Hadiah

1036 Kata
Hazel tampak senang karena memilih masuk menemani paman Noah, ia melihat ke sana kemari. Ia tidak dapat menyembunyikannya, sesekali senyum simpul terukir di wajahnya. Tapi ia mencoba untuk menahan diri, mengingat ia tidak membawa uang yang cukup dan kartu atmnya. Hazel memilih untuk mencari paman Noah dan mengikutinya dari belakang. “Sudah ketemu?” tanya Hazel yang membuyarkan lamunan paman Noah di pojokan toko. Paman Noah terdiam sebentar, “Um sedang di cari,” ia bahkan tidak tahu apa yang sedang ia cari. Ia berjalan ke sana kemari dan di ikuti kepeonakannya. Kini ia merasa canggung. Nampak Hazel juga mulai kehilangan ketertarikan. “Kau sendiri tidak tertarik untuk beli sesuatu? Di sini,” tanya paman Noah. Paman Amir yang tidak terlalu mengerti hal beginian hanya berdiri di rak dekat pintu dan memperhatikan mereka selagi mereka dapat di jangkau pandangannya. “Tidak juga,” jawabnya datar. Hmm… di tahan saja deh… meski aku kepikiran wetsuit elate tadi. Tapi dari jauh liat harganya jadi nggak bisa fokus. Apa aku keluar saja ya? Bosan juga kalau cuma lihat-lihat. “Eh kau yakin?” Hazel hanya mengangguk, ia merasa gelisah dan berencana untuk keluar dulu, melihat hal itu paman Noah merasa tidak enak hati, ia yang awalnya mengajak Hazel. Paman menahan tangan Hazel dan memberikannya isyarat untuk memilih. “Anggap saja sebagai hadiah ulang tahun. Ayo ambil saja apa yang kau mau.” “Tidak usah paman,” Hazel menolak keras dan berbalik badan. Ia segera menuju ke paman Noah. “Loh kau tidak ada yang ingin kau beli?” tanyanya penasaran kenapa keponakannya yang awalnya senang masuk ke toko tapi tidak tertarik untuk membeli sesuatu. “Jarang loh bakal kesini, ya karena faktor jauh juga.” Hazel hanya menggeleng tidak tertarik. Haa… kalau makin lama di dekat paman Noah nanti makin di paksa beli. Mending tunggu di sini saja deh. Haaa… jadi bingung mau beli apa. Niatnya kan biar dia beli sesuatu untuk bersenang-senang. Apa aku belikan sesuatu sebagai hadiah? Tapi pasti ditolak. Aku ga tau gimana nawarin nya. Noah termenung lebih lama, ia asal mengambil. Ini aja deh, snorkel. Awalnya ia mengambil warna biru lalu menggantinya dengan warna hijau. Warna kesukaan Hazel. Nanti masukin aja ke tasnya diem-diem ya. Mereka keluar pergi ke toko peralatan musik. Meski Hazel tidak begitu mengerti tentang alat musik, ia nampak menikmati setiap detik ia di dalam. Ia juga tanapa sadar menyentuh alat musik yang menarik di matanya. “Kau tertarik?” tanya paman Amir saat melihat Hazel fokus ke piano lalu ke trombone. “Aapa? Hazy mau bermusik?” disambut oleh paman Noah antusias. Hazel hanya tertawa untuk menjawab pertanyaan mereka yang aneh. Terdengar seperti ejekan baginya. Ia hanya tertarik karena mereka nampak mencolok dan besar. Ia bahkan tidak tau namanya apa. “Eh ayah punya ini di kamarnya. Seperti gitar.” Hazel menunjuk ke arah gitar bulat, gambus. “Oh masih di simpan ya?” tanya paman Amir ia sedikit tertawa. Paman Noah juga itu tertawa mengingat alat musik itu yang mendianag Aden sering gunakan untuk menyanyikan lagu untuk Rachel saat mereka sering datang berkunjung. Hazel mengikuti irama mereka, ia hanya tidak ingin bertanya, pasti itu sesuatu hal yang memalukan untuk di tanya. “Aku sudah dapat ini. Terus apalagi ya?” “Apalagi apanya. Kalau sudah dapat ya pulang,” celetuk paman Amir. “Eh? Kan sudah di sini nonton bioskop dulu aja. Hazel pasti sudah lama kan ga nonton bioskop. Mumpung di sini dan kebetulan ada film baru rilis kan, ayo!” paman Noah menarik tangan Hazel lagi, ia hanya membuntutinya. Ia merasa seperti anak kecil di antara mereka. Ya, memang mereka adalah ayah kecil atau ayah kedua Hazel kan. Tapi meski begitu Hazel sendiri tidak dapat menolak karena ia juga sebenarnya ingin menikmati waktu bersama mereka. “Ada film yang mau kau tonton?” tanya Paman Amir ke Hazel. Ia kesal sejak tadi hanya si Noah yang memutuskan. Hazel hanya menggeleng, “Apa aja gapapa. Aku bisa nonton film aksi apa aja.” “Aksi ya?” paman Noah memilih film laga terbaru tahun ini. Ia memesan tiga kursi tengah, “tunggu aja di sana dulu. Hazy kita beli cemilan dan minuman,” Ajaknya meninggalkan Amir yang menurut saja sejak tadi. Ia menurut karena keponakannya nampak senang dengan ajakan Noah. Yah memang kalau soal bersenang-senang orang itu paling ahli. Gapapa deh, sekali-kali kan. Anak itu juga pasti dia sebelumnya cuma kerja aja. Toh hari ini senin kan, biasanya tidak ramai yang datang ke restoran. “Eh? Banyak banget!” Hazel membawa dua popcorn manis dan asin ukuran large, dan paman Noah membawa tiga botol air putih dan sebotol soda. “Pada laper apa gimana?” tanya paman Amir heran, Hazel hanya tertawa, ia nampak sangat ceria seperti anak kecil yang senang pergi ke taman hiburan. “Ini Hazel yang teraktir loh,” sambung paaman Noah. Hazel nampak tidak sabar. Tak berlangsung lama mereka masuk, Paman Noah memilih film laga yang di jam terdekat agar tidak banyak waktu menunggu. ia memberikan dua minuman ke paman Amir agar ia dapat melihat arlojinya. Waktu menunjukan pukul 3 sore, film laganya akan dimainkan 2 jam. Hazel menikmati tiap adegan di cerita, yang membuat ia senang juga karena paman Amir dan paman Noah menikmati filmnya. Mereka yang sedari tadi mendahulukan dirinya, kini mereka juga bisa menikmati film bersama dirinya. Kalau ada Nadya dan Sofia pasti lebih seru. Tapi mereka suka film apa ya? Kalau Sofia yang melankolis seperti itu apa film favoritnya juga yang sedih-sedih? Hazel tiba-tiba memikirkan hal yang tidak perlu ketika ia asik memasukan popcorn di mulutnya. Kebetulan dua popcorn ukuran large ada di pangkuannya, karena ia duduk di tengah-tengah. Membuat ia bisa mengambil sepuasnya secara bergantian merasakan asin lalu ke manis dan sebaliknya. Hazel sempat mengantuk saat popcorn telah habis di akhir adegan film. Dua jam berlalu, jam 5 lewat sedikit mereka menyelesaikan filmnya dengan perut kosong padahal telah menghabiskan dua ember popcorn. “Eh udah jam 5 setengah nih, mumpung mau malam kita sekalian cari makan malam aja di sini terus pulang. Kan ga enak dalam perjalanan dengan perut kosong,” Sekali lagi paman Noah memutuskan dan mengajak Hazel untuk setuju. Untuk pertama kalinya Hazel merasa tidak khawatir pada pekerjaannya. Ia tidak merasa terbebani seperti sebelum paman Amir datang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN