Hazel telah memulai kelas di minggu pertamanya, jadwal yang ia ambil setiap hari senin sampai dengan kamis dari pagi hingga siang hari. Ia akan menyempatkan diri ke restoran dari siang sampai petang, dan akan pulang lebih dahulu untuk mengerjakan tugas yang telah diberikan dari kelasnya.
Meski begitu sibuk, Hazel masih sempat dengan kegiatannya sehari-hari kecuali berselancar. Sudah hampir sebulan ia tidak membawa keluar papan selancarnya dan hanya mendirikannya di pojok kamar. Meski ia tidak ada kelas di hari Jumat dan akhir pekan, Hazel lebih memilih memanfaatkan waktunya untuk bekerja penuh di restoran, atau ketika di rumah ia lebih memilih istirahat dan membaca buku atau mengerjakan soal yang tidak dapat diselesaikan di kelas.
Beberapa hari ini Hazel sering tertidur di kamar mendiang orang tuannya. Itu karena ia sering tertidur ketika membaca buku-buku di rak kamarnya. Entah sejak kapan ia menjadi ketagihan membaca buku yang terjejer rapi di rak mendiang ibunya, beberapa ialah buku-buku perguruan tinggi milik ibunya.
Saat Hazel menyelesaikan bacaannya yang lainya dan ingin mengembalikan kembali ke rak, ia tidak sengaja membaca buku yang bertuliskan ‘Diary’ yang terselip di antara novel novel koleksi mendiang ibunya.
Hazel berfikir, haruskah ia membacanya. Mungkin saja ada sesuatu yang dapat ia ketahui. Atau malah yang lebih baik, ia bisa mengingat insiden hari itu, insiden yang di ucapkan Pandji dan yang lainnya yang samar di ingatannya.
Tangannya ingin meraih, tapi kemudian suara ponselnya berdering, membuat ia mengurungkan niatnya untuk membaca.
Ia akan membaca lain kali. Atau mungkin tidak akan pernah. Ia akan merasa bersalah menjadi tidak sopan bahkan ketika mereka sudah tiada. Cukup ia menjadi anak yang nakal di masa lalu. Kali ini ia tidak ingin mengecewakan mereka.
Ponselnya terus berdering, Nadya menelpon dirinya tiba-tiba. Hazel menjadi gugup mengingat hubungannya yang renggang. Ia tidak tahu apa yang akan ia ucapkan padanya. Pada akhirnya ia harus menjawab panggilan itu. Namun Hazel membeku untuk beberapa saat sampai Nadya memanggilnya beberapa kali. Hazel menyadari Nadya tampak lebih baik dari sebelumnya.
Apa dia ingin meminta maaf atau hubungan kita sebenarnya tidak terjadi apa-apa dan aku hanya menjadi berlebihan.
“Hazel!” Sahut Nadya ketiga kalinya.
“Ah maaf. Ada apa Nad?” balasnya. Nadya sudah berada di depan rumahnya bersama Sofia.
“A-apa? Eh tunggu. Kenapa tidak mengabari sebelumnya kalau ia datang hari ini. Dan kenapa datang malam-malam begini?” Hazel berlari menuruni tangga untuk membukakan pintu tergesa-gesa.
“Ah maaf lama.” Ucap Hazel membukakan pintu. Di depannya tidak hanya Nadya dan Sofia. Tetapi dua orang lelaki. Yang satu sedang membawa banyak cemilan dan yang satu memasang wajah sumringah. Ekspresi wajah yang Hazel tidak suka.
“Eh?” Hazel tercengang.
Apa maksudnya ini. Kenapa ada Pandji juga? Dan lagi-lagi tidak ada yang memberitahuku.
Hazel melempar tatapan serius ke arah Nadya. Hendra menepuk pundak Hazel dan menenangkan sebelum amarahnya menyembur. Ia melakukan ini bukan sebagai tunangan Nadya. Tapi sebagai teman lama Hazel.
“Lebih baik kita masuk dulu kan?” ucapnya mencairkan suasana.
“T-tapi kenapa? Setidaknya beri tahu aku. Apa sesusah itu memberitahuku dulu? Kau dan kau, kau juga Nad'' ia menunjuk ke arah Pandji dengan kesal, lalu mengarahkan pandangannya kepada Sofia yang hanya diam, melihatnya begitu ia tidak ingin meneruskannya. Terakhir ia menunjuk ke Nadya dengan perasaan jengkel untuk beberapa detik, kemudian memeluknya erat.
“Nad. Kau selalu merencanakan hal aneh. Sesuai keinginanmu. aku tidak pernah menolak kalau itu bukan rencana aneh yang fatal,” Hazel melepas pelukannya, terlihat wajah Nadya memerah sendu, “Tapi menyembunyikan sesuatu- tidak maksudku kau kenapa tidak memberitahuku dan mengirimku pesan selama ini. Padahal kau juga yang memberitahu paman.”
Sofia yang melihat hubungan mereka tersenyum, ia merasa lega lagi.
“Ayo.” Hazel mengulurkan tangannya ke arah Sofia. Ia mengajak mereka berpelukan bertiga. “Kitakan saudara.”
“Ayo mulai sekarang perlahan kita untuk saling membuka diri,” Ajak Nayda ia menitikkan air mata. Sofia hanya mengangguk senang dan menerima ajakannya.
Kupikir aku cukup senang hanya dengan dianggap menjadi teman. Tapi aku tidak menyangka, lebih dari itu mereka menganggapku saudara. Padahal aku dan Nadya tidak begitu dekat. Dan Hazel, kami tidak memiliki hubungan darah.
“Ehem. Apa berarti masalahnya sudah kelar ya?” ucapnya sedikit canggung membuat mereka tertawa geli. Mereka bertiga sampai lupa ada dua lelaki yang sedang bersamanya.
“Tapi kenapa kau juga ikut? Ini kan seperti reuni keluarga. Dan kau bukan keluargaku,” celetuk ketus Hazel lalu berlalu ia berjalan ke sofa memberi isyarat mereka untuk duduk di manapun senyaman mereka.
“Ah maaf Hazy. Maaf baru mengabarimu sekarang. Kau pasti merindukan aku yang tanpa kabar 3 minggu ini ya.” Ia tertawa sambil menggaruk kepalanya.
“Tidak. Bukan. Maksudku kenapa kau di sini dan bersama mereka?” Hazel memasang wajah datar. Ia sudah tahu orang ini tidak bisa mengerti bahasa manusia.
“Karena katanya mereka akan merayakan kau yang mulai bersekolah lagi.” Pandji tersenyum manis. Entah bagaimana senyumannya kali ini membuat Hazel tersipu. Ia membuang muka dan menggerutu.
“Setidaknya jika mau kesini kabari dari jauh hari. aku ingin istirahat tahu. Besok kan aku harus bekerja.” Hazel mengatakannya sambil mencari remot kontrol untuk mengalihkan pandangannya ke arah Pandji. “Dan, kau bilang tidak jadi kesini Sof,” sambung Hazel yang kini ikut bersama dengan Nadya dan Hendra yang memilih duduk di meja makan dan membuka satu persatu camilan yang mereka bawa.
Pandji baru saja ingin duduk di samping Hazel, tapi gadis itu malah berdiri dan meninggalkan dirinya sendiri. Meski begitu ia tetap akan mengikutinya.
Kenapa orang ini mengikutiku. Sudah menghilang tanpa bicara apa-apa dan sekarang ingin lengket dengan tidak jelas lagi seperti sebelumnya. Bikin kesal saja. Gertuu Hazel dalam hati.
“Ah maaf Hazy-” Sofia merasa bersalah, “Maksudku Haz-”
“Tidak apa. Lanjutkan saja, kau ini terlalu sering tidak enakan,” Celetuk Hazel.
“Eh?” Sofia merasa lebih tenang. Ia merasa tidak perlu mencemaskan hal itu lagi. Sebab ia benar-benar sudah seperti saudara di mata Hazel.
Hendra dan Pandji hanya tersenyum dengan keharmonisan mereka bertiga.
“AH tapi aku masih kesal dengan kalian yang datang tidak membicarakan ini denganku! Dan kalian membawa makanan di jam tidur ini membuatku tambah kesal!” gertaknya lalu merebut sekantung chiki besar di tangan Nadya.