Pertemuan Tak Terduga

1057 Kata
Mereka bertiga terlalu bingung untuk makan apa alhasil memilih secara acak untuk makan di foodcourt TCC stand, Hazel yang tidak terbiasa mengikuti saja. Sedangkan Paman Amir yang baru pulang setelah sekian tahun merasa asing, toh ia memang baru pertama kali main ke TCC mall. Paman Amir memberikan Hazel keleluasaan untuk memilihkan makan malam mereka, saat Hazel ingin memesan ke meja kasir, ia tidak sengaja menyenggol seorang gadis yang tengah sibuk dengan ponselnya, ia sedang berjalan dengan teman-temannya. Hazel yang merasa tidak bersalah secara refleks hanya menghindar, “Maaf” ucap gadis itu yang masih sibuk dengan ponselnya. Hazel masih tak bergeming, bukan karena marah, ia hanya tidak tahu merespon apa. “Loh Hazy?” tidak jauh darinya suara yang tidak asing memanggilnya. “Kenapa kau di sini?” Hazel dan gadis yang menabraknya saling bertatapan satu sama lain. Tapi bukan darinya asal suara itu. Ia menoleh ke kiri, tidak jauh darinya Pandji berdiri sehabis dari kasir. Dan kini gadis berulang kali menatap Hazel lalu ke Pandji, ia seperti menyadari sesuatu. “Ya?” sahut Hazel kepada Pandji, ia berjalan ke arah kasir untuk memesan makanan cepat saji. “Kau sendirian?” tanyanya dengan memasang wajah bersinar, “Ah guys, kalian bisa duluan,” Ucapnya seketika ia melempar pandangan pada seorang lelaki, mengisyaratkan untuk membawa dua gadis yang juga bersama mereka. Hazel hanya menatap datar gadis yang sedari tadi menatapnya dengan sendu. Kenapa? Apa wajahku sangat memprihatinkan? “Aku sama pamanku.” Hazel mencoba menunjuk ke arah mereka berdua yang sedang berbicara satu sama lain. Terlihat di wajah paman Amir yang sedang mengangkat alis. Mereka tampak sangat serius berbincang sesuatu tanpa Hazel. “Mereka berdua?” Pandji penasaran. Ia kira pamannya hanya tinggal Ayah Nadya. Tapi sejak kapan? Beberapa kali aku berkunjung aku tidak bertemu dengan mereka? “Yep. Mereka paman dari belah Ibu dan Ayahku. Paman Amir baru saja pulang dari pekerjaannya setelah sekian lama, ia-” Hazel berhenti menjelaskan, “kenapa juga aku harus menjelaskan semuanya.” Hazel melewati Pandji dan memesan beberapa paket menu di kasir. Ia mengabaikan Pandji agar antrian tidak diserobot segerombolan orang yang nampak kelaparan yang baru saja masuk cafe. Hazel yang telah mendapatkan tiga paket menu di atas nampannya, ia menuju ke meja mereka. Mengabaikan Pandji yang juga ikut memesan dan mengikutinya dari belakang. “Loh siapa?” Paman Amir menatap tajam kearah belakang Hazel. Hazel nampak tak kaget dengan sikap yang tidak terduga Pandji. “Ini Pandji, paman.” Hazel menatap mereka berdua secara bergantian, “Ini paman Noah, dan ini paman Amir,” sambung Hazel kini di tujukan kepada Pandji yang bersiap duduk di samping Hazel. Ia tersenyum menyambut mereka. “Ya tapi kenapa dia ikut duduk bersama kita?” tanya ketus paman Amir. “Ouch!” teriaknya tak lama setelah bertanya. “Bukankah sudah jelas kalau dia teman Hazy? Dan akan bersama dengan kita,” Jawab paman Noah setelah menginjak kaki paman Amir dengan sandal kulitnya, dan paman Amir yang hanya menggunakan sandal swallow. “Sudah.. tidak usah lama-lama. Duduk aja. Tapi ini kebetulan sekali ya. Kau sedang apa di sini?” Paman Noah mengambil bagiannya dan ingin mengenal Pandji lebih jauh lagi. “Aku tadinya bersama teman, sedang rapat kecil.” “Oh kau mahasiswa ya?” tebak Noah spontan setelah menyelesaikan suapan pertamanya. “Iya,” jawabnya canggung, “Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan Hazy di sini. Jadi sekalian saja aku makan bersama.” Pandji menjawab polos, ia masih tidak sadar ditatap tajam oleh paman Amir. Hazel memilih diam menyantap makanannya, ia bertingkah santai dan tenang seperti paman Noah yang biasanya nyentrik. “Kau… yang menginap di rumah keponakanku ya?” Tanyanya dengan nada curiga. Paman Noah mendengar itu kaget, begitupun Hazel. Ia tidak menyangka paman Amir akan tahu tentang Pandji. Apa paman Zali yang bercerita? Tapi tahu dari mana? Sofia? Nadya? Pandji dengan polosnya menjawab apa adanya. Membuat paman Amir melotot. Paman Noah hanya tertawa dan berhenti dengan makanannya. “Wah beraninya,” ia terkekeh, “Selamat. Kau laki-laki asing pertama yang menginap di rumahnya.” Noah melirik penuh arti ke Hazel yang tersipu, meski ia menyembunyikannya di balik ketidak peduliannya. “Yang benar aja! Kenapa kau menginap hari itu?” tanyanya tegas. “Paman. Yang menginap tidak hanya dia, tapi ada Nadya dan Sofia juga Hendra.” “Hah? Hendra si calon menantunya Zali?” ia meninggikan suaranya, tapi tak membuat Pandji takut atau semacamnya. “Tapi aku bukan laki-laki asing, aku teman SD-nya. Kami dulu teman baik…” Pandji memotong pertanyaan Amir kepala Hazel. “Hmm…” paman Noah mulai mengerti dengan situasi di depannya. “Sudah-sudah. Kita lanjutkan makan dulu. Tidak baik kan berdebat di depan makanan.” Ia menyeringai menantikan cerita yang seru selanjutnya. Paman Amir merasa tidak nyaman, ia sesekali melirik tajam Pandji yang tidak sadar sedang di awasi. Ia sesekali bercakap-cakap pelan di samping Hazel, meski hanya mendapatkan jawaban mengangguk dan menggeleng, seperti biasanya yang Hazel lakukan saat iai berada di situasi yang campur aduk antara bingung, canggung dan sedikit kesal. Mereka telah menyelesaikan makan malam bersama, dan paman Amir segera membuka pertanyaan, “Memang apa yang kalian lakukan di malam itu?” tanyanya, “Merayakan sesuatu? Kalian tidak lagi,” Paman mengangkat dua jari dan memberi isyarat ambigu. “Apa itu paman?!” tanya Hazel kesal. “Kami hanya bercerita dan makan jajanan saja sampai kenyang dan mengantuk.” Pandji hanya ikut mengangguk. Paman Noah tertawa, sesekali ia menahan perutnya dan membenamkan wajahnya di antara tanganya di atas meja, dengan menyembunyikan tawa geli. “Mereka itu hanya sekumpulan anak polos, kau pikir mereka akan apa? Pesta narkoba? Pesta miras?” Paman Noah tertawa geli sekali lagi, ia tidak sanggup memikirkan apa yang di benak Amir. Paman Amir tampak kesal dengan tawa ledekan Noah. Ia melirik ke arah dua sejoli itu. Pandji hanya mengangguk tapi Hazel merasa bingung. Tidak percaya, tidak mungkin juga pamannya menuduh yang aneh-aneh kepada dirinya. “Tapi-tapi kau pasti sangat dekat dengan Hazy ya? Teman kecil huh?’ ia berhenti tertawa dan melempar pandangannya kek Pandji. “Ya… seperti itulah” ia sedikit ragu, “Malam itu, kami hanya merayakan Hazy yang sudah mulai bersekolah. Hanya itu saja. Aku datang atas ajakan Nadya.” Itulah kenapa sejak awal dia memanggilnya Hazy. Dan gadis ini tidak nampak kesal. Paman Amir yang mendengar tentang perayaan mendinginkan emosinya. Kesalnya berubah seketika, ia ingin berterima kasih tapi terlalu gengsi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN