Kedatangan Tamu 

1009 Kata
Hazel bangun lebih awal untuk menghindari siapapun yang telah tidur di rumahnya. Untuk pertama kalinya ia membiarkan orang lain tidur selain Nadya dan Ibunya. Tapi ia akan merasa canggung jika harus berpapasan dengan Nadya, itulah mengapa ia ingin segera bangun dan pergi ke restoran. “Zy,” Suara seorang lelaki yang tidak asing memanggilnya dibalik punggung saat ia hendak keluar. Hazel sedikit terkejut karena namanya tiba-tiba dipanggil. Tapi ia tidak terkejut itu adalah Pandji, ia tahu anak yang rajin sejak sekolah pasti juga bangun sangat pagi. Begitupun suara langkah kaki yang perlahan turun dari anak tangga. Pandji menoleh ke arah anak tangga di mana Sofia baru turun. “Ah kalian sudah bangun,” Hazel menyapa Pandji di belakang punggungnya dan juga Sofia yang sebentar lagi akan datang. “Kau akan pergi bekerja ya?” tanyanya penasaran saat ia baru keluar dari toilet dapur. “Kenapa kau masih menggunakan toilet dapur?” tanya Hazel penasaran, “Apa toilet di atas sedang rusak?” Sofia datang dengan wajah segar sehabis mencuci muka, “Ada apa?” tanyanya penasaran dengan obrolan Hazel dan Pandji di ruang Tv yang juga sekarang menjadi ruang makan. “Ah tidak ada. Aku harus berangkat kerja. Ini akhir pekan kau tahu. Banyak yang harus dipersiapkan sebelum buka. Kalian mampirlah ke resto nanti,” Hazel segera keluar sebelum yang lainnya juga bangun. Sofia canggung di depan Pandji, “Padahal ini masih sangat pagi,” celetuk Pandji. Sofia tidak begitu mengerti jam biasanya Hazel bekerja. Ia memilih kembali ke kamar karena hanya Nadya sekarang di mana ia bisa bersembunyi di baliknya. “Ah Sof,” Panggil Pandji. Sofia menoleh tak menjawab karena sikapnya yang canggung, dan itu bisa di pahami Pandji juga Hendra meski mereka baru beberapa kali bertemu. “Itu, Hendra sudah pulang duluan, tolong sampaikan kepada Nadya ya. Dan aku juga akan pergi dahulu setelah membersihkan ini.” Pandji menuju meja makan yang ditinggal dengan berantakan oleh mereka tadi malam. “A-apa kau ingin aku membantu,” tanyanya ragu tapi ia sungguh ingin membantunya. “Um… tidak perlu Sof. Toh ini semua kebanyakan hasil dari kami,” ucapnya mengingat Sofia tidak banyak makan tadi malam. “Aku hanya prihatin pada Hazel jika dia pulang nanti harus membersihkan dahulu. Dia pasti lelah,” sambungnya dengan senyum simpul. Ia berharap Hazel memujinya karena ia telah membantunya membersihkan rumahnya meski sedikit. Sofia hanya mengangguk dan kembali ke kamar Hazel. Sofia memikirkan dalam-dalam perkataan Pandji yang sedikit menyinggungnya. Saat Pandji mengatakan ia prihatin kepada Hazel, seolah hanya dirinya yang perhatian pada Hazel. Aku berniat membantu juga karena prihatin dengan Hazel yang membagi waktu pekerjaan dan sekolahnya. Tapi untuk apa aku kesal? Sofia duduk di sofa yang berada di depan jendela kamar Hazel, di samping sofa itu berdiri dua papan selancar yang satu berwarna biru dan yang satu perpaduan biru tua dan biru laut. Mereka berdiri sangat cantik, yang satu terlihat lebih pendek dari yang satunya. Sofia hanya memandangi mereka dan menerka-nerka. Juga membayangkan Hazel di atas laut sedang bermain dengan papannya. Sama seperti hari itu. Setelah lamunannya habis ia hanya menghabiskan waktunya menunggu Nadya bangun dengan bosan sampai ia terlelap lagi. Pandji yang telah membersihkan sisa sampah dan mengeluarkanya, ia berencana keluar dulu dan ke restoran Hazel sebelum akhirnya pulang. Ia tidak dapat berlama-lama karena punya janji dengan ibunya siang ini. Dan ketika sudah berjanji, ia tidak bisa membatalkan begitu saja. Meski itu urusan yang sangat simpel dan tidak penting. Nadya yang sudah bangun sedikit menggerutu karena hanya dirinya yang hanya terlambat bangun, dan merasa kesal karena Hendra pergi dahulu begitupun Pandji. “Padahal ini akhir pekan, tapi semua orang sibuk masing-masing. Mereka kerja seperti robot tiada berhentinya… dan lain-lain” Nadya terus saja mengoceh sembari berjalan beriringan dengan Sofia. Ia tidak merasa kasihan pada Sofia yang sedari tadi memaksakan diri mendengarkan ocehan Nadya dan mengangguk-angguk saat Nadya memberi isyarat untuk mengiyakan. Sofia sesekali tertawa canggung. Ia mengingatkan Nadya untuk segera pulang dan membantu ibunya, mereka harus menyiapkan makan siang yang sebentar lagi datang. Ayah Nadya meskipun seorang koki, sesekali ia ingin makan masakan istrinya, itulah mengapa kadang Nadya mengantar makanan ke restoran. Ditambah kondisi ibu Nadya yang tidak memungkinkan melakukan pekerjaan sendiri. Ia butuh Nadya di sampingnya, itu juga yang membuat Nadya memendam dalam-dalam keinginan terbesarnya. Tapi ia anak yang tangguh dan terus bertahan menjadi putri yang berbakti. “Setelah mengantar makan siang nanti, ayo kita ke salon.” Ajak Nadya, “Eh? Kau mau potong rambut?” tanya Sofia penasaran. “Iya nih, cumam mau rapiin aja sih. Kau mau perawatan juga?” ajaknya menggoda Sofia. Ia biasa melakukan perawatan sendiri sebab ia pemalu jika membiarkan orang lain menyentuhnya. “Ah tidak usah aku nanti saja. Tapi nanti aku temani,” Sofia tersenyum. Sofia adalah tipe saudari yang diinginkan semua orang. Ia penurut dan tidak banyak menuntut. Nadya senang punya sepupu sepertinya, tapi kadang ia tidak seseru Hazel yang sering menentang arus. Hari ini, restoran berjalan dengan lancar, sama seperti akhir pekan biasanya, ramai dan riuh dari pengunjung. Pantai juga menjadi sangat padat terutama di siang hari. Mungkin hari ini Hazel juga akan menerima pesan antar, ia sedikit berharap orang itu adalah orang yang sama dengan yang ia antarkan di penginapan mengampung paman Noah. Hazel tidak tahu kalau itu tidak akan mungkin. Di saat keramaian yang cukup membuat Hazel sangat sibuk sampai tidak semua meja dapat dijangkau, ia jadi dibantu bibi kasir untuk mengantar di beberapa meja. Sampai beberapa saat Hazel juga bolak balik dari dapur ke ruang makan. Hingga pukul 15 restoran baru terasa lenggang dari sebelumnya, Paman memilih duduk dan beristirahat di salah satu meja makan pengunjung yang telah mereka bersihkan, Hazel pun ikut duduk di sana, lalu seorang yang amat tinggi menghampiri mereka. Hazel tidak menyadari sampai bayangannya pria tinggi itu menutupinya. Hazel terperanjat dan langsung memeluknya tanpa basa basi, “Paman!” panggil Hazel tidak percaya. “Eh? Aku tidak menyangka kau akan histeris setelah melihatku,” Ia adalah Paman Ahamd, teman dekat ayahnya, yang dahulu mengajarinya menyelam dan berenang. Ia juga yang memberikan Hazel papan selancar pertama. Yang sampai saat ini masih ia simpan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN