Aku Benci Laut

1020 Kata
Sekumpulan anak muda, mereka tertawa bersama membuat suasana di rumah Hazel yang biasanya sunyi dan sepi kini menjadi renyah, enggan untuk memberhentikan waktu di antara mawar agar terus berlanjut menghabiskan waktu malam bercerita bersama. Waktu telah menunjukan pukul 23.30 tapi mereka masih dengan semangat bercerita dan saling membalas tawa. “Sepertinya seru kalau kita berkemping bersama. Di gunung atau ke pulau seberang,” celetuk Hendra saat mereka asyik bercerita tentang bagaimana Hazel bersekolah di hari pertama, kemudian Nadya menyinggung hubungan Hazel dan Pandji yang semakin dekat. “Wah aku belum pernah keluar dari pulau ini,” Hazel mengucapkan sambil mengunyah chiki yang ia peluk sedari tadi. Ia tidak peduli dengan singgungan Nadya atau Pandji yang terus memperhatikan dirinya. Mereka menikmati detik tiap detik bercengkrama, bahkan televisi yang tadinya hidup harus Hazel matikan karena mengganggu percakapan mereka. Dan tentu saja untuk menghemat penggunaan listrik. “Apa kau punya tempat yang ingin kau kunjungi?” tanya Pandji, ia sedari tadi menopang kepalanya dengan satu tangan dan terus menatap Hazel yang bercerita dan terus mengunyah chiki membuatnya terlihat sangat lucu di matanya. Seperti kelinci yang terus menggerakan mulutnya tak henti-hent. Mereka ikut penasaran dengan jawaban dari Hazel. “Aku juga belum pernah keluar pulau selain Kepulauan Riau dan Provinsi Riau.” Sofia menyambung tiba-tiba. “Nah kau punya tempat yang ingin kau kunjungi?” Hazel melempar pertanyaan yang seharusnya untuk dirinya. Ia masih asik mengunyah makananya. Meski begitu nampak tidak sopan dengan menekuk lutut di atas kursi dan makan saat berbicara, Hazel selalu berhenti memasukan makanan di mulutnya saat ia sedang atau akan berbicara. “Tidak juga. Kalian bagaimana?” Sofia melempar pertanyaan kepada mereka semua. Hendra nampak kelelahan dan mengantuk. Hanya Hazel yang masih energik dan terus mengunyah, Nadya sendiri sudah berhenti mengunyah sejak setengah jam lalu. Sofia dan Pandji tidaklah berlebihan Hazel, mereka berdua adalah orang yang bisa menjaga image. “Nad,” Panggil Hazel membuautu isyarat menunjuk ke arah Hendra yang terkantuk-kantuk, ia kesusahan menompang kepalanya yang setengah tak sadar diri dengan satu tangan. “Eh apa aku lupa bilang? Kalau kami akan menginap malam ini di rumahmu.” Nadya mengatakan sekenaknya tiba-tiba. “Apa?!” Hazel setengah berteriak membuat Hendra kaget dan matanya terbuka lebar. “Apa aku melewatkan sesuatu?” tanyanya sambil menguap. “Aku jadi mengantuk. Maaf ya,” ucapnya pada semua orang. Hazel melihat sekelilingnya, Pandji nampak tenang sejak 10 menit lalu, ia melipat tangannya dan menunduk, ia tertidur. Dan Sofia juga mulai mengantuk namun ia mencoba menahannya. Hazel yang melihat mereka semua nampak kelelahan dan tidak mungkin ia usir keluar, ia merasa tidak enak hati dan mau tidak mau ia mengizinkan mereka untuk tidur di rumahnya. Nadya sialan! Dia tau aku akan menolak ini sejak awal. Jadi dia tidak memberitahuku sejak awal sampai mereka kelelahan dan mempermainkan emosionalku. Hazel mencoba membangunkan Pandji perlahan yang duduk di sampingnya, ia bersandar di kursi dengan melipat tangan dan menunduk. Tiba-tiba tubuhnya jatuh ke arah d**a Hazel. “Hoi!” Hazel memukul pipinya sekali setelah ia tidak berhasil menggoyang-goyang tubuh Pandji untuk bangun sadarkan diri. Pandji hanya terkejut dan tak bergeming, ia masih mencerna apa yang terjadi. Sesekali ia menguap. Hazel menuntun Hendra dan Pandji untuk ikut dengannya ke kamar tamu. Sebelum Hazel membiarkan mereka membaringkan diri mereka, Hazel memasang sprei dengan segera dan ala kadarnya. Ah sudahlah. Toh cuma semalam. Hazel menatap mereka berdua yang tertidur pulas dengan raut jengkel. “Nad! Lagi-lagi!” Hazel setengah berteriak menuruni anak tangga yang mendapati Sofia juga mulai tumbang. Nadya hanya tertawa kecil, ia mencoba membangunkan Sofia dan memapahnya. “Maaf, maaf. Tapi lebih baik begini, kau sendiri pasti ga ngizinin kami menginap. Jadi aku suruh aja mereka diam sampai mengantuk” “Jadi mereka juga sebenarnya merencanakan ini?!” Hazel masih setengah berteriak, meski ia menahan suaranya. Masih ada rasa jengkel dengan kebiasaan Nadya yang selalu melakukan hal yang tidak perlu. “Ah sudahlah aku terlalu capek untuk marah. Kau dan Sofia tidurlah di kamarku.” Perintahnya segera, mengayunkan tangan seperti mengusir agar Nadya segera naik, sebab Hazel melihat Sofia yang tidak nyaman dengan setengah tak sadar. “Terus kau?” tanyanya heran “Aku akan tidur di sofa.” Ucapnya ketus. “tidak usah perdulikan aku, toh sejak awal kau suka mengabaikan perasaanku kan.” Sindirnya. Nadya hanya tertawa kecil. “Maaf-maaf.” “Dasar aneh. Kau sekarang sering meminta maaf ya. Turunlah ke bawah kalau kau belum mengantuk.” Ucap Hazel dengan nada perintah dan bukan nya dengan nada ajakan. “Cih, ternyata kau masih saja tidak bisa jujur kalau kau kangen aku,” Ketus Nadya berlalu memapah Sofia yang setengah sadar di bahunya. Dasar! Kau sendiri juga tidak pernah jujur padaku kalau kau begitu pedulinya * Untuk alasan pekerjaan, Arnesh kembali ke Negara di mana ia lahir dan tumbuh besar dengan masa lalu yang kelam. Setelah pekerjaannya selesai, ia menyempatkan diri mengunjungi pinggiran Australia, Pantai Byron Bay, tempat di mana ia dan ibunya di singkirkan dari keluarga besar Benjamin – lebih tepatnya tempat pengasingan untuk istri tidak sah Benjamin yang tengah mengandung anak yang bisa lahir di mana saja. Tapi ibunya bukanlah orang Australia. Ia adalah wanita Asia. Pantainya masih sama indahnya seperti sebelumnya. Arnesh termenung, sesekali ia menyeringai setelah menatap jauh ke arah laut dengan ombak yang besar. Di siang hari, di hari kerja, pantai ini tidak terlalu padat. Namun masih dapat melihat beberapa peselancar yang menguji nyalinya Ini baru pantai yang bagus untuk berselancar, dasar gadis aneh. Arnesh menutup wajahnya dengan satu tangan. Dia tertawa dikala termenung, Sekarang aku yang merasa aneh, aku kembali ke tanah kelahiranku tapi yang aku pikirkan malah gadis aneh yang sombong itu. Untuk alasan tertentu sudah sejak lama ia ingin kembali ke tempat ini, mungkin sekedar untuk mengenang masa lalu. Tapi untuk alasan tertentu juga ia ingin segera pergi mengubur semua ingatan kelam itu jauh di dasar laut. Aku benci laut. Akan selalu begitu. Arnesh membuang muka, ia segera beranjak pergi dari tempat ia berdiri. Supirnya telah menunggu tidak jauh darinya. Lelaki dengan setelan hitam yang rapi, memiliki postur tegap terlatih berdiri sigap di samping mobil mewah hitam, ia yang siap sedia kapan saja untuk membuka pintu untuk Arnesh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN