Zali bingung dengan kedatangan Amir di restoran, yang membuatnya lebih bingung ia sedang di dapur.
Kenapa dia
“Mulai hari ini aku yang menggantikan keponakanku,” ucap paman yang memecah keheningan. Ia tahu Zali sedang memperhatikannya, ia tampak bingung tapi nampak sungkan untuk bertanya.
“Oh? Aku sendiri sebenarnya tidak apa. Aku bilang pada Hazel dia bisa datang kapan aja dia mau dan senggang.”
Mereka berbincang dengan serius. Bibi kasir sesekali melirik ke dapur penasaran dengan pembicaraan dua koki profesional itu.
“Tapi jika aku di sini. Aku mau dia habiskan waktunya seperti anak pada umumnya. Sekolah, bermain dan lain-lain. Dan tau ga siapa sih temannya yang menginap kemarin? Anak cowok ya? Tau ga?” Amir melempar segudang pertanyaan dengan serius.
“Apa? Menginap? Kemarin? Nadya sama Sofia menginap di rumah Hazel kemarin. Kalau anak cowok aku sih gatau. Memang kau tau dari mana kalau ada anak cowok juga. Jangan mengada-ngada. Hazel itu tidak pernah begitu dari dulu. Dia suka main, tapi main di pantai. Berenang pagi-pagi sama papan selancarnya.”
Ah ia juga, tidak mungkin anak itu mengada-ngada seperti itu. Tapi kamar kemarin jelas banget dipake sama anak laki-laki. Dan kemarin keponakanku membersihkan kamar mendiang orang tuanya. Berati temen cewe nya tidur di kamar dia dan temen cowok tidur di kamarku yang sekarang.
Paman Amir melamun sesekali memotong dengan asal sayuran yang akan mereka masak capcay, ia bahkan mengabaikan penggorengan di sampingnya membuat Zali jengkel dan mengambil alih pekerjaannya.
“Oi, yang bener dong. Hazel itu ga teledor loh. Lebih baik mempekerjakan dia ketimbang orang yang suka termenung di dapur,” sindir Zali kepada Amir yang tadi termenung kini mulai memasak dan mempersiapkan beberapa lauk utama dengan serius.
Di restoran ini, beberapa makanan sudah harus siap di masak untuk siap disajikan kapan saja. Dan beberapa lainnya harus dimasak langsung ketika ada pesanan dan sebagiannya lagi cukup dipanaskan saja.
Jam makan siang sebentar lagi, tapi Amir berpamitan. Membuat bibi kasir melirik tajam.
Yah apa bedanya dia menggantikan bocah pemalas itu. Kalau jam makan siang malah pergi-pergi.
“Kau mau menjemput Hazel ya?” tanya mamang Zali saat paman Amir berganti pakaian. “Tau dari mana?” ia melempar kembali pertanyaan. “Ya taulah. Kau kan pasti melakukan itu. Orang lebay sepertimu. Padahal dia pasti berkali-kali menolak untuk di antar,” omelnya.
“Oh ia kalau gitu sekalian deh. Nih.” Paman Zali memberikan kertas dengan penuh daftar. “Waktunya belanja stok dapur. Yang bagian depan belanjanya di market. Yang bagian belakang belanjanya di pasar tradisional aja biar murah. Siang masih buka kalau yang di balai kota,” pintahnya.
“Memang mana bagian depan dan mana bagian belakang,” tanyanya, membuat lawan bicaranya kesal. Dan terjadilah perdebatan kecil.
Paman Amir memilih meninggalkan Zali yang masih menggerutu. Ia mendapati punggung Noah yang tidak jauh dari tempat parkiran, ia sedang sibuk dengan ponselnya yang menempel di telinganya dan berbincang dengan seseorang.
“Oi bule bujang lapuk!” panggilnya.
Paman Noah langsung menoleh dan mematikan ponselnya, muka kesalnya tidak tertahankan, ia bahkan mengepalkan tangannya. Paman Zali yang ikut mendengar teriakan Amir pun keluar. Ia bersiap melihat pertengkaran mereka, “Iya, lanjutkan aja biar ta siapin ringnya sekalian.”
“Kau kalau mau jemput Hazel. Cepat aja pergi, jangan buat dia menyesal sudah mau di antar kalau berangkat sendiri lebih baik dan gak capek nunggu,” ketuanya.
Dibanding mereka berdua Ayah Nadya memang lebih tua dari mereka, ia bahkan lebih tua dua tahun dibanding Aden. Jelas ia memiliki banyak kehormatan yang pantas untuknya.
“Eh emang di lagi dimana?” tanya Noah penasaran. “Aku ikut dong, gabut nih. Penginapanku lagi sepi.”
“Ga sepi pun kau juga pasti gabut. Kerjamu kan pasti masih Cuma buat lagu ga jelas. Dasar bule kaya songong,” sergah paman Amir. Ia masuk ke dalam mobil. Paman Noah bahkan tidak menunggu izin ia langsung duduk di kursi belakang dan memainkan ponselnya dengan posisi miring. Memang paman yang nyentrik. “Bocah itu beneran sekolah ya?” tanyanya penasaran. “Kenapa? Mau ikutan sekolah juga? Lanjutin yg dulu,” celetuk paman Amir sekenaknya.
“Heh! Mau dicekik dari belakang ya?” Noah melepas tali yang menjadi ikat pinggangnya, ia merentangkannya agar Amir bisa melihat kalau dia sungguh-sungguh dengan ancamannya. Paman Amir seketika duduk lebih maju merespon ancaman itu.
“Cih dasar psikopat stress.”
“Jadi ini maksudnya kabar baik yang kau bawa setelah sekian tahun baru muncul,” celetuknya ia kembali mengikat tali di pinggangnya dan melanjutkan memainkan game mobile di ponselnya. Ia mengubah posisi duduknya menjadi selonjoran di kursi belakang.
“Heh yang sopan dong. Ini bukan mobilku kau tau.”
“Ah sorry-sorry. Tapi ponakanku pasti ga keberatan, toh kakiku ga kotor kok. Liat aja kalau ga percaya,” ia masih tengah asik dengan ponselnya dan kini mengangkat satu kakinya untuk membuktikan ia tidak berbohong.
“Dih b******k satu ini, kalau kau sungguh-sungguh menjadi posisi paman-pamanan harusnya bisa memberikan contoh yang baik dong! Lagian kenapa kau ikut sih,” gerutunya ia menyandarkan dirinya di kemudi dengan kesal melihat sikap tidak sopan Noah.
“Iya ah berisik. Ah kalah deh.” Paman Noah merubah posisi duduknya, ia kini duduk dengan posisi benar dan memasukan ponselnya ke saku. “Memangnya kenapa kalau aku ikut? Aku juga ingin tahu di mana keponakanku bersekolah,” jawabnya santai. “Seberapa jauh emang?” ia masih dengan nada santai, “Hidupkan radionya dong,” Noah maju ke depan dan menghidupkan sendiri siaran radio dan mencari siaran yang pas.
“Jadi kau sudah kemana saja beberapa tahun terakhir ini? Aku dengar kau juga baru-baru ini balik lagi ke sini,” tanya Amir kepada Noah yang membuang mukanya ke luar jendela.
“Yang pasti aku tidak melakukan ha yang sia-sia. Aku juga tau kau memperpanjang kontrak mu dan kini mengambil pensiun kan. Tapi apa alasanmu tidak kembali sama sekali sekadar untuk menjenguknya?”
Terjadi kecanggungan di antara mereka.
“Aku sering pergi memang, tapi aku juga sering kembali. Dan ga perlu membayar orang lain untuk memata-matainya. Aku menggunakan mataku sendiri,” sindir Noah di akhir kalimat.
“Aku cuma bercanda saat bilang begitu. Aku punya masalah keluarga dan aku gatau anak itu sampai berhenti sekolah. Kalau aku tau, aku tidak akan berlama-lama di sana.”