Dalam Perjalanan

1046 Kata
“Lalu pekerjaan paman bagaimana?” tanya Hazel ketika ia selesai mengunyah. Paman yang masih serius mengemudi ingin Hazel menyantap makanannya saja, “Begini saja. Kau tanya 3 pertanyaan pertamamu supaya aku bisa bercerita selagi kau makan. Kalau kau makan sambil berbicara kau bisa tersedak nanti.” “Ya itu benar juga. Tapi ini salah paman juga yang tidak mengatakan apapun sedari datang ke resto kemarin. Kalau pertanyaan si banyak, apaya…” Hazel mulai memikirkan dan menyaring pertanyaan penting dahulu. “Nah yang pertama, tentang kenapa paman akan tinggal disini selamanya? Keluarga paman gimana?” Hazel mengingat paman Amir yang sudah menikah sejak ia masih kecil. “Terus, soal pekerjaan dan hubungan Paman, Ayah dan Paman Noah.” Hazel melanjutkan makan dan menyiapkan telinganya. “Kalau itu sih lebih dari tiga. Mengenai hubungan itu bukannya diluar konteks ya?” tanya paman, “Eh kau tidak usah menjawab. Kau makan saja dengan tenang. Aku akan menjelaskan hal yang di dalam konteks dua pertanyaan itu saja. Mengenai hubungan itu lain kali saja kalau aku ingat.” Paman tertawa sambil mengemudi dengan serius. “Tapi mobil ini terawat dengan baik ya, aku bangga sekali denganmu. Kau bisa merawat semuanya dengan baik. Tapi mulai sekarang kau tidak perlu khawatir. Kita akan merawat rumah dan restoran bersama.” Paman mengukirkan senyuman tulus di wajahnya. Hazel hanya mengangguk-angguk. Aku juga tidak percaya aku bisa bertahan dengan mengurus semuanya sendirian. Waktu paman bilang akan tinggal di sini selamanya. Aku merasa lega sekali. Terasa bebanku lebih ringan dan ringan dari sebelumnya. Aku masih tidak percaya, kini aku bisa merasakan makan bekal di dalam mobil sambil mengejar waktu berangkat sekolah. Bangun pagi dengan bau harum masakan di rumah. Aku senang sekali. Semuanya seperti satu persatu bebanku jatuh dan tidak menyeret kakiku lagi. Hazel menyuap lagi dan lagi makananan dari kotak bekal ke dalam mulutnya, ia menunduk menahan air mata yang akan jatuh. Tapi ia terlalu gengsi untuk menangis. jadi ia hanya memasang ekspresi sedang mendengarkan dengan seksama. Aku tidak berniat mengungkit itu sih. Aduh takut salah bicara. Tapi, sepertinya dia hanya mendengarkan dengan seksama. Paman merasa tidak enak hati pada Hazel dengan wajah yang murung meski ia tutup-tutupi. “Oh ia lanjut ya. Tadi kau tanya soal pekerjaan paman ya,” Paman berfikir perlahan ia sengaja memilih menjawab pertanyaan kedua karena pertanyaan pertama ada unsur sensitifnya. “Paman kan sudah habis kontrak. Dan alasan paman tidak menghubungi dan mengunjungimu selama 8 tahun itu berkaitan dengan ini. Jadi cerita awalnya, setelah tahu insiden itu melalui Zali paman meminta tolong padanya untuk menjagamu sampai paman pulang. Bekerja di kapal pesiar gajinya lumayan dan paman tidak perlu mengeluarkan biaya hidup. Itu seperti paman sedang menabung dan kini paman pensiun.” Paman menjelaskan dengan seksama sambil sesekali memperhatikan Hazel yang sekarang telah selesai makan lalu ke jalanan. Ia perlahan menaikan kecepatan mobilnya, agar tidak membuat kaget keponakannya yang mungkin saja masih tersisa trauma dengan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. “Sudah habis,” Jawab Hazel terdengar sangat ceria. Ia seperti anak yang sangat bahagia setelah sekian lama di masakan bekal oleh walinya. “Taruh di situ saja,” paman memberi isyarat untuk menaruh kotak bekal kosong di depan Hazel. “Lalu? Lalu? Kenapa harus tinggal di sini selamanya. Paman kan sudah pensiun kenapa tidak kembali ke bibi?” Hazel bertanya sebelum ia minum. Raut wajah paman berubah seketika. Ia nampak kebingungan, dan tidak tahu harus mulai dari mana untuk menjawab pertanyaan keponakannya itu. Wajar saja ia bertanya seperti itu. Harusnya aku beri tahu Zali dulu. Supaya dia bisa memberitahunya sebelum aku. “Eh gimana ya-” “Tidak apa paman. Jika tidak bisa menjawab pertanyaan itu di skip aja,” potong Hazel. Ia menyadari raut wajah paman Amir berubah, ia nampak bingung dan Hazel tidak ingin membebaninya lebih jauh lagi. Jika waktunya sudah tiba pasti ia akan tahu juga. Hazel menaruh pandangannya ke luar jendela sambil menopang pipinya. “Kita tidak harus memberitahukan semuanya jika tidak merasa nyaman. Sama seperti paman Zali yang tidak pernah menanyakan kenapa aku tidak ingin sekolah hari itu dan sekarang aku ingin kembali ke sekolah.” “Apa itu pertanyaan yang tidak membuatmu nyaman? Mengenai kenapa kau tidak ingin sekolah,” tanya paman. Hazel hanya mengangguk. Kalau pertanyan itu keluar dari mulut siapapun, ia tidak akan mampu menjawabnya. Alasannya akan terdengar tidak masuk akal dan hanya mengada-ngada. Ia hanya anak kecil yang mungkin akan dibilang anak gila yang kehilangan orang tua. Paman melirik kearah Hazel ingin membaca raut wajahnya. Padahal awalnya aku ingin menanyakannya. Tapi aku jadi tidak enak sudah punya niat begitu. “Sebenarnya paman dan bibi sudah pisah sejak lama,” ucap paman tiba-tiba memecah keheningan. “Maaf ya baru memberitahukan ini. Padahal kita keluarga.” Kali ini paman fokus pada jalanan yang mulai senggang. Hazel awalnya tampak kaget tapi ia memilih diam dan mendengarkan dengan seksama, ia tidak ingin membuat perasaan paman bertambah sedih dengan respon yang tidak diperlukan. Dan sebentar lagi mereka sampai. Paman ingin mengantar sampai dalam tapi di tolak Hazel dan hanya sampai tepi jalan. “Ah ini membuatku sedih. Padahal aku ingin mengantar sampai dalam sekolah seperti orang tua pada umumnya,” celetuk paman dengan nada sedih yang tidak dibuat-buat. Mereka hanya tertawa dari balik kaca. “Jangan mengada-ngada. Di sana banyak sekali yang lebih tua dari paman,” jawab Hazel yang masih tertawa geli membayangkan jika paman ikut masuk. “Ah ya udah deh. Kelas selesai jam berapa?” tanyanya mendongakan kepala. Hazel hanya memberikan salinan jadwal kelasnya. “Sudah ya, aku masuk. Sebenarnya paman tidak perlu mengantarkan. Aku bisa pergi sendiri kan sudah bukan benar-benar anak SMP lagi,” ucapnya, ia tersenyum dan melambaikan tangan sebelum menyeberang dan masuk kedalam bangunan. “Memangnya kenapa kalau bukan benar-benar anak SMP? Memangnya begitu memalukan di antar sampai depan. Dasar,” gerutunya ketika melajukan mobilnya. Ia menyimpan salinan jadwal kelas Hazel yang hanya sampai kamis dan setiap hari sampai siang. Paman tidak langsung pulang ia menuju minimarket dan pasar tradisional membeli beberapa peralatan dan bahan makanan untuk kulkas rumah Hazel yang kosong. Ia bahkan sudah mencatat semuanya di secarik kertas. Sesekali paman menatap kotak bekal kosong yang terbengkalai. Akhirnya ia merasakan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, mengantarkan anak ke sekolah. Meski Hazel bukan, tapi mereka terikat hubungan darah dan hukum sebagai keluarga sah. Ia adalah wali yang sah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN