Tamu Spesial II

1006 Kata
Hazel merasa heran, kenapa paman Noah ikut ambil respon seolah ia perduli atau memperhatikannya. “Kau kenapa ikut-ikutan?” Paman Amir berdiri, tinggi badan mereka yang seperti mengintimidasi lainnya saling bersaing. “Ku dengar kau bahkan tidak ikut mengurus bocah ini.” Gertak Paman Amir. “Kau sendiri menyebut dirimu paman? Setelah meninggalkan bocah di bawah umur hidup sendirian- ” ia berhenti dan menatap Hazel, lalu berlalu menuju bibi kasir, ia memesan beberapa makanan dan menunggu di dekat sana seolah tidak ingin dekat-dekat dengan mereka. Paman Amir terdiam setelah mendengar perkataan Paman Noah, ia terduduk dan mengambil kunci yang Hazel berikan. “Paman? aku harus kembali bekerja.” Ada kecanggungan di antara mereka bertiga, tapi Hazel yang menerima kebingungan paling banyak. Ia tidak tahu harus bagaimana dan merespon apa setelah mendengar adu mulut Paman Amir dan Paman Noah di depan semua pelanggan di sini. Di tambah bibi kasir yang menatap sinis dari ujung kasir dan paman Zali yang mendengar mereka dan tak bergeming, meski sesekali melihat ke arah Hazel dan beberapa pelanggan yang merasa terganggu dengan perdebatan dua orang yang cukup mengintimidasi. Ia memilih menghindari mereka dahulu. Kembali ke dunianya yang sibuk di balik dinding itu. Hazel hanya melewati paman Noah yang sibuk dengan ponselnya tak bergeming, segera ia menyibukan diri membantu paman Zali menyelesaikan pesanan paman Noah dan pelanggan lainnya. “Hazel, bisa tolong urus yang ini?” pinta paman Zali pada Hazel untuk membersihkan peralatan makanan saat ia berniat ingin kembali kemeja paman Amir. Mau tidak mau, ia menurut. “Paman ingin merokok sebentar,” ucapnya. Paman mengantar pesanan paman Noah yang dibungkus, ia memberi isyarat untuk keluar bersama, paman Zali juga menepuk pundak paman Amir untuk ikut dengannya keluar. “Ayo merokok dulu,” Ajaknya, paman Amir mengikutinya setelah paman Zali dan Noah keluar lebih dulu. Paman Zali memulainya lebih dahulu, ia menawarkan Noah, tapi ditolak mentah-mentah. Paman Amir yang melihat itu juga menolaknya, ia bukannya sudah berhenti merokok. “Apa nih? Kompak berhenti merokok?” ledek Paman Zali. “Aku memang sudah lama berhenti. Dia? Mungkin hanya ingin terlihat seperti paman yang baik.” Sindirnya. Paman Amir tidak bergeming, ia langsung membuka bungkus rokok miliknya sendiri dan menikmatinya seperti ia sangat merindukannya. “Berhenti mengejekku begitu, aku ini memang bukan paman yang baik. Tapi aku datang kesini juga bukan tidak membawa kabar baik,” jelasnya sambil menikmati setiap hisapan sebatang rokok. “Kau sendiri? Aku dengar banyak hal dari seseorang. Kau tidak melakukan apa-apa. Kau hanya datang dan pergi sesuka hati,” ucapnya ditujukan kepada Noah. Paman Zali yang berada di tengah di antara mereka hanya menikmati isapan demi isapan, tidak berlangsung lama ia mematikan dan mematahkan batang rokoknya, “Aku ini masih tahap berusaha berhenti.” Suasana di antara mereka bertiga menjadi canggung dan dingin. “Tidak perlu merasa bersalah sampai menyalahkan satu sama lain. Aku ini juga pamannya, dan dia baik-baik saja selama ini. Kalian bukannya menunjukan tanda terima kasih padaku malah menunjukan sisi buruk kalian padanya.” Paman Zali menyimpan bungkus rokoknya kembali, ia melanjutkan, “Oh ia bocah itu sekarang sedang mengejar paket B. jadi jangan menambah beban pikirannya.” Ia bersiap masuk ke restoran lagi, “dan tadi apa? Salah satu atau kalian berdua memata-matanya dari jauh atau melalui orang suruhan kalian? Dasar tidak beradab!” paman berlalu meninggalkan mereka berdua yang hanya terdiam. Tidak ada balasan atau perubahan di hubungan paman Amir dan Noah. Tanpa pamit atau perpisahan, mereka meninggalkan satu sama lain. Paman Amir pulang ke rumah Hazel dan Paman Noah ke penginapannya. Amir mencerna dengan baik perkataan Zali, ia pikir yang Zali katakan benar. Tapi ia tidak sepenuhnya salah, karena yang memancing dulu ialah si Noah. Tapi satu hal yang tidak dapat dipercaya, selama ini ia tidak tahu Hazel berhenti sekolah. Tanpa sepengetahuannya dan ia tidak dapat berbuat apa-apa. Tapi satu sisi ia merasa lega, meski di umur yang sudah matang, ia mau melanjutkan mengejar paket B. Dan orang nyentrik itu, ia bertingkah seolah ia memiliki hubungan darah. Aku jauh lebih dekatnya ketimbang mereka berdua. Aku wali keduanya. Sebaliknya jika Amir tidak tahu perihal Hazel yang tidak melanjutkan sekolah setelah insiden itu, Noah tahu itu. Noah menyadari perkataannya terlalu kasar diucapkan pada seorang yang baru pulang dari pekerjaan yang melelahkan dan memakan waktu yang lama. Sebenarnya bukan itu yang tadinya ingin ia ucapkan pada Amir setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Tapi entah bagaimana itu yang keluar dari mulutnya. Ia juga merasa sangat bersalah terhadap Hazel yang melihatnya berkata yang tidak seharusnya. Mungkin ia akan meminta maaf, lain kali. Atau tidak sama sekali. Untuk apa? Dia yang memiliki hubungan hukum dan darah tapi bertingkah seenaknya. Tapi satu hal yang baru Noah ketahui, Hazel yang baru saja mendaftar paket B. Entah bagaimana berita itu membuatnya senang, ia tersenyum sepanjang jalan. Ia teringat Rachel di masa lalu, saat mereka pertama kali saling mengenal di kelas internasional universitas R. Ia pasti akan sepintar Ibunya. Hazel yang menyelesaikan pekerjaannya buru-buru ingin ke meja paman Amir, tapi yang ia dapati ialah paman Zali yang membersihkan meja tersebut. “Loh Paman Amir? Sudah pulang?” tanya Hazel ia celingak celinguk sekiranya paman Amir sedang merokok di luar. “Sudah. Terlihat lelah tadi. Mungkin mabuk perjalanan,” ucap paman agar Hazel tidak mengkhawatirkan orang itu. Tapi itu malah berakhir membuat Hazel penuh tanda tanya dengan hubungan Paman Amir dan Paman Noah. Itu pertama kali melihat mereka berdebat begitu, saat terakhir kali merayakan tahun baru, mereka tidak seperti itu. Hazel mengingat masa itu, masa yang membahagiakan, di saat ia dan orang tuanya, keluarga Nadya, Keluarga paman Amir dan paman Noah merayakan tahun baru bersama. “Berhenti mengkhawatirkan mereka. kau kan ada hal lain yang harus dikhawatirkan,” celetuk paman membuyarkan ingatan Hazel yang menumpuk yang sedang ia usahakan untuk menyambungnya jadi satu. “Dan mereka itu begitu hanya karena lama tidak berjumpa. Apa kau ingat kalau mereka itu teman dekat,” ucapan terakhir paman jelas membuat ingatan Hazel mencoba bersatu kembali dan terhubung. Paman berlalu dengan peralatan kotor di tangannya, ia tersenyum pada Hazel agar anak itu merubah raut muramnya menjadi ceria.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN