Perayaan Tahun Baru II

1050 Kata
Tapi kenapa di sini ramai sekali? Hazel merasa penasran, ia mencari paman Noah yang tadi hanya menyapanya sebenatar. “Bukannya kata paman hanya mengundang beberapa teman? Kenapa sangat ramai?” tanya Hazel yang sedikit berteriak karena lantunan musik yang dihidupkan memenuhi ruangan terbuka ini. Pandji yang tadi ia tinggalkan di belakang kini telah menyusul Hazel, ia menunggu Hazel selesai bicara dengan paman Noah. “Oh ini acara yang dirayakan penginapan. Mereka adalah tamu dan karyawan di sini. Kau tidak perlu khawatir. Kita punya meja kita sendiri. Di belakang penginapan,” teriaknya agar hazel mendengar jelas yang ia ucapkan. Paman Noah yang meninggalkan mereka melempar senyum penuh arti ke arah Pandji. “Apa itu tadi?” Hazel menatap tajam ke arah Pandji, “Kau merencanakan sesuatu bersama paman Noah?” celetuknya menginterogasi. “A-aku juga tidak tahu sih. Dia sedari tadi agak aneh. Mungkin dia sedang mabuk.” Pandji mengingat ada bau alkohol ketika ia sedang berbicara dengan paman Noah. Mabuk ketika belum masuk tahun baru? Tidak heran sih paman. Hazel berjalan-jalan menyusuri perayaan pesta yang diadakan oleh penginapan paman. Terlihat cukup megah. Tidak mengherankan karena tamu-tamu yang datang juga bukan tamu sembarangan. Tak mengherankan juga Nadya tadi sangat antusias dan ingin memaksa dirinya untuk merapikan diri. Tetapi aku terlalu lelah untuk pulang dan berganti. Aku menghormati undangan paman Noah. Kalau aku pulang ke rumah, sudah pasti aku gak mau kesini karena capek “Kau tidak apa Zy?” tanya Panjdi yang menyadari Hazel nampak tidak semangat. Hazel hanya mengganggu, ia hanya ingin langsung duduk di acara pesta itu. Entah pesta yang mana. “Tempatnya yang mana?” tanya Hazel kepada Pandji yang sedari tadi membuntutinya yang menyusuri tiap sudut perayaan untuk tamu-tamu ini. Pandji memimpin jalannya agar Hazel mengikutinya dari belakang. - Waktu telah menunjukan pukul 23.30 malam, Hazel hanya duduk di kursi yang di depannya meja panjang dan di sampingnya pemanggangan. Paman Amir dan paman Zali sudah di sana sejak tadi, tanpa ia ketahui. Mereka sudah banyak memanggang. Di samping kanannya ada Nadya dan Sofia yang sangat cantik dan anggun. Mereka menggunakan dress warna senada dengan gaya yang berbeda. Di samping kirinya, ada Pandji yang sedari tadi menuruti kemauan Hazel, meski Hazel tak memintanya. Ia terus mengambilkan camilan-camilan yang mulai habis di piring Hazel, mengambilkan daging dan jagung bakar yang belum Hazel sentuh sama sekali. Ini pesta yang cukup lengkap. Tapi tetap saja terasa kosong. Nadya dan Sofia sedang berbincang dengan seorang perempuan yang paman Noah undang secara langsung. Ia dikenalkan sebagai saudara jauhnya. Memang benar, meski ramai di meja ini, semuanya berhubungan, hanya ada keluarga di sini. Jadi mau tak mau, meski rasanya kosong karena tidak ada mendiang orang tuanya, acara ini didedikasikan untuk berkumpulnya kembali keluarga yang sempat terpecah. Paman Noah yang sudah datang membawa dua orang teman lagi yang ia kenalkan sebagai saudara jauh. Salah satunya membuat Hazel teringat orang itu. Ia adalah Mikail teman Arnesh. Kalau ada temannya, apa orang itu akan datang juga? “Kau kenal dia?” Tanya Pandji berbisik saat melihat Hazel menatap lelaki yang baru datang dengan seksama. “Kau lupa? Dia kan yang pernah datang dan makan di restoku hari itu,” ucapnya. Pandji mencoba mengingat-ingat sampai akhirnya ia menyerah. “Kau ingin sesuatu?” Hazel menolak. Perutnya sudah sangat penuh. “Zy, kau semakin dekat ya dengannya,” Nadya berbisik dan menyenggol lengan Hazel. Ia hanya menjawab dengan tatapan kesal. “Acaranya apa saja sih?” tanyanya dengan nada pahit. “Cuma kau yang ngerasa bosan saat orang lain bersenang-senang,” ucap Nadya setengah berbisik. Sofia yang mendengar itu menyenggol Nadya untuk menyadarkannya agar tidak terbawa suasana. Hazel hanya mengalihkan pandanganya. Meski itu benar, kini ia harus hati-hati bersikap. Ia tidak ingin orang lain merasa terluka terlebih paman Noah dan Paman Amir yang sangat menikmati acara ini. “Setelah ini sepertinya kita akan membakar kembang api, lalu setelah itu bermain kartu. Tadi aku lihat banyak kartu di meja resepsionis,” bisik Pandji yang menguping pembicaraan Hazel dan Nadya. Tiba saatnya kembang api dinyalakan, mereka menyalakan kembang api setelah melihat kembang api dari arah berlawanan telah ditembakkan ke langit. Hazel yang awalnya merasa bosan cukup menikmati pemandangan kembang api yang berkobar di atas langit. Seperti bunga warna-warni yang bermekaran di hamparan tanah yang gelap. Hazel memandangi cahaya kembang api bersahut-sahutan dari tempatnya dan tempat lainnya, mereka sangat siap menyambut tahun baru. Menembakan kembang api berlangsung selama 30 menit. Langit saat itu terasa terang seperti bukan langit malam. “Cantik ya.” Ucapan Pandji di sampingnya membuyarkan lamunannya. “Aku terlambat ya?” ucap seorang lelaki yang sedang berbincang dengan paman Noah. Meski ia membelakangi Hazel, gadis itu tidak melepas pandangannya, ia seperti hapal dengan postur tubuh lelaki yang mengenangkan setelan vest gelap, lengan kemeja yang sedikit kusut ia gulung sampai setengah lengan, dan rambut klimisnya yang mulai berantakan karena terpaan angin. Ia membalikan badan, menuju meja yang sama dengan Hazel. Mata mereka bertemu beberapa saat. Wajah letih dan bingungnya tidak dapat ia sembunyikan. Ia memilih duduk di samping temannya yang dikenalkan paman Noah sebagai saudara jauh. Apa hubungannya dengan Paman Noah ya? Tidak mungkin hanya teman. - Gadis ini lagi. Orang tua itu hanya bilang acara ini didatangi teman-teman dekatnya dan keluarga jauhnya. apa hubungannya dengan gadis pengantar makanan. Aku bahkan sedang tidak rapi sekarang. Arnesh ingin duduk lebih jauh dari gadis itu, tapi temannya Mikail memanggilnya dan tidak kursi lain yang tak bertuan di sini. Mau tidak mau ia duduk tidak jauh dari gadis itu. Lelaki itu lagi. Saat itu juga mereka bersama. Bahkan ia sampai mengantarnya sampai pergi. Apa hubungan mereka? kenapa dia terus menatapku? Kenapa aku merasa seperti di benci bahkan saat aku tidak tahu apa kesalahanku. Urg menyebalkan. Mikail yang menyadari temannya itu belum sempat makan malam membawakan dua piring penuh daging dan sayuran serta jagung dan sosis bakar. Ia yang paling tahu Arnesh menyempatkan datang setelah pulang dari kantornya. Ia juga paling tahu, ia diundang karena Arnesh juga di undang. Mikail yang telah mengambilkan makanan untuk arnesh melanjutkan menggulir pesannya. “Beberapa hari kau diberi izin cuti?” “Tiga hari,” jawabnya datar, sesekali Arnesh menatap Hazel yang sengaja membuang muka. Dan lelaki yang memiliki tampang cupu di matanya. “Yang lainnya akan datang besok pagi,” Tambahnya. Ia berlalu pergi, “Aku mau merokok sebentar.” Lalu meninggalkan Arnesh yang sendirian menyantap barbekyunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN