Ada apa dengan orang itu. Sikapnya tiba-tiba aneh setelah menghilang. Seolah ia habis dirasuki sesuatu. Yah aku sebenarnya tidak begitu peduli.
Hazel tidak segera masuk, ia memperhatikan gerak gerik Pandji untuk memastikan ia benar-benar pulang. Meski begitu Hazel masihi tidak percaya Pandji nampak lebih tenang dari kemarin malam. Lebih tepatnya di wajahnya nampak muram dan sedih satu waktu. Pada akhirnya ia tidak tahan untuk mengikuti Pandji dari belakang ke arah parkiran.
Saat mengikuti dari belakang, Hazel mendapati Pandji benar-benar masuk ke dalam mobilnya. Mereka saling menatap untuk beberapa saat, Pandji menatap Hazel tanpa senyuman dari depan kemudi, sebelum benar-benar pergi menjauh dari parkiran.
Ada apa dengan tatapan itu. Benar-benar menjengkelkan. Entah mengapa, Hazel tiba-tiba merasa kesal.
Dan sekarang mata mereka bertemu satu sama lain. Hazel tidak menyadari ada orang lain di parkiran sejak tadi selain ia dan Pandji. Orang itu adalah lelaki yang sama yang sangat ia ingin hindari. Lelaki itu meliriknya dengan sepuntung rokok di mulutnya. Mata mereka saling menatap untuk beberapa saat sampai Hazel memilih untuk melewatinya begitu saja.
Lagi-lagi dia. Orang yang tidak ingin aku temui. Tapi entah mengapa, aku sedikit gugup. Kurasa karena kami pernah bertemu dan aku mengingatnya. Tapi aku tidak bisa mengatakannya. Hazel berlalu sembari berharap orang itu berhenti menatapnya.
Karena sudah nampak di mata Arnesh, Hazel memilih masuk melewati pintu depan. Ia berpapasan lagi dengan meja sekumpulan teman Arnesh. Ryan nampak tersenyum lebar ketika wajah Hazel muncul, namun Hazel nampak tidak perduli.
Saat melewati meja mereka, tangan Hazel di tahan oleh Ryan yang duduk di ujung meja.
“Ka, boleh tau namamu?” tanyanya dengan sambil tertawa.
Hazel melirik dengan sinis, ia menepis tangan Ryan. Membuat lelaki itu cukup tersinggung dan berdiri. Tatapan tersinggung itu tidak menciutkan tatapan sinis Hazel. Seorang bernama Mikail menhentikan Ryan untuk menjaga sikapnya. Hazel berlalu meninggalkan mereka, memberi tatapan kepada paman untuk tidak usah mengkhawatirkan masalah ini..
Meski Hazel nampak jengkel dengan sikap tidak sopan Ryan, ia tidak ingin membuat masalah lebih rumit. Terdengar dari jauh setelah Hazel berlalu Ryan terus menggerutu. “Dia sok jual mahal sekali. Padahal aku cuma ingin tahu namanya. Gadis sekitar sini sombong sekali.”
“Jelas-jelas kau yang tidak sopan,” sahut Mikail. Teman di samping Ryan dan Mikail nampak diam saja tidak peduli. Mereka nampak lebih dewasa dan tertutup. Sedangkan Mikail nampak lebih sering menjadi penengah di antara mereka terutama Ryan yang paling agresif dan termuda.
“Sudah, selesaikan makannya segera. Kita akan ke pantai seberang,” celetuk lelaki yang baru masuk dengan bau rokok. “Kau sudah memesan kamarnya Mike?” tanya Arnesh kepada Mikail. Ia hanya mengiyakan sambil terus sibuk dengan ponselnya.
“Ah tidak asik. Padahal aku ingin lebih lama di sini,” gerutu Ryan.
“Memangnya penolakan tadi tidak cukup untukmu?” sindir Arnesh.
Hazel merasa bersyukur hari ini tidak ada konflik besar. Terkadang Hazel mendapatkan perlakuan tidak sopan oleh beberap pelanggan yang tiba-tiba menyentuhnya. Seringkali jika paman melihatnya, ia sendiri yang akan menegur mereka. Tapi untuk beberapa kesempatan, Hazel sering menanganinya sendiri. Tak lama mereka menyelesaikan makan dan kelompok Arnesh meninggalkan restoran, suasana sekitar menjadi lebih tenang.
*
Seminggu telah berlalu dengan biasa. Hazel telah mendaftarkan dirinya ke kelas Paket B. ia akan mulai masuk bulan depan. 2 minggu berlalu dengan biasa, pekerjaan yang biasanya menjadi prioritas utama, kini Hazel memiliki prioritas lain, yaitu bersekolah. Ia sangat antusias, bahkan ia telah mempersiapkan dan menyampul rapi buku-bukunya.
Hazel mengingat bagaiman dulu, mereka bertiga menyampul buku bersama di semester awal dengan penuh bahagia. Ia masih mengingat jelas bagaiman ibunya mengajari ia menyampul dengan rapi menggunakan sampul plastik juga, namun ayahnya lebih suka tanpa plastik. Kadang mereka berdebat kecil mengenai masalah itu. Ingatan itu membuat Hazel tersenyum simpul.
Ah ia tiba-tiba entah mengapa aku jadi teringat dia. Sudah dua minggu dia tidak datang lagi ke restoran. Dia sudah punya nomorku tapi juga tidak menelpon sejak malam itu. Dan Nadya juga hanya mengirimiku pesan singkat. Ia tidak lagi selengket dulu. Mereka berdua jadi lebih tenang. Aku merasa aneh dengan sikap mereka tapi satu sisi juga bersyukur. Hazel merenung dan mengingat hari di mana ia dan Nadya bertengkar dan malam di mana ia mengusir Pandji. Terbesit di hatinya merasa bersalah memperlakukan mereka begitu.
Tapi Hazel memilih untuk menunggu, Ia tidak ingin mengirimi Pandji pesan atau semacamnya atau dia akan salah sangka dan menjadi penyakit kepala seperti sebelumnya. Sedangkan untuk Nadya, Hazel tidak ingin membicarakan apapun, walaupun ia merasa bersalah dengan berteriak dengannya. Ia masih kesal pada Nadya yang menyembunyikan kebenaran yang seharusnya diketahui.
Saat sedang melamun, dering dari pesan Sofia membuyarkan lamunannya, “Huh? Sofia.” Dia mengirim pesan kepada Hazel bahwa ia akan datang berkunjung seminggu lagi setelah ujian semester.
Ujian semester? Apa Pandji juga sedang ujian semester?
Tiba-tiba pikirannya terisi dengan Pandji, ia mengingat bagaimana orang itu sangat mengganggu.
Hazel melihat pesan terakhir Pandji yang ia kirimkan di Nicebook sebelum mereka menjadi akrab dalam satu hari.
Apa aku sudah gila. Aku tidak suka orang berisik sepertinya. Selain berisik dia juga mengganggu dan kekanak-kanakan. Ibunya juga pasti tidak suka denganku.
Ingatan Hazel mulai terbuka sedikit demi sedikit. Ia mengingat dahulu ketika ia sering bermain di rumah Pandji, ibunya selalu melarang mereka bermain terlalu lama. Ibunya tidak suka pada anak yang hanya suka bermain seperti dirinya.
Kalau di pikir-pikir hari itu dia sempat berbicara aneh. Mengenai hilang ingatan. Apa ya yang dia coba bilang hari itu?
Hazel mencoba mengingat pelan-pelan saat pertama kali mereka bertemu di tepi pantai, saat Pandji berteriak padanya.
Apa lebih baik aku tanya saja ya? Hazel merasa ragu tapi hatinya tak terbendung dengan rasa penasaran. Ah tidak-tidak. Tidak usah terburu-buru atau dia akan besar kepala. lebih baik tunggu saja seminggu lagi, atau lupakan saja. Lebih baik aku memikirkan cara untuk mengembalikan hubunganku dengan Nadya. Sebelum paman tahu kami saling diam.
Hazel merasa tidak enak jika pamannya tahu mereka tidak akur. Mau peduli apapun, posisinya tidak akan sama dengan Nadya, anaknya. Hazel selalu dengan perasaan sadar diri yang kadang menjadi bumerang baginya. Ia merasa berhutang banyak dengan Paman dan Bibi juga Nadya yang sejak awal memposisikan mereka menjadi keluarganya.