Tamu Spesial I

1018 Kata
“Ah maaf aku baru datang lagi setelah sekian lama. Kau sudah besar ya” ucapnya sambil mengelus kepala Hazel yang terlihat pendek di mata Paman meski tingginya mencapai 5.4 ft. Hazel merasa senang dengan kedatangan Paman Amir, begitupun paman Amir yang merasa bersyukur memiliki kesempatan bertemu keponakan kesayangannya. Paman Zali, Ayah Nadya juga menyambut kedatangan paman Amir dengan hangat. Berkali-kali Paman Amir berterima kasih dengan Paman Zali. “Aku sudah datang sejak sejam lalu tapi melihat resto kalian ramai sekali aku sampai tidak tega memanggil Hazel,” jelasnya di barengi tawa. Paman Amir memiliki sifat yang hampir mirip dengan ayah Hazel, seorang yang mudah tersenyum dan tertawa. Hazel yang merasa canggung setelah sekian lama hanya mengikuti irama candaan yang dibawa paman Amir. “Apa paman mau kopi?” tawar Hazel, “Bagaimana dengan pekerjaan paman?” sambungnya dengan pertanyaan selagi ia sudah berdiri dan bersiap ke dapur. “Ah tidak usah,” ia tersenyum, “Aku tadi sudah minum kopi. Itu kopi yang enak. Pasti buatanmu ya.” Paman menebak dengan akurat. Memang benar, tugas membuat minuman adalah tugas wajib Hazel, ia yang mendengar itu hanya tersipu. “Kalau gitu aku ambilkan camilan,” ucapnya. “Eh tunggu-tunggu,” Tahan paman Zali. “Kamu disini saja, biar paman, sekalian ada yang mau di kerjakan di dapur. Kamu ngobrol aja sama pamanmu. Sudah lama kan tidak bertemu.” Paman Zali sadar Hazel tampak lebih sumringah ketika kedatangan tamu spesialnya. Meski telah ditinggal selama 6 tahun karena pekerjaan paman Amir yang mengharuskan menetap di kapal selama 6 bulan sampai setahun. Paman adalah koki di kapal pesiar, karena suatu alasan ia terus-menerus memperbarui kontrak selama 6 tahun. “Iya duduklah dulu, lihat peluhmu itu. Jadi kau sekarang sudah menjadi koki ya? Jadi mengingatkanku pada dia.” Paman Amir mengingat bagaimana dulu ia dan Aden yang sama-sama koki kapal pesiar, tapi Aden yang memiliki temperamen yang berbeda darinya membuat ia harus berhenti lebih cepat dan menetap di pulau ini. “Um, tapi lebih baik kita tidak membicarakan ya?” Paman Amir membaca raut wajah Hazel dengan seksama. Ia takut keponakannya merasa tidak nyaman atau bersedih. “Maksud paman Ayah? Apa Ayah dulu juga koki di kapal pesiar?” tanyanya penasaran ia mengabaikan pertanyaan kedua. Ia tidak tahu banyak tentang ayahnya semasa muda, tentu saja ia penasaran jika yang menyinggungnya adalah orang yang sangat dekat dengan mendiang Ayahnya. “Apa paman khawatir tentang trauma ku ya? Aku sudah bisa mengatasinya kok.” Paman Zali datang dengan camilan dan dua gelas teh hangat, ia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya dan memberikan mereka privasi. Dari ujung sana, bibi kasir menatap sinis Hazel yang di matanya hanya bersantai-santai ketika restoran kini kedatangan pelanggan lagi. “Tolong nanti bantu aku mengantar beberapa pesanan ya. Hazel sedang berbicara dengan pamannya yang sudah lama tidak ia jumpai.” Paman memberitahu bibi kasir ketika melewatinya. Ia paham dengan ketidaksukaan bibi kasir terhadap Hazel, ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali mengontrol ketidakstabilan di antara mereka. Tentu saja jika ketidaksukaan itu ditunjukan secara berlebihan, paman akan bertindak di sisi Hazel. Melindungi dan membelanya mungkin termasuk dari bagian membayar jasa Aden. “Aden memang tidak memberitahukan ya? Kalau dulu dia sempat jadi koki di kapal pesiar,” ucap paman Amir sambil menyantap camilan yang disediakan Paman Zali tanpa aba-aba. Terlihat dari badannya yang bongsor, ia penyuka makanan manis. “Um ini enak, kek pisangnya bukan buatan dari sini ya?” tanya ketika mulutnya sedang penuh dengan dua suapan. “Bukan itu dibuat oleh ibunya Nadya,” “Nadya?” paman heran, nama yang familiar tapi ia lupa. “Iya, Nadya anak tunggal paman Zali, kakakku.” Paman tersenyum mendengar Hazel menyebutnya kakak, “Sambung yang Tadi paman. Apa serunya menjadi koki di atas kapal dan tidak turun melihat daratan.” Hazel memasang wajah serius dan keingintahuan. Ia sebenarnya sedikit kesal kepada paman yang tidak pernah mengunjunginya selama 8 tahun dan terakhir kali menelponnya setahun setelah kematian mendiang orang tuanya. “Iya-iya tapi yang penting kau sehat-sehat saja kan?” tanyanya. Hazel cemberut seketika, ia tahu pamannya sengaja mengalihkan pembicaraan. Hazel mulai melipat tangannya di atas meja. “Aku tau paman mengalihkan pembicaraan. Kalau tidak ingin cerita ya sudah,” Hazel membuang muka dan mengucapkannya dengan datar. Ia ingin beranjak dari duduknya tapi hatinya mengatakan jangan. Paman tertawa kecil, ia bahkan tersedak tepat setelah tertawa, tapi Hazel memasang wajah tidak peduli. “Kau ini mudah marah seperti Aden ya. Bedannya,” ia melanjutkan makan sambil tertawa menatap wajah cemberut Hazel, “Aden mudah marah dan mudah tertawa. Dan ketika aku memperhatikanmu kerja tadi, kau sama sekali tidak ada senyumnya. Atau aku bisa bilang kau sangat pelit senyum ya.” Lagi-lagi paman menyinggung soal mendiang Ayah tapi tidak ada niat sedikitpun mau memberitahukan aku segalanya. Aku tidak hanya ingin melihat dunia yang Ibuku lihat, aku juga ingin tahu rasanya hidup di dunia Ayah. “Tenang saja, pasti akan ada kesempatan aku bisa menceritakan semuanya. Jika aku langsung menceritakan semuanya di sini, nanti kita tidak punya obrolan lain di panel selanjutnya,” Paman menghabiskan semua camilan yang seharusnya untuk mereka berdua dan mulai tertawa terbahak-bahak, matanya sedikit berair. “Wah teman lama sudah pulang ya. Kebetulan sekali,” sahut dari seorang lelaki yang baru saja masuk dengan penampilan nyentrik dengan celana pendek yang kusut dan baju barong yang lebih berwarna dari sebelumnya yang Hazel lihat. Paman menoleh ke belakang, Hazel memilih berdiri ingin melanjutkan pekerjaannya. “Paman pasti sudah kenyang kan. Kalau ingin istirahat, bisa kerumah duluan,” Hazel mengambil salah satu kunci di gantungan kunci dari sakunya, kunci rumahnya untuk ia berikan satu pada paman. “Kamar tamunya mungkin agak berantakan, karena barusan teman ada yang menginap,” Hazel agak canggung memberitahukan itu tapi itu bisa menjadi alasan karena belum sempat membereskannya. “EH?” Paman Noah yang kini berdiri di samping kursi paman Amir ikut menyahut dengan paman Amir. “Eh kau mengajak teman menginap? Apa laki-laki?” tanya Paman Amir dengan nada introgasi. “Aku juga kaget dan baru dengar. Kau kan biasanya sangat pendiam dan tertutup,” sambung paman Noah ikut ambil bagian. Paman Noah dan Paman Amir menatap satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN