Bersenang-senang

1052 Kata
“Sudah semua kan?” tanya Hazel yang sedang meminum air dingin bersoda. “Belum sih-” jawab Paman Amir sebelum di potong paman Noah “Ayo kita ke mall di pusat,” Ajaknya dengan santai. Ia mengabaikan raut kesal terpancar di wajah temannya itu. Hazel penasaran, “Paman mau beli apa?” Ia mengubah posisi duduknya lebih miring agar bisa leluasa bercengkrama dengan mereka. Meski sampai sekarang Hazel tidak tahu apa hubungannya dengan paman Noah, tapi ia merasa bersyukur dapat mengenalnya. Mengingat dia dulu juga sangat dekat dengan mendiang orang tuanya. “Um apaya… ” Noah pura-pura berfikir, “Ah tadinya sempat lupa. Aku mau beli sesuatu. Juga senar ukulele ku putus dan aku tidak punya cadangan, jadi sekalian saja. Terus sepertinya enak kalau cari makan siang di mall kan,” ia mengajak Hazel untuk setuju. Paman Noah seperti sedang merencanakan sesuatu. “Tapi…” Hazel melirik paman Amir. Ia tidak enak hati karena yang sedari tadi menyetir adalah paman. Paman Amir yang menatap tajam Noah melalui spion tengah, tapi ia diam saja dan menurut. Walaupun ia kesal dengan sikap Noah, ia melirik keponakannya yang juga ada rasa penasaran yang ditutup-tutupi untuk ke mall. Yah demi Hazel inimah. Hazel mengingat, kapan terakhir kali aku ke mall ya? Tapi aku ga bawa uang lebih. Padahal jadi pengen liat sesuatu. “Haah, selagi di jalan aku tidur dulu ya,” celetuk Noah membuat kesal Paman Amir. “Paman mau ganti?” tanya Hazel menawarkan diri untuk mengemudi. Tentu saja di tolak mentah-mentah oleh paman. Meski begitu Hazel beberapa kali menawarkan diri untuk mengemudi saat pulang nanti. Butuh satu jam untuk sampai ke mall yang berada di dekat pusat kota dengan kecepatan sedang. Hazel yang sudah bangun dari tidurnya tidak bisa tidur lagi, ia merasa bosan dan hanya memperhatikan jalanan dari dalam. “Bosan ya?” tanya paman Amir yang sesekali melirik Hazel yang sedari tadi memandangi jalanan. “He? Gak kok paman.” ucapnya datar mudah dibaca bahwa benar ia sangat bosan setengah mati. “Dengerin radio aja,” paman menunjuk arah radio yang mati. Hazel menolak dengan menengok arah belakang, ia khawatir paman Noah akan terbangun. “Kalau paman khawatir sama kebosananku, gimana kalau kita tanya jawab saja,” Ajak Hazel dengan nada tidak yakin dengan permintaanya. Yah pasti di tolak sih. “Oke!” paman menjawab yakin Huh? “Kalau gitu aku yang duluan. Apa Sih hubungan paman Noah dan Ibu?” Kali ini Hazel bertanya sambil menatap paman Amir. Ia mengharapkan jawaban yang masuk akal. “Um…” paman sedang berfikir dan memasang wajah serius. “Paman juga tidak tahu, tapi pertama kali paman datang ke pulau ini, mereka seperti pelanggan tetap di sini dan sejak itu Ayahmu sudah memiliki hubungan yang dekat. Bahkan paman baru tau saat mereka berencana menikah.” Pman menjelaskan dengan ragu, Hazel hanya memasang wajah tidak puas. Ia melempar pandangan ke luar lagi. Begitu ya. Itu pertemuan pertama mereka. tapi belum jelas apa hubungan paman Noah dan ibu. Dia berkali-kali mengatakan aku harusnya mirip ibu. “Memang kenapa kau penasaran dengan hubungan paman dan Rachel?” tanya paman Noah yang sudah bangun tanpa diketahui mereka. Ia bertanya dengan nada serius. Paman tertawa dengan raut wajah Hazel yang berubah kaget dan canggung. “Aku dulu satu kelas dengan Rachel. Kami tidak satu Negara sih, tapi kami cukup dekat. Sampai aku diizinkan memanggilmu keponakanku bahkan aku orang ketiga yang menggendong mu loh,” Jelas Paman Noah dengan ceria, “Amir saja jadi orang yang entah keberapa yang menggendongmu.” Paman Noah tertawa sambil meledek Amir yang memasang wajah kesal. Hazel merasa menyesal mendengar penjelasan memalukan itu, ia menyembunyikan wajahnya yang memerah. “Hari itu aku sedang sibuk, baru bisa menjenguk 3 bulan kemudian.” Mereka berbincang banyak hal mengenai masa lalu membuat mobil mereka dipenuhi energi bahagia, canda dan tawa. Hingga akhirnya mereka sampai ke mall, Hazel dan paman Noah memilih masuk dulu meninggalkan Paman Amir yang akan menelpon Zali untuk mengabari keterlambatan mereka. “Ayo kita makan es krim Msd,” “Es krim apa?” Terasa asing di telinganya. “Msdonald. Udah ikut aja.” Paman Noah menarik tangan Hazel untuk mengikutinya. Mereka memesan es krim msflury dan menunggu Amir menyusul mereka. “Kalian sudah makan es krim aja. Tanpa aku lagi.” Hazel tidak tega ia menawarkan es krimnya dan ditolak paman Amir dengan canggung. “Apa paman mau aku belikan?” tanya Hazel meski ia tidak terbiasa dengan konter Msdonald. “Ah gausah, aku tadi sudah menelepon Zali. Dia sudah minta tolong temannya. Kita langsung cari yang mau dicari aja,” ajaknya langsung memimpin jalan. Ini bukan pertama kali ia masuk ke mall, ia pernah pergi dengan mendiang orang tuanya ketika kecil tapi ingatan itu ingatan yang samar. Ia juga pernah pergi dengan Hendra dan Nadya, meski itu juga sudah lama sekali. kini ia merasa seperti pertama kali, meski memang ini pertama kali pergi dengan pamannya “Kita cari makan dulu atau belanja dulu nih,” tanya paman Noah yang berdiri di samping kiri Hazel, ia menunggu Hazel menyelesaikan mangkuk gelas es krimnya untuk ia buang bersama. Hazel merasa tersipu dengan perlakuan kecil itu. Kini ia bagai tuan puteri yang di dampingi dua pengawal atau dua pangeran. “Hah?” paman Amir mulai menggerutu, “Cepat cari yang mau kau cari, terus pulang.” Paman Amir menggertak Noah untuk tidak banyak tingkah tapi melihat Hazel yang memandangi sekelilingnya dengan seksama tanpa terganggu dengan perdebatan mereka, ia merubah pikirannya. “Eh Zy, kau ada yang ingin dicari?” tanyanya mengalihkan gerutunya dengan segera sebelum membuat keponakannya kecewa. “Ah tidak kok,” Hazel berpura-pura, ia sangat ingin tapi ia terbiasa untuk tidak menunjukkannya. Paman Noah menarik tangan Hazel, “Ayo temani aku mencari sesuatu,” ia hanya menurut paman Noah dari belakang. Paman mau kemana si dari tadi kayaknya kita cuma muter-muter. “Oi tau ga sih mau kemana?” bentaknya, ia merasa kelelahan mengikutinya yang hanya memutar-mutar seperti tidak ada tujuan. “Nah itu dia,” paman menarik tangah Hazel lagi untuk memasuki toko peralatan selam. Sebelum ia masuk ia memperingati Amir untuk pergi sendiri jika lelah berjalan dengan mereka. Hazel yang menyadari toko yang akan mereka masuki adalah yang ia cari, matanya berbinar. Paman Amir telat menyadari itu, ia merasa menyesal membentak Noah. Sebab sekali lagi ia kalah telak memenangkan hati keponakannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN