku mau merokok. b******k!”
Ryan memilih untuk istirahat dan tidur. Ia juga sama tidak sabarnya menunggu hari esok untuk bertemu dengan gadis yang memikat hatinya.
Benar dugaan Ryan, fasilitas kamar Arnesh memang lebih baik dari kamar yang lainnya. Sebab ini kamar yang biasanya digunakan Paman Noah atau dirinya sebagai penyewa tetap. Paman Noah seperti saudara pertama sebelum mereka berempat.