Waktu telah berlalu, setiap sepulang dari kelasnya Hazel menghabiskan waktu di rumah, sesekali membaringkan badannya di kasur mendiang orang tuanya, tidur siang yang tidak pernah ia lakukan. Kadang ia membersihkan toko kecilnya, dan hari ini ia hanya menghabiskan waktu seperti pemalas yang sedang tidak memiliki motivasi.
Beres-beres toko udah, bersihin rumah juga udah. Sekarang terasa membosankan karena tidak ada yang bisa dikerjakan. Ternyata betul kata Nadya, tidak enak menjadi pengangguran.
Hazel menatap langit-langit kamar mendiang orang tuanya, ia telah menyelesaikan bacaannya yang kini terasa membosankan.
Ada sesuatu yang hilang. Apa ya?
Saat ia berpikir keras tentang apa yang hilang itu, ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk, dari Pandji yang sudah lama tidak datang, tapi ia sering menelpon. Dan seperti biasa Hazel hanya menolak panggilan itu dan mengalihkannya ke pesan.
“Apa ada sesuatu yang kau inginkan di malam tahun baru?”
Pesan itu tidak sengaja ia baca di atas layar notifikasi. Hazel merasa bingung, lalu ia mengingatnya.
Perayaan pesta tahun baru ya.
Ia baru menyadari pesta tahun baru yang direncanakan paman Noah akan dilaksanakan dua minggu lagi, ia bahkan tidak mengingat acara itu.
Memang aku mau apa? Aku cuma ingin segera menyelesaikan paket B ku dan lanjut ke jenjang selanjutnya. Memang dia bisa mengabulkan itu?
Hazel memilih untuk mengabaikan pesan itu, dan kembali larut kepada kebosanan. Ia mencoba memejamkan mata di saat waktu pukul 3 sore, lagi-lagi ponselnya berdering. Kali ini nama Nadya yang terlihat di ponselnya. Hazel tidak ingin terlihat seperti ia sedang bosan, menunggu dering ketiga untuk mengangkatnya.
“Zy, ayo kita belanja!” Serunya.
“Apa? Belanja apa?”
“Persiapan tahun baru. Ayo kita belanja sama Sofia, ke mall di kota!”
“Kalian saja deh,” Jawabnya malas. Hazel memiringkan badannya dan menenggelamkan wajahnya di bantal. Ia benar-benar bosan sampai tidak ingin melakukan apapun. Ia ingin ke restoran, tapi paman Amir melarangnya.
“Kami sudah di depan rumahmu.”
Hazel buru-buru mematikan ponselnya dan turun. Ia sedikit kesal dengan Nadya, tapi ia tidak merasa kaget dengan kebiasaannya yang tiba-tiba. Mau tidak mau ia akan mengantar Nadya ke mall, karena hanya dia yang punya lisensi mengemudi.
Hazel membuka pintu dengan wajah cemberut. Seketika wajahnya berubah, ketika mendapati paman Noah juga berdiri di belakang Nadya. “Loh?”
“Ayo belanja!” Seru Nadya, dia yang paling nampak bahagia. Dan Sofia yang terlihat malu-malu.
“Dengan Paman juga?”
Paman Noah hanya melambaikan tangan dengan tersenyum. Kali ini ia memakai kemeja hitam dan celana panjang senada, tidak seperti biasanya terlihat nyentrik hari ini paman Noah terlihat rapi. “Um… masuk dulu saja. Aku akan siap-siap.” Hazel merasa tidak enak jika harus membuat paman Noah yang sudah menunggu.
Yah sesekali belanja, apa aku juga harus membelikan paman Amir pakaian baru?
Hazel buru-buru naik dan bersiap. Ia teringat paman Amir.
“Ah tapi kenapa paman Noah juga ikut? Sedang tidak bekerja ya?” tanya Hazel yang baru turun dari tangga, seperti biasa ia hanya memakai hoodie dan jeans robek yang terlihat pas dengan bentuk tubuhnya. Terlihat santai dan sporty.
Paman Noah hanya tertawa, “Penginapannya tidak akan lari kok, toh sudah ada petugas masing-masing di tiap bagian.”
“Kau sendiri seharian ngapain? Gimana rasanya jadi pengangguran?” ledeknya
Nadya hanya menyeringai mendengar kata pengangguran seolah ia juga ikut di tanyai. Sofia sendiri masih bingung ia masih belum tahu keadaan Hazel.
“Apa paman mau menyetir?” tanya Hazel.
“Tentu saja! Bisa-bisa aku disalahin sama Amir karena membiarkanmu menyetir saat aku ada.” Celetuknya sambil menadah kunci.
Paman Noah berjalan dahulu mengeluarkan mobil dari garasi di ikuti Nadya.
“Memang kau sudah tidak bekerja lagi?” tanya Sofia kepada Hazel yang masih di depan pintu untuk menguncinya. “Ah ia, kau belum tahu ya. Tapi apa kau tadi ke restoran?” tanyanya balik. Hazel pikir Sofia dan Nadya bertemu paman Noah di restoran.
“Ya tapi aku tidak sampai masuk sih, aku dan Nadya menunggu di luar. Dan restoran tadi nampak ramai sekali.”
“Hm… begitu ya. Sayang sekali aku tidak boleh ke resto lagi. Hanya sabtu minggu saja.” Sofia Nampak Bingung, “Tapi kenapa?”
Hazel tersenyum menanggapi kekhawatiran Sofia, “Karena pamanku, adik Ayahku sudah pulang. ia pensiun dari pekerjaannya. Dan sekarang menggantikan posisiku,” jelas Hazel. Nadya sudah memberi aba-aba untuk segera naik.
“Karena kita belanjanya sore, dan akan ada banyak yang dibeli, nantinya kita akan menginap di penginapan.” Ucap nadya setelah mereka sudah berada di tengah jalan
“Apa?!” Hazel terkejut, “Kenapa tidak kau beritahu sejak tadi?!” ia nampak sangat kesal. Ia menatap paman Noah di samping tempat duduknya yang sedang fokus mengemudi. Hazel diminta Nadya untuk duduk di depan. Dan Nampak Sofia juga kebingungan, ia tidak tahu rencana itu.
“Tapi besok itu akhir pekan, akhirnya aku ke resto lagi setelah hampir seminggu menganggur,” Keluh Hazel. Ia menjadi lesu. Paman Noah hanya tertawa melihat semangat keponakannya itu.
“Ya aku tau. Karena kau pasti tidak akan mau belanja saat akhir pekan. Sedangkan kau ada kelas di pagi hari. Dan kebetulan Sofia sampai di sini sore tadi,” Nadya membela diri.
“Tenang aja, kita selesaikan belanjanya kurang dari 4 jam, lalu tidur di penginapan temanku. Kita pulang subuh-subuh jadi kau tetap bisa bekerja pagi,” Paman Noah mencoba menjelaskan kepada Hazel yang sudah terlanjur murung.
“Paman Amir?”
“Aman,” jawab Nadya ceria. Ia senang rencananya berhasil, ini semua berkat ikutnya paman Noah.
“Nad kau juga pasti tidak menjelaskan ini pada Sofia kan? Kau membohonginya lagi,” celetuk Hazel kesal. Ia melirik kearah Sofia yang nampak bingung tapi ia nampak diam saja kemauan sepupunya itu. Suasana di dalam mobil agak riuh, karena perdebatan mereka berdua. Paman Noah merasa sedikit terganggu. Ia menghidupkan radio untuk meredam perdebatan yang mengganjal telinga nya itu.
“Ya oke terserah Nad.” Hazel menutup percakapan dengan ketus, ia menyadari ada dua orang yang sekarang tidak nyaman dengan perdebatannya dengan Nadya.
Hazel menghela nafas, ia mencoba mengontrol emosinya. Ia tidak ingin semakin memberatkan paaman Noah dan Sofia.
Nadya selalu saja merencanakan hal yang tidak perlu.
“Maaf ya paman, kami jadi merepotkanmu,”
“Huh? Tidak apa. Sebenarnya aku yang mengajak Nadya untuk mengajakmu berbelanja.” Noah menggaruk-garuk rambutnya, ia berharap Hazel tidak keberatan dengan keputusannya, “Untuk persiapan pesta tahun baru. Aku bahkan sudah mengundang beberapa temanku,” ia berhenti sebentar, “Um… kau tidak keberatan kan?”
Hazel hanya menggeleng. “Tidak masalah, toh Pandji yang orang asing saja di undang.”
Toh ada orang luar lainnya. Ia harus terbiasa berkumpul dengan orang baru kan.
“Dia? Bukannya di teman dekatmu?”
“B-bukan!” Hazel tersipu. Paman tak bergeming setelah mendengar itu, ia tidak ingin banyak bertanya yang meski ia tahu yang sebenarnya.
“Seharusnya aku yang meminta maaf ya. Karena aku kalian dua bersaudara malah bertengkar. Tapi Amir sudah mengizinkan kok. Itu karena aku ikut,” paman Noah tertawa percaya diri meyakinkan Hazel untuk tidak perlu khawatir.