Nadya langsung duduk di samping Hazel yang fokusnya hanya kepada acara tv yang bahkan tidak ia sukai.
“Aku harus bilang apa ya?” Hazel mencoba membuka suara.
“Maaf dan terima kasih?” Jawabnya, ia juga ikut memandangi acara tv yang tidak menarik itu. Mereka seolah ingin berbicara dari hati ke hati dan membiarkan telinga mereka tidak saling mendengarkan satu sama lain.
“Bukannya Maaf itu seharusnya kau?” Sindir Hazel. Mereka tertawa sesekali dengan riang dan ringan. “Haaaah..” Hazel menghela nafas dan tertunduk di antara lututnya yang ia lihat di antara dadanya.
“Kenapa kau terdengar seperti orang tua. Spill the tea!” ucapnya sok keren. Nadya baru-baru ini belajar idiom bahasa Inggris.
Hazel hanya tertawa. “Kau kenapa? Tiba-tiba begitu.”
“Aku – tidak maksudku kami berencana akan pindah ke kota. Hendra akan bekerja sebagai supir di sebuah agensi tour. Aku juga ingin bekerja di bidang itu, makanya sedang memperbanyak kosa kata dan slang ataupun idiom.”
Hazel yang mendengar hal itu menatap dalam mata Nadya, ia tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Kau pasti memikirkan itu ya. Yah itu juga yang membuatku ragu. Dan bingung tentunya.”
“Jangan bilang ini acara perpisahan kita? Dan kau juga membawa Hendra. Seberapa banyak lagi yang kau masih tutup-tutupi.” Ucap Hazel yang kini menjatuhkan dagunya di antara lututnya. Nadya mengikuti posisinya yang sama. Ternyata posisi itu sangat nyaman untuk mereka melanjutkan cerita, tapi tidak bagus untuk punggung mereka.
“Jangan bodoh! Malam ini jelas-jelas yang lain sangat antusias mendengar cerita hari minggu pertama sekolahmu.”
Hazel menghela nafas. Ia sedikit bingung. Sejak pertemuannya dengan langit, ia merasa banyak yang terjadi padanya. Ia tidak tahu nama lelaki itu, ia melabelinya dengan sebutan langit. Karena saat itu ia berada di bawah dan ia sedang di atas bibir pantai. Mereka seperti sang laut dan langit. Dan tidak mungkin langit dan laut bersatu.
“Berhenti menghela nafas,” gerutunya membuyarkan lamunan Hazel mengenai lelaki itu. Meski tadi ia sempat tersipu karena Pandji entah mengapa terkadang hatinya sempat berdegup kencang jika memikirkan lelaki yang misterius itu.
“Kau ini memikirkan apa?!”
“Ah apa?” Hazel terus-terusan melamun. “Maaf Nad. Hanya saja aku tidak menyangka, hidupku yang dulunya membosankan kini seperti berwarna lagi.”
“Hah? Membosankan? Kau terus main ke laut dan kau bilang masih membosankan. Di mataku yang normal, itu memang membuang-buang waktu. Tapi kau punya banyak kegiatan dan kau masih bilang membosankan?”
Nadya tidak habis pikir dengan saudaranya ini. Jika ia bilang hidupnya membosankan. Bagaimana dengan dirinya yang hanya melakukan hal yang tidak pernah berbeda sejak dahulu. Nadya ingin sekali mengejar cita-citanya sama seperti Hazel.
“Ia membosankan. Aku melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun. Aku tidak mendengarkan kata hatiku. Aku memendam semua keinginanku. Aku ingin menebus semua dosa dengan cara hanya menjadi diam dan begitu saja,” Hazel menjelaskan dengan sendu. Sesekali ia juga menjadi Hazel yang tidak hanya mengeluarkan mimik sedang jengkel. “Sekarang aku punya tujuan baru. Sekolah, restoran, aku ingin menjadi pintar. Mungkin dengan begitu aku bisa di terima di suatu keluarga.”
“A-Apa. Maksudmu apa dengan keluarga?” Nadya berpikir keras mencerna perkataan Hazel.
Apa yang coba ia maksud adalah, ia ingin menikahi seseorang. Keluarga maksudnya keluarga dari mertua kan.
“Diam-diam saja ya. Maksudku Pandji,” sambung Hazel.
Apa?! Jadi beneran dia suka anak itu?! Sepanjang waktu dia hanya memasang wajah jengkel dan sekarang dia bilang dia suka teman lamanya.
Nadya hanya memasang wajah kaget dan mulut sedikit terbuka, ia tidak bergeming dan hanya menebak-nebak dari dalam hati.
“Kenapa kau memasang wajah begitu? Kau berpikiran aneh ya?” Hazel menoyor kepala Nadya. “Awas kalau kau menyebar rumor aneh! Maksudku aku sedikit mengingat masa lalu. Ingatanku sedikit demi sedikit muncul kadang itu muncul secara tiba-tiba,” Jelas Hazel membuat Nadya langsung mengubah mimimk wajahnya.
“Jika begini terus mungkin ingatanku sepenuhnya akan kembali, dan kami bisa berteman sebaik dulu.”
Mendengar hal itu Nadya kini merasa bersalah, ia belum memberitahukan insiden hari itu. Insiden yang pernah diceritakan Tante Rachel, ibu Hazel. Insiden di mana Hazel sempat membuat Pandji pindah sekolah dan orang tua Pandji sempat berkonflik dengan Paman Aden dan Tante Rachel. Meski begitu kasus itu bukan sepenuhnya kesalahan Hazel yang dibuktikan melalui cctv namun sejak hari itu orang tua Pandji tidak mempercayai keluarga Hazel. Mereka tidak dapat melapor kepada polisi karena bukti cctv tapi kebencian kedua orang tua Pandji pasti masih melekat pada Hazel mendiang kedua orang tuanya.
“Kenapa kau termenung begitu?” tanya Hazel memecah kesunyian di antara mereka dan sedikit mengagetkan Nadya. “Itu seperti ekspresi kau menyembunyikan sesuatu yang lain” Celetuk Hazel tiba-tiba. Meski Hazel tidak menganggapnya seperti dugaannya. Tapi Nadya merasa keringat dingin, ia bingung harus menjawab apa.
“AKu memang menyembunyikan sesuatu. Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana memberitahukan. Ini sulit” lirih Nadya dengan nada sendu. Membuat Hazel juga ikut murung. Ia merasa tidak bisa memaksakan Nadya yang sudah murung begitu. Tapi satu sisi ia penasaran setengah mati apa yang dimaksudnya.
“Kalian masih belum tidur?” Suara Pandji dari arah anak tangga memecah kecanggungan di antara mereka. “Ah maaf apa aku mengganggu kalian? Aku hanya ingin ke toilet. Di mana ya Zy?” tanyanya sekali lagi tapi tidak mendapatkan respon. Pandji menyadari mereka berdua sedang mengalami sesuatu. Sekali lagi.
“Di atas ada, tak jauh dari kamarmu. kau jalan terus dan di ujung sudut yang mau ke balkon. Tapi karena kau sudah di bawah. Kau bisa menggunakan yang di dekat dapur.” Hazel menjelaskan sambil berdiri dan mengarahkan dengan tunjukan. “Aku mau tidur dulu. Besok aku harus bekerja. Besok pasti ramai.” Hazel pura-pura menguap untuk membuat atmosfer di antara amerika tidak membeku dan canggung.
Nadya juga ikut berdiri setelah ia mematikan televisi di depannya dengan wajah murung. Ia tanpa sepatah katapun dan meninggalkan pandji dengan ekspresi yang masih bingung. Ia segera pergi mengurus halnya.
Sepertinya terjadi sesuatu di antara mereka. Padahal tadi semuanya baik-baik saja. Pandji merenung, ia sedikit prihatin dengan dua bersaudara itu. Meski begitu Pandji sendiri sempat mendengar setengah percakapan mereka. Meski ia tidak begitu mengerti apa yang mereka bicarakan, entah mengapa ia yakin itu ada hubungannya dengan pertemanan mereka.