Mereka berempat menghabiskan waktu lebih lama dari rencananya. Bahkan semakin lama paman Noah dan Amir menjadi lebih mudah berbicara dengan Pandji yang sangat lihai mengembangkan pembicaraan. Hazel hanya pura-pura mendengarkan dengan seksama, tapi ia memikirkan banyak hal.
Ternyata dia ga buruk juga. Selain sifat jeleknya yang suka menempel, dia mudah mengambil hati paman Amir yang keras. Kalau itu paman Noah si memang gampang, kau cukup jadi humoris dan menerima tiap candaannya. Tapi paman Amir. Hmm.., Dia juga berhubungan dengan Nadya di belakang mereka.
“Hazy!” panggil paman Noah sekali lagi saat Hazel sedang sedikit melamun.
“Huh?” lamunannya seketika buyar
“Jadi kau setuju tidak? Kalau Pandji di undang di acara tahun baru nanti.”
Tahun baru? Kapan direncanakan emang?”
“Hm?” sahut paman Noah menunggu jawaban Hazel.
Hazel hanya mengangguk, ia tidak berani menatap wajah Pandji. Sudah pasti dia akan bertingkah berlebihan. Memang benar, Pandji yang mendapatkan ajakan itu sangat senang. Ia bahkan bertukar nomor telepon dengan paman Noah dan paman Amir.
“Memang kapan? Aku tidak pernah dengar paman akan mengadakan pesta tahun baru.”
Paman Noah menyenggol bahu Hazel yang wajahnya berubah muram, “Ya anggap saja ini perayaan untuk banyak hal. Salah satunya lembaran baru bagi kita semua, kau yang mulai bersekolah, Amir yang pensiun.”
“Lalu paman?” tanya Hazel penasaran.
“Ya. aku pastikan hari itu aku tidak akan sibuk dan hadir ke pestanya. Apa selama ini Zali mengadakan pesta tahun baru dengan layak?”
“Hum, merayakan kok,” jawabnya datar.
Ya, mereka merayakan dengan keluarga besarnya, dengan bahagia. Aku juga bagian dari keluarga itu kan? Atau tidak.
*
Hari setelah menghabiskan waktu bersama dengan kedua pamannya, Hazel kembali ke rutinitas seperti biasa, yang berbeda saat di hari ia bersekolah, ia dilarang untuk datang ke restoran oleh paman Amir. Meskipun ia memaksa datang, ia hanya akan berakhir duduk-duduk santai, membuatnya tidak nyaman terlebih dengan pandangan bibi kasir.
Meski ia tidak datang ke restoran lagi, ia tidak merasa seperti sebelumnya. Yang biasanya Hazel akan khawatir jika tidak membantu paman Zali, tapi karena paman Amir menggantikannya, ia menjadi lebih lega.
Kini ia juga punya banyak waktu setelah ia pulang sekolah, yang ia gunakan untuk lebih memperhatikan rumah dan pelajaran. Hazel tak lagi dijemput oleh paman Amir, meski sesekali ia masih di jemput.
Sofia masih rutin datang sesekali ke pantai, bermain dengannya dan Nadya. Sejak saat penginapan itu, Hazel merasa tak keberatan jika temannya datang menginap lagi. Ia juga menjadi sedikit lebih baik dengan tidak mengabaikan pesan-pesan Pandji yang berlebihan.
Karena ia punya banyak waktu luang, Hazel berencana ingin membersihkan pondok kecil tempatnya menyewakan peralatan menyelam koleksinya. Toko kecil yang sejak awal memang selalu tutup.
Itu karena Hazel hanya menyewakan peralatannya kepada turis penyelam yang memang sudah punya lisensi advance yang kebetulan sedang tidak membawa peralatannya. Ia tidak pernah menyewakan alat selamanya kepala karena ia tidak menyediakan instruktur atau pembimbing. Alat yang disewakan adalah perlengkapan snorkeling yang biasanya sulit untuk dibawa ketika berwisata.
Para pelanggannya biasanya akan menghubungi Hazel ketika ingin menyewa, namun sudah sejak 2 bulan lalu ia tidak memiliki penyewa. Bisnisnya yang satu ini memang agak seret. Itulah makanya ia jarang memperhatikannya. Tapi membersihkannya sesekali juga tidak ada salahnya, Hazel sedang merasakan menjadi pengangguran sejak posisinya digantikan oleh paman Amir.
Sebelum ke toko kecilnya, ia diminta paman Zali untuk mengambil kue keik buatan ibu Nadya untuk stok di dapur resto yang hampir habis. Bahkan ketika ia belum sampai Nadya sudah membungkus semua kue itu untuknya.
“Jadi sekarang kau pengangguran ya. Sama sepertiku.” Ucapnya dibarengi tawa. Hazel hanya nyengir, “Memang apa buruknya jadi pengangguran?” Nadya tidak menjawab pertanyaan Hazel yang cukup aneh.
“Yah, untuk ukuran orang yang sudah bekerja sejak kecil, menjadi pengangguran seperti ini bisa jadi waktu istirahat. Berbeda denganku yang tidak diizinkan bekerja sejak awal, menjadi pengangguran rasanya menyebalkan.”
“Menganggur dari mananya, setiap hari kau memanggang kueh. Dan itu menghasilkan uang kan. Berarti itu juga pekerjaan.”
Nadya hanya menghela nafas, “Jadi habis mengantar kue ke resto, kau mau kemana? Ngapain?” tanyanya penasaran.
“Beberes toko diving. Kenapa? Mau ikut membereskan?” Ajaknya dengan nada pertanyaan, ia terlalu gengsi untuk mengatakan tolong. “Sudah berapa lama emang?” Nadya melepas appronnya yang sedari tadi menggantung di lehernya, ia tidak merasa keberatan dengan sikap Hazel. “Entahlah, mungkin 2 atau 4 bulan.”
Nadya nampak memasang wajah tidak kaget. Ia menawarkan diri untuk ikut membantu. Tentu saja Hazel tidak menolak bantuan itu. Hubungan mereka setelah pertengkaran yang berkali-kali terjadi membuat persahabatan mereka erat.
Nadya sangat memahami Hazel yang tertutup untuk meminta tolong. Meski begitu, ia tidak akan sungkan untuk menolongnya tanpa dimintai.
“Jadi apa kau juga tahu kalau paman Noah akan membuat pesta tahun baru?”
“Tahun ini? Tumben sekali?” tanyanya penasaran, mereka berbincang-bincang di saat perjalanan ke restoran.
“Iya mungkin di penginapan mengampung. Sudah lama kan tidak mengadakan pesta tahun baru saat paman Amir dan Paman Noah ada di sini.” Hazel nampak bahagia menjelaskannya, ia tidak menymbunyikan apapun di hadapan Nadya.
Setelah sekian lama ya. Apa bedanya acara yang paman Noah buat dengan yang biasa keluarga kami buat? Apa selama ini Hazel tidak menikmati perayaan tahun baru keluarga kami? Padahal ia selalu menunjukan wajah senang kalau sudah berkumpul.
“Dan sepertinya Pandji juga akan datang,”jelas Hazel ia menyembunyikan dengan baik kalau ia tersipu.
Ini bukan seperti aku bahagia dia datang atau tidak tapi perayaan tahun baru terakhir dengan mending orang tuanya sangat berkesan karena ramai orang-orang kepercayaan mendiang ayahnya.
“Apa? Jadi kamu mengundangnya? Akhirnya setelah dia bersusah payah datang kesini jauh-jauh,” letaknya. “Nad jangan undang dia dengan tiba-tiba. Dia itu punya kelas. Dan tidak baik kan membuat orang lain membolos demi hal spele,” jelas Hazel, ia mengingat Pandji yang telah membahas mengenai bolos kelas di teleponnya.
“Dan bukan aku yang mengundangnya. Itu paman Noah.”
“Wow. Secepat itu hubungan kalian direstui. Tapi gimana dengan paman Amir? Dia pasti kebalikan dari keputusan paaman Noah, ia kan?” Nadya benar-benar penasaran dengan informasi Hazel.
Hazel tidak merespon pertanyaan Nadya. “Intinya aku mau mengajakmu juga, kita rayakan bersama saja. Lebih berkesan seperti itu.” Nadya hanya menjawab dengan anggukan.