Hazel Punya Dua Paman Baik

1006 Kata
Kesunyian kini berada di antara mereka berdua, dengan alunan musick latar belakang dari radio yang terus bersenandung. Paman Noah terus saja menguap, “Aku tidur dulu sebentar deh. Kau belum capek menyetir kan?” tanyanya. Ia bahkan langsung tidur sebelum mendapatkan jawaban. Terserah saja. Toh ga ngaruh apa-apa. Paman bersenandung dalam hati sambil menyetir dengan kecepatan tinggi. Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi dengan percaya diri sembari mengingat masa muda. Tapi yang lebih membahagiakan ialah ia bisa mengantar jemput Hazel, hal yang tidak pernah ia bisa lakukan karena anaknya yang tidak dapat ia temui sejak perceraiannya. Tak disangka sembari mengingat masa lalu, ia sampai lebih cepat dari perkiraan. Ia memilih menunggu di seberang jalan seperti permintaan keponakannya yang enggan di jemput di depan gedung. Dan ia hanya bisa menurutinya saja. Ia tidak ingin jika keponakannya itu merasa kapok dijemput olehnya. Tidak lama setelah parkir di seberang jalan Hazel menghampiri pintu samping kemudi. Hazel masuk tanpa aba-aba. “Sudah lama kah paman?” “Tidak kok, baru juga sampai. Paman otw pas istirahat malah”. “Hah?! Seberapa laju paman mengemudi?” Hazel merasa kaget, ia tidak percaya. “sudah ku bilang berapa kali paman. Dari dulu kan,” ucap Hazel dengan nada kesal. “Gak laju-laju amat kok. Dia nyetir kaya siput,” sahut paman Noah dari belakang setelah meregangkan badannya. Hazel terperanjat seketika, ia tidak menyangka ada paman Noah di belakang. “Ah maaf paman aku ga liat ada paman di belakang,” ucapnya. “Tapi kenapa paman ikut?” Hazel merasa heran kenapa paman Noah ikut dengan paman Amir bahkan setelah perdebatan itu. Hazel melempar pandangannya ke arah paman Noah lalu ke paman Amir dengan ekspresi meminta penjelasan. “Aku ikut sekalian mau belanja,” jawabnya santai. “Gimana sama belajarnya? Kelasnya?” ia penasaran apakah sekolah paket akan sama seperti sekolah formal yang memiliki beberapa pembuli. “Sejak dari pertama masuk baik-baik saja, paman. Emang kita mau belanja apa? Stok resto?” Tanya Hazel dan hanya dibalas anggukan Paman Noah. “Kenapa jadi kau yang sok tahu begitu,” celetuk Amir. Hazel yang melihat perdebatan mereka hanya tertawa dengan tingkah mereka yang seperti anak kecil. Oh ternyata hubungan mereka dekat ya. Seperti yang pamaan Zali bilang. Kekhawatiranku selama ini sia-sia. kupikir mereka sempat bermusuhan. Seingatku mereka memang sering bertengkar sejak dahulu. Hanya saja aku ga inget mereka dulu mempertengkarkan apa. Hazel mencoba mengingat sedikit demi sedikit ketika malam tahun baru terakhir kali bersama mendiang orang tuanya. “Kita ke pasar tradisional dulu, kau di sini aja. Pasti capek kan pulang sekolah.” Paman melepas se dan turun dari mobil diikuti paman Noah. “Kau ada mau nitip sesuatu?” tanyanya kepada Hazel yang memilih menunggu di mobil. Ia memilih menunggu di mobil karena ingin mengerjakan kembali latihan yang tadi menyulitkannya. “Tidak ada,” ucapnya, “Ah, minuman dingin yang bersoda ya paman!” sahutnya sedikit berteriak saat paman amir sudah jauh dari mobil. Hazel kembali sibuk dengan latihan soal matematika yang tadi tidak sempat ia selesaikan dan berakhir menjadi pekerjaan rumah. “Kenapa kita harus belajar matematika?” gertunya. Ia baru sadar dirinya buta hitung-hitung. Hazel membayangkan, haruskah ia meminta Nadya untuk mengajarinya? Atau Sofia? Atau Pandji? Ah ia orang itu nampak lebih tenang. Entah apa yang dia rencanakan nanti. Hazel terus memikirkan hal itu di saat ia merasa pusing dengan latihan soalnya. Tanpa sadar ia tertidur menyandarkan punggungnya. Kursi mobil terasa nyaman setelah beberapa jam lalu punggung dan pantatnya terasa panas karena duduk berjam-jam dan kepalanya seperti berasap. Ia merasa setiap pertemuan tingkat kesusahan latihan soal yang ia dapatkan menjadi lebih sulit dari sebelumnya. Tapi hari ini Hazel tampak sangat bersyukur terlihat dari wajahnya. Meski sekolah mengejar paket B itu berbeda dengan sekolah formal, dengan membawa bekal dan di antar jemput untuk pertama kalinya membuat ia sangat bahagia . Hazel mengingat situasi di saat istirahat jam kelas, beberapa orang yang juga sekelas dengannya memuji dirinya yang membawa bekal dengan rasa yang sangat enak. Tapi ia merasa seperti berlebihan. Mereka bukan lagi anak sekolah, kebanyakan dari mereka sudah beker. Tapi mereka masih mau memuji bekalnya untuk menyenangkan hatinya. “tidak-tidak” Hazel menggelengkan kepala. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku cukup hidup dengan tenang dan menikmati setiap kesibukanku saja. Berteman secukupnya, cukup dengar yang diperlukan dan lupakan yang tidak perlu. Tidak semua pujian atau ejekan baik untuk didengar. Ia menyakinkan dirinya dengan sedikit teriakan di hatinya. Hazel kembali melanjutkan mengerjakan latihan soal sampai ia menguap dan tertidur dengan menyandarkan punggungnya di kursi. * “Memang kau nyari apa sih?” tanya Amir kepada Noah yang hanya melihat-lihat, mengikutinya dari belakang sedari keluar mobil namun tidak menawarkan tangan untuk membawa kantong belanjaan. Mereka bahkan sempat berdebat kecil sampai ditertawakan pedagang melihat dua bapak-bapak bertengkar untuk hal sepele di pasar. “Ya terserah aku sih mau belanja apa” jawabnya Noah sekenaknya. “Kau itu mengganggu saja. Sana pergi cari kerjaan lain. Jangan ngikutin aku kalau sama sekali ga berguna.” “Jadi maksudmu kau butuh bantuan?” tanyanya dengan nada datar. Paman Amir hanya melengos kesal. Ia ingin menaruh belanjaannya ke mobil lalu kembali lagi untuk membeli sekarung beras. Akan sangat sulit membawa sekarung beras dengan tangan penuh. “Sudah semua kan? Tinggal beras aja kan,” celetuk Noah dengan akurat. “Cepat buruan beli beras terus beli makanan atau minuman,” perintahnya terdengar menyebalkan tapi tanpa sadar itu menjadi pengingat pesanan keponakannya yang menunggu. Paman Amir segera membeli sekarung beras seberat 25 kg. Awalnya ia meminta tolong kepada jasa angkut, tapi tanpa banyak bicara paman Noah segera mengangkat karung beras di bahunya dengan santainya dan langsung pergi ke arah parkiran. Setelah ia menaruh karung itu ia pergi lagi melewati Amir tanpa banyak bicara dengan muka yang menyebalkan di matanya. Ia kembali dengan sebungkus gorengan dan minuman dingin pesanaan Hazel. Tapi Hazel masih dengan nyenyak tidur. Hazel sesekali memimpikan bagaimana ia menyelesaikan latihan soal dengan mudah tanpa hambatan. Ia nampak senang di dalam mimpinya, tapi bau tahu goreng isi membuatnya bangun dan merasakan tenggorokannya mengering. Mereka bertiga sedikit berbincang setelah Hazel bangun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN