Perayaan Tahun Baru

1067 Kata
Hazel tidak dapat ikut menyiapkan persiapan pesta tahun baru yang diadakan di penginapan paman Noah. Tahun baru kali ini di akhir pekan, ia tidak ingin membuang kesempatannya bisa ke restoran karena hanya dua hari setiap minggu ia hanya diizinkan paman Amir untuk bekerja. Karena Malam nanti menjadi penghabisan tahun, pantai nampak sepi di pagi hari, wisatawan mulai berbondong-bondong datang sejak siang, dan mulai memadat di sore hari. Sedangkan restoran kami sudah memberikan peringatan tutup sebelum jam 10, dan penginapan paman Noah membatasi pengunjung. Ia juga tidak menyewakan lahan karena akan diperuntukan untuk barbekyu kami. Hazel sendiri tidak terlalu menantikan acara ini, tahun lalu dan biasanya mereka hanya akan berkumpul bersama dengan keluarga Nadya di restoran ini. Membuka restoran sampai pagi karena wisatawan terkadang makan bersama dengan keluarganya di tengah malam. Tapi tahun ini akan sama seperti saat mendiang ayahnya masih hidup. Hazel sedikit tidak mengerti tapi ia menerima perlakuan baik paman Noah yang baru-baru ini ditujukan padanya, meski ia tidak mengerti kenapa paman Noah juga baru muncul di kehidupannya saat paman Amir juga pulang. Tapi Hazel memilih menyingkirkan pikiran negatif itu, toh acara ini ditujukan kepada Paman Amir yang baru pulang. Dan Paman Amir nampak antusias merayakan tahun baru bersama. “Meski tahun baru, tidak akan ramai yang makan di restoran,” Celetuk paman Zali. Hazel hanya mendengarkan mereka berdiskusi. Memang benar sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pengunjung pantai di malam tahun baru pasti sudah mempersiapkan bekalnya masing-masing. Mereka akan menikmati malam tahun baru dengan memanggang sate di perapian atau jagung manis dan malam akan sangat riuh, seperti makhluk malam yang berkumpul di satu tempat. “Zy kau tidak ke tempat paman Noah? Ada teman-temanmu di sana kan. Tinggalkan saja restoran ke paman. Dua orang juga sudah cukup. ” Apa dirinya tidak dibutuhkan lagi sejak paman Amir ada. “Tidak apa, paman. Persiapannya sudah selesai sejak kemarin. Aku membantunya sehabis pulang kelas. Sekarang hanya tinggal menyiapkan perapian dan pemanggangan aja paling,” Hazel duduk di depan kasir menonton tv yang menyala memberitakan keadaan jalanan yang seperti banjir kendaraan dari roda dua sampai seterusnya. Orang-orang berbondong-bondong mudik ke tempat kelahiran mereka, berita yang membosankan tapi menarik perhatian Hazel. Hazel teringat perkataan Paman Noah yang pernah mengatakan bahwa ia mengenal ibunya sejak masih di kelas internasional saat di perguruan tinggi, mereka tidak dari Negara yang sama. Ia penasaran, bagaimana rasanya di kelas internasional. Dan Negara ibunya, tidak ada satupun yang membicarakan ini padanya bahkan paman Amir sekalipun. Apa mereka mencoba menyembunyikannya? Atau memang ibuku semisterius itu? Tapi jika paman Noah pernah di satu kelas, tentu dia tahu dari mana ibu berasal kan. Apa aku harus menjadi dekat dengan Paman Noah? Untuk mencari tahu tentang ini. “Kau yakin ga mau istirahat dan main sama teman-teman mu,” tanya paman Amir lagi. “Aku bahkan bukan anak-anak lagi yang hanya memikirkan main dan belajar,” Celetuknya sedikit kesal dengan perlakuan paman yang agak berlebihan hari demi hari. Paman memilih tak menjawab karena kalah telak. Ia juga menyadari Hazel yang tidak nyaman. Tidak seperti perkiraan yang akan tutup di jam 10, restoran tutup lebih awal. Mengingat pantai semakin memadat tetapi tidak ada satupun yang mengunjungi. Paman Zali memilih menutup lebih awal karena merasa kesal, juga karena ingin Hazel segera bergabung dengan yang sudah berkumpul di penginapan paman Noah. Meski Hazel tidak begitu tertarik dengan semua ini. Pandji bahkan sudah ada di sana sejak sore. Hazel yang baru datang dengan jalan kaki, merasa letih. Ia memilih duduk di ayunan gantung yang biasa digunakan paman Noah bersantai. Nampak semua persiapannya telah selesai, tiap pohon di lahan penginapan bahkan di tempeli lampu hias natal bulat. Bahkan ada satu di pohon ayunan menggantung. “Hazy!” Haaa, biarkan aku sendiri untuk beberapa saat. Pantai yang sangat ramai dari hari pekan sudah membuatku sesak. Pandji sudah berada di belakangnya, “Kau tidak menjawab pesanku.” Hazel tidak menoleh, ia menggerakan hammock ayunan gantung, “Karena aku tidak ingin hadiah apa-apa,” ucapnya datar. “Hazel!!” teriak seorang perempuan yang melengking tak jauh dari mereka, “Kenapa kau tidak berganti pakaian dulu sebelum kesini. Ini pakaian kau di resto kan, Nadya memperhatikan Hazel yang santainya menyandarkan diri di ayunan gantung, ia hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans robek yang lebih banyak robekan tidak disengaja ketimbang robekan modelnya. “Memangnya aku harus pakai apa?” “Dress yang kita beli dua minggu lalu!” “Ogah!” jawabnya dengan malas. “Ah padahal aku dan Sofia memakainya. Kau ini tidak bisa menepati janji sekali.” Nadya yang kesal meninggalkan mereka berdua. Pandji diam untuk sementara membiarkan Hazel tenang setelah berdebat dengan Kakaknya. Ia kemudian duduk di tepi ayunan gantung, yang kebetulan terdapat kursi kayu kecil. Memangnya kapan aku berjanji sih? “Tidak perlu terlalu kesal. Tidak apa. Kau tetap cantik menjadi dirimu sendiri,” ucapnya menenangkan Hazel yang sedang kesal. Ia memasang wajah yang ceria, siapapun yang melihatnya pasti akan ikut bahagia. “Hari ini kau rapi sekali. Mau tebar pesona dengan siapa?” Sindirnya setelah melihat Pandji dengan rambut yang klimis rapi, mengenakan kemeja lengan panjang dan sweater, ia juga mengenakan jaket denim gelap. Membuatnya tampak stylish dan segar. “Siapa lagi. Satu-satunya yang mau aku lihat di sini ya kau,” Jawabnya dengan nada yang seceria mungkin, tidak lupa senyum lebar yang membuatnya bertambah tampan. “Ah semua orang terlihat sangat rapi, apa aku pulang saja ya. Toh aku tidak terlalu tertarik dengan beginian,” celetuknya. Pandji berdiri memegang tangan Hazel yang nganggur, “Apa?” tanyanya mendongak ke wajah lelaki itu dengan tersipu. Tidak terlalu jelas terlihat di antara mereka, karena keadaan yang gelap hanya diterangi beberapa lampu hias berwarna. Itu juga pasti lampu sisa yang menajadi hiasan di tempat acara. “Supaya kau tidak pergi.” Pandji berlutut di depan Hazel, ia mendekatkan wajahnya, menatap lekat setitik pantulan cahaya di mata cokelat terangnya, dan menaruh kedua tangannya di pipi Hazel yang memerah tanpa ia ketahui. Jika bukan karena lampu hias ini, mereka berdua tidak akan dapat melihat satu sama lain. Hazel yang tersipu, memegang tangan Pandji di pipinya. “Kau kedinginan?” tanyanya kepada Hazel. Hazel segera melepas tangan Pandji dari pipinya, “Tidak juga.” Pandji menaruhkan jaketnya di punggung Hazel, “Tidak usah!” jawabnya ketus, ia mengembalikan jaket itu di tangan Pandji dan meninggalkannya. Hazel memilih bergabung dengan keramaian. “Oh kau bersenang-senang ya,” ucap paman Noah menyeringai penuh arti. “Aku baru datang, paman,” jawabnya menyembunyikan kebenaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN