Saat pulang Hazel ke rumah Hazel merasa rumah sangat sepi sama seperti ia tinggal sendiri. Ia membawa beberapa bahan dari restoran mengingat dia tidak punya bahan makanan di rumah. Ini bisa menjadi alasan saat paman mengkhawatirkan pola makannya.
Kemana paman? apa sudah tidur ya. Tapi paman tidak mengunci pintu.
Ia sedikit khawatir dengan kebiasaan paman yang baru pulang. Jarak kamar tidur tamu dan pintu sangat jauh. Sangat berbahaya jika membiarkan pintu tidak terkunci dengan benar. Hazel pikir paman pasti sudah tidur karena rumah nampak sangat sunyi, namun saat masuk kerumah, bau harum menyeruak keluar di balik pintu. Hazel merasa curiga dan memeriksa dapur yang menjadi tujuan bau harum itu menyerbak ke seluruh ruangan.
Sepertinya paman baru saja masak ya. Apa paman tadi pergi berbelanja di sekitar sini. Seharusnya tidak perlu sampai begini. Dasar.
Hazel tersenyum mengingat ia tidak pernah makan masakan pamannya. Ketika kecil, ia datang hanya berkunjung dan bermain dengannya. Hazel merasa penasaran dengan masakan paman. ia mencicipi nya sekali
“Gimana? Enak kan?” tanya seseorang dari balik punggung Hazel tiba-tiba. “Tidak kalah enak atau bahkan lebih enak dari masakan paman Zali,” tambahnya dengan nada yakin.
Paman yang baru selesai mandi mengambil posisi duduk di meja makan, ia mengambil remot tv dan menghidupkannya. Kini rumah tidak terasa sepi lagi.
“Kupikir paman sudah tidur.” Hazel menaruh bahan-bahan yang ia bawa ke dalam kulkas. “Apa tadi belanja di sekitar sini?” tanyanya.
“Iya lah. Di kulkas tidak ada apa-apa. Kau makan apa saja selama ini?” Paman menaruh dagunya di atas kedua tangannya yang menopang. “Aku lihat di lemari itu penuh warna warni macam-macam bungkus mie. Kau setiap hari makan mie ya?” introgasi nya..
Hazel hanya tertawa, “tentu saja enggak lah. Aku selalu bawa makanan seporsi sepulang dari resto. Makan pagi dan siang kan dari sana juga. Itu hanya stok aja paman kalau sedang hujan tengah malam terus kelaparan.” Hazel berharap paman tidak banyak tanya.
Kelaparan? Apa selama ini gadis kecil ini pernah merasa kelaparan saat aku tidak ada?
“Masa sih.” Paman memasang wajah curiga, “sudah makan malam belum ini?” tanyanya masih dengan posisi duduk yang sama, tapi kini tidak menopang dagunya. “Belum nih paman. aku bawa beberapa bahan, karena kehabisan dan lupa belanja. Tadinya mau masak, tapi paman sudah masak,” jelas Hazel yang masih berdiri di dapur.
Apa Sih yang aku pikirkan jelas saja dia mungkin sangat kesusahan membagi waktu antara bekerja dan mengurus diri. Menjadi yatim piatu bukan hal yang mudah. Dan saat itu aku sudah terikat kontrak yang sangat lama. Ini juga menjadi salahku kalau anak ini pernah kelaparan saat aku tidak ada.
“Yasudah ayo makan bersama sebelum tidur,” ajak paman dan diindahkan oleh Hazel.
Mereka makan dengan tenang. Hazel merasa bahagia, setelah sekian purnama akhirnya ia makan bersama salah satu keluarganya. Keluarga yang benar-benar terhubung dengan darah. Ia makan sangat banyak malam ini sampai merasa tidak mengantuk setelah membersihkan diri. Hazel memilih untuk belajar hal yang tidak ia pahami. Tapi ia malah tertidur di atas meja sampai pagi.
Suara ketukan pintu yang pelan dan beruntun membangunkannya.
“Iya?” sahut Hazel dalam keadaan setengah sadarkan diri.
“Kau hari ini sekolah kan?” tanya seorang wanita dengan lembut dari balik pintu.
Hazel terbangun dengan mimpi yang aneh dia dapatkan. Suara berisik dari luar kamarnya membuatnya menjadi lebih sadar.
“Ada apa paman?” Tanya Hazel sambil mendongakan kepalanya menanyai paman yang sedang menyeret tangga lipat.
“Eh apa aku membangunkanmu? Kau mau pergi bekerja?” tanyanya yang menuruni tangga.
“Hari ini aku ada jadwal bersekolah sampai siang. Aku ke resto agak siangan.” Sahut Hazel yang menyadari ia akan terlambat bergegas mandi untuk membuatnya segar.
Sekolah? Jadi benar ya. Kenapa perasaanku tegang ya. Mau bertanya tapi takut menjadi canggung. Ya Sudahlah biarkan pertanyaan itu jadi angin lalu saja. Lebih baik aku masak sarapan kan. Selagi dia baru bangun.
Paman segera menaruh kembali tangga dan mempersiapkan sarapan. Ia memasak dengan bahagia dan bersenandung.
“Paman? masak lagi?” tanya Hazel yang baru menuruni anak tangga. Ia membawa tas di punggungnya. Ia nampak seperti remaja yang akan berangkat ke perguruan tinggi jika dilihat dari wajahnya.
“Apa maksudmu lagi? Mulai hari ini aku yang akan memasak 3x sehari untuk kita.”
Hazel merasa bingung dengan penjelasan paman. Tapi ia ingin segera berangkat karena butuh 30 menit untuk sampai ke instansi tempatnya belajar.
“Kau tidak usah bingung begitu. Pokoknya sekarang kau belajar dengan tenang saja. Mulai sekarang aku akan menggantikanmu di restoran. Sisanya kita bicarakan di mobil saja.” Paman menjelaskan sambil membungkus makanan di dua kotak bekal, tidak lupa dengan botol minum dua liter yang ia masukan di dalam tas makan siang.
“Ini untuk makan siang. Yang ini untuk sarapan. Nanti saarapannya di mobil saja ya.”
Paman melepas apronnya dan mengambil topi juga kunci mobil yang tergantung di dekat tv, Hazel hanya tercengang memperhatikan tingkah laku paman terlebih dengan perkataan paman. ia membawa tas kotak makan siang di tangannya dan memberikan kotak bekal sarapan di tangan Hazel.
“Ha?” Hazel hanya memperhatikan kotak sarapan di tangannya.
“Ayo!” Ajak paman dengan ceria, membuat Hazel benar-benar seperti anak sekolahan yang siap berangkat dengan bahagia.
Hazel hanya tersenyum di dalam mobil, tapi ia sebenarnya masih menunggu penjelasan paman dari semua tingkahnya yang membingungkan. Saat mereka sudah di perjalanan, Hazel memberanikan diri membuka suara.
“Em paman?” panggilnya.
“EH kamu kenapa masih termenung begitu, ayo sarapan. Memang tidak nyaman sarapan di dalam mobil tapi ini lebih baik daripada terlambat di hari pertama sekolah. Ucapnya seperti orang tua profesional.
“Huh? Ini bukan hari pertama sih paman. Ini sudah minggu kedua. Dan ini bukannya tidak nyaman. Hanya saja agak membingungkan.” Hazel membuak bekalnya untuk membuktikan ia merasa bersyukur untuk pagi ini.
“Oh aku belum bilang ya? Kalau paman bakal tinggal di sini. Selamanya,” ucapnya dengan pasangan serius ke depan menatap jalanan yang mulai ramai ketika mereka mulai memasuki jalanan satu arah menuju balai kota. Paman sesekali melirik Hazel yang melahap sarapannya seperti anak sekolah yang terlambat.