Hazel tertidur ketika ia masih di bak mandi, ia menyadari air yang tadinya hangat kini menjadi dingin. Ia meregangkan badannya yang lebih ringan, begitupun perasaannya. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia baru sadar telah tertidur selama dua jam di bak mandi.
Bangun di tengah malam membuatnya tidak dapat melanjutkan tidurnya, ia memilih terjaga di bawah dengan TV tabungnya. Seringkali ia memikirkan, bagaimana caranya memindahkan Televisinya ke kamar, begitupun dapurnya. Agar ia tidak perlu naik turun tangga. Salah satu hal yang membuat ia malas.
“Sial! Aku sampai lupa ingin mengabari Sofia dan meminta maaf pada Nadya. Apa Hendra ada yang ingin dibicarakan ya?” Gerutunya saat memeriksa pesan Witapp miliknya, pesan Hendra bahkan telah terbuka tanpa ia ketahui. Ia telah menebak, itu juga ulah Pandji. “PERSETAN DENGAN NYA MAU TIDUR DI MANA!” Hazel berharap besok ia tidak lagi melihat wajahnya.
*
Hazel datang lebih pagi dari pamannya, untuk memastikan Pandji sudah pulang. Namun sayangnya mobilnya masih terparkir di sana dengan tanpa pemiliknya di dalam. “Kemana dia?” terbesit rasa khawatir di hatinya.
“Mobilnya masih terparkir di sana saja.” Celetuk seorang dari belakang mengagetkan Hazel yang sedang mencoba mengintip dari kaca luar. Hazel menjelaskan kebenarannya, paman hanya tertawa dengan kebenaran itu. “Jadi dia menunggumu semalam di sin?”
“Kurasa. Tapi dari tadi malam aku tidak melihatnya. Apa dia sedang menginap di dekat sini dengan jalan kaki.” Ucap Hazel. Pada akhirnya ia mengajak paman untuk tidak usah memperdulikan sang pemilik mobil ini.
Rutinitas di restoran berjalan dengan biasa kecuali, segerombolan yang tidak asing mulai masuk ke dalam resto dengan salah satu yang sangat berisik. Beberapa dari mereka menjadi pusat perhatian karena penampilan yang mencolok – beberapa orang tidak nyaman dengan sekumpulan semacam preman.
Dan Pandji yang entah dari mana tiba-tiba muncul. Hazel yang sempat kaget munculnya orang-orang dari penginapan, ia menjadi lebih kaget namun sekaligus lega Pandji muncul dan tidak terjadi apa-apa padannya. “Huh dasar. Padahal aku berharap dia menghilang saja.”
Hazel menghampiri meja Pandji dengan segera setelah ia duduk, membuat Ryan yang sedari tadi mencoba memanggil dirinya menggerutu. Ia menghampiri meja Pandji bukan untuk menyambutnya sebaliknya, ia ingin mengambilnya, tentang banyak hal. Saat Hazel melewati sekelompok orang asing itu, matanya tidak sengaja bertatapan dengan mata Arnesh. Tapi perhatiannya langsung berganti ke arah Pandji.
“Sudah kuduga kau masih saja kesini. Kau membolos kuliah lagi?” tanyanya.
“Hari ini kosong. Apa kau kesini mau menawarkan aku sesuatu?” ucapnya dengan nada memelas, ia nampak keletihan. “Kau tidur semalaman di mobil?” tanya Hazel seperti tidak peduli.
Dari seberang meja terdengar gerutu Ryan, Hazel menoleh ke arahnya, “Silakan memesan pesanan anda di kasir, Pak” ucapnya formal. Hazel mendengar orang itu lebih menggerutu dari pada sebelumnya.
“Kenapa dia berbicara seperti itu? Kau mengenalnya?” tanya Pandji merasa jengkel dengan sikap Ryan. Padahal mereka memiliki sikap yang hampir mirip. “Khawatirkan dirimu sendiri. Kau mau sampai kapan di sini?”
“Siang ini aku pulang. Tenang saja aku tidak akan mengganggumu hari ini.”
“Memang tadi malam kau kemana? Tadi pagi juga?” tanya Hazel penasaran, tapi di telinga Pandji Hazel nampak peduli. “Oh kau memerikasku ya?” Pandji tampak senang dengan sikap peduli Hazel meski bukan itu maksud Hazel.
Hazel yang kesal dengan tingkah Pandji memilih meninggalkannya saat raut wajahnya senang. Ia menyesal dengan pertanyaannya.
Seperti yang dijanjikan Pandji, ia tidak mengganggu dirinya. Ia duduk diam di mejanya memperhatikan Hazel yang mondar mandir mengantar pesanan dari satu meja ke meja lain. Termasuk meja Ryan dan sekumpulan orang yang asing, satu orang yang membuat Hazel tidak nyaman. Lelaki yang sempat ia ingat, tapi ia nampak seperti tidak pernah bertemu dengannya, itu membuat ia sangat gugup karena hanya ia yang merasa pernah bertemu.
Di meja Arnesh. Hanya ia sendiri yang lebih banyak diam. Hazel menyadari orang itu memperhatikan Pandji yang sedang sibuk dengan ponselnya. “Heboh sekali anak muda jaman sekarang,” ucap paman di samping Hazel memecah lamunannya.
“Mereka orang yang sama yang memesan tadi malam,” ucap Hazel. “Oh ia? Calon pelanggan tetap ya,” ucap paman sedang memperhatikan, “Kalau di lihat-lihat mereka itu turis asing semua? Tapi ketika di dekati, aku mendengar bahasanya lancar. Ah tidak, sepertinya ada dua atau tiga yang campuran.” Tambahnya serius.
“Eh itu temanmu Pandji. Memang tadi malam tidur dimana dia?” tanya paman. hari ini paman lebih banyak berinteraksi dengan Hazel, seolah ini menjadi kesempatan terakhirnya setelah mengetahui ia akan bersekolah lagi. Hazel memilih tidak menjawab, ia sendiri tidak tahu di mana Pandji tidur tadi malam, atau kenapa ia tidak ada saat ia memeriksa mobilnya.
“Ah aku lupa. Aku mau menelpon beberapa orang dulu paman.” Hazel meminta izin keluar dari dapur lewat pintu belakang. Ia ingin menelpon Sofia dan instansi yang rencananya akan Hazel ingin mendaftarkan dirinya.
Tak banyak yang ingin Iia bicarakan dengan Sofia, hanya tentang Perencanaan pendaftaran yang telah ia persiapkan dengan matang dan pamannya yang sudah tahu mengenai rencannya. Selama di panggilan, Hazel banyak berterima kasih kepada Sofia. Ia mengatakan perasaannya lebih ringan dari sebelumnya, saat ia menjadi lebih jujur terhadap dirinya dan orang sekitar.
Perbincangan tadi malam membuat hubungannya dengan paaman juga semakin erat dan percaya satu sama lain. Hazel merasa tidak sungkan lagi jika nanti ia akan sering tidak membantu bekerja karena sekolahnya.
“Apa kau sudah berbicara dengan Nadya?”
Hazel terdiam tidak menjawab pertanyaan Sofia. “Aku hanya ingin mengabari itu saja,” ucapnya.
“Kalau begitu, aku minta maaf dengan pertanyaanku.”
“Aku juga minta maaf kau harus terlibat dengan masalah kami. Kau tidak usah khawatir. Aku akan memberikannya satu persatu. Sudah dulu ya, terima kasih bantuannya. Semoga kita bertemu lagi dalam waktu dekat” Jelas Hazel lalu mematikan teleponnya, dan di ujung sana Sofia tidak menentang apapun keputusannya.
Pandji yang tidak jauh dari tempat Hazel berdiri menunggu ia selesai menelpon, “Selamat ya. Semoga berjalan dengan lancar. Aku akan pulang.” Pandji berpamitan, ia nampak lebih tenang dari kemarin. Hazel penasaran tapi ia tidak peduli, ia memilih masuk dan melanjutkan pekerjaan yang sempat ia tinggalkan. Ia bahkan belum sempat memarahinya karena membuka ponselnya.