Sakit Kepala

1033 Kata
Pandji yang sedari tadi mengiikuti Hazel sepanjang perayaan pesta, membuatnya resah. Hazel jadi kesulitan untuk berbicara dengan paman Noah. Meski ia sangat ingin mengetahui banyak hal mengenai ibunya melalui pamana Noah, ia tidak ingin ada yang mengetahui. Hazel mencari ke sana kemari, ia menunggu waktu yang tepat paman Noah sendirian untuk menghampirinya. Meski cukup sulit, karena paman Noah yang sangat atraktif. Sesekali matanya tak sengaja berpapasan dengan Arnesh. Hazel tanpa sadar mengawasi lelaki itu yang hanya diam saja di seberang meja, sesekali ia berbicara dengan Mikail temannya dan Paman Noah. Saat Arnesh hampir selesai berbicara dengan paman Noah, Hazel mendekatkan kepalanya ke arah Pandji. Pandji yang menyadari itu sempat tersipu, ia ikut mendekatkan diri. "Aku ingin berbicara secara pribadi dengan paman Noah. Jadi kumohon jangan ikuti aku," bisiknya sambil melirik ke arah lelaki di seberang meja yang juga menatapnya dengan datar. Pandji yang dapat perintah seperti itu, hanya mengangguk dengan wajah girang. Tidak perlu banyak hal untuk membuatnya bahagia. Hazel berdiri dan mendatangi paman Noah yang hampir selesai berbicara dengan Mikail, ia menunggu di belakang paman Noah seperti mengantri giliran. "Sepertinya ada yang ingin berbicara dengan kau." Orang itu dengan wajah setengah serius meninggalkan Hazel dan paman Noah. "Ada apa?" tanya paman Noah penasaran. Ia sejak awal perayaan pesta semi formal, selalu menyimpulkan senyumannya. Hazel menghela nafas panjang, menguatkan keberanian. "Aku ingin berbicara secara pribadi dengan paman. Hanya saja aku tidak punya waktu yang tepat." Hazel terdiam sejenak, "Aku tau ini juga bukan waktu yang tepat, jadi aku mohon paman bisa menghubungi aku jika sedang kosong." Hazel berfikir sejenak untuk menambahkan. Sedangkan paman Noah hanya tersenyum menunggu gadis itu selesai berbicara. "Pasti mengenai Rachel- maksudku, ibumu ya?" Tembaknya. Hazel hanya mengangguk. "Ya oke. Jika aku ada waktu untuk mengobrol di luar dari perayaan ini ya." Paman Noah mendongakan kepalanya untuk berfikir melanjutkan apa yang harus ia katakan, "Tapi sebagai gantinya kau harus membantuku, ya. bagaimana?" Dia menyeringai. Hazel menegangkan alisnya, ia bingung tapi mau tidak mau ia harus menyetujui permintaan paman Noah. "Aku akan lakukan apapun, hanya jika itu masih di batas manusiawi." "Yah manusiawi itu relatif loh." Paman Noah tertawa, meski ia tidak kaget dengan jawaban Hazel. "Tenang saja, permintaan tolongku tidak yang aneh-aneh kok." Hazel mengangguk, kini rasa haus akan penasaran nya sedikit demi sedikit melegakan. Setidaknya, paman Noah yang biasanya berlaku sesukanya bisa diajak kerja sama. Hazel hanya berharap permintaannya tidak berlebihan. Tak berlangsung lama setelah mereka berbincang, Arnesh datang melewati punggung Hazel menghampiri paman Noah. Hazel sempat melirik nya sebentar sebelum Pandji menjadi lengket kembali dengannya. Toh lagi pula, Hazel tidak ingin mendengar perbincangan mereka. Ia juga tidak ingin tahu hubungan apa yang mereka miliki. Ini bukan seperti aku hanya mendekati paman Noah demi keuntungan peribadiku. Jikapun iya. Paman sendiri mendekatiku karena ibu, kami tidak terikat darah. Lalu apa hubungnanya dengan Ibu sampai membuatnya ikut menetap di sini. Negaranya pasti lebih baik kan. Hazel terus bertanya-tanya dalam hati. "Apa hubunganmu dengan nya?" tanya Arnesh setengah berbisik di tengah perayaan. "Siapa?" jawab Noah ingin memastikan. "Ya dengan gadis pengantar makanan." "Oh aku baru ingat. Kau pernah bertemu dengannya waktu itu ya. Lalu apa kau tertarik karena dia gadis yang cantik?" Noah terkekeh, ia menenggak botol minuman keras di tangannya dengan santai. Ia tidak perlu khawatir karena ia punya toleransi kadar alkohol yang tinggi. "Jangan bercanda. Dia hanya gadis pekerja di resto kecil. Kenapa aku harus suka padanya?" Arnesh meninggikan suaranya, ia menjawab pertanyaan paman dengan nada jengkel dan kesal. "Tidak- maksudku, apa hubunganmu dengannya." "Aku tidak menyangka saja, kau akan mengucapkan itu hanya kau ingin menyembunyikan perasaanmu." Paman Noah menyeringai dengan santai, "Yah ini bukan seperti aku tidak mengenalmu. Dan hubunganku dengannya ya? itu rahasia." Noah tertawa terbahak-bahak dan menenggak lagi minumannya. Ia berlalu dan membaur ke keramaian. "Oh ia. Kau bisa langsung ke kamar ya tuan muda." Tambahnya sebelum pergi dengan tawa di mulutnya yang tak berhenti ia kumandangkan. Dasar orang tua mabuk sialan. Arnesh menghela nafas panjang. Ia memikirkan ketidaksadaran yang telah ia ucapkan. Merendahkan profesi seseorang bukan gayanya. - "Hazy," panggil Sofia. Yang sedari tadi sibuk membantu Nadya yang ikut membantu Paman Zali. Panggilan itu membuyarkan lamunannya. "Ya Sof?" sahutnya saat ia sadar yang memanggilnya ialah Sofia. Hazel melirik Pandji yang sedari tadi berdiri di sampingnya, mengisyaratkannya untuk memberikan waktu bersama dengan Sofia. "Kau nampak gelisah sejak tadi. Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanyanya hati-hati. Ia nampak anggun malam ini, dengan gaya rambut yang di gerai seperti biasa yang ia lakukan. Kenapa Pandji bukan melirik gadis sepertinya? "Zy…" panggilnya sekali lagi. "O iya maaf Sof. Tebakanmu benar. Aku sedang memikirkan banyak hal yang belum terjawab dan membuatku tidak fokus dengan pestanya. Ditambah Pandji sedari tadi mengikuti dari belakang. Membuatku sakit kepala saja." Hazel menggerutu sambil memegang lehernya yang kaku, sesekali ia menggoyangkannya kekiri dan kanan. Sofia yang melihat itu nampak prihatin dengan Hazel. Tapi ia tidak ingin bertanya lebih lanjut perihal itu. "Zy kalau kau lelah kenapa kau tidak pulang saja?" "A-apa? memang boleh?" "Aku bisa minta izinkan kepada paman Noah dan paman Amir." Sofia mencoba untuk menawarkan bantuan. "Tidak-tidak jangan paman Noah atau paman Amir," desaknya. "Mereka sedang sangat menikmati acara tahun baru ini. Aku tidak ingin mengacau. Aku pergi keluar dulu saja beristirahat." Hazel ingin keluar dari keramaian yang membuatnya sakit kepala. "K-kau mau istirahat kemana?" tanya Sofia penasaran. "Ke ayunan paman. Mungkin." Tidak ada tempat yang lebih nyaman dan sepi dari di ayunan tadi. "Tolong bilang kepada Pandji untuk tidak menganggunguku setidaknya selama 30 menit," pintanya Sofia. "Ah. O-ok," jawabnya ragu. Tidak berlangsung lama setelah Hazel berlalu Pandji menghampiri Sofia yang sedang menguatkan tekatnya. "Kemana Hazy mau pergi?" tanyanya penasaran kepada Sofia. "Oh dia mau keluar sebentar karena sedang pusing katan-" "Pusing?'' potongnya dengan nada khawatir. "Ah. Hanya karena di sini terlalu ramai. Dia bilang untuk tidak mengganggunya setidaknya selama 30 menit.'' Sofia yang telah mengucapkan semua yang diminta Hazel segera berlalu. Ia tahu ia tidak akan dapat menjawab pertanyaan lainnya jika Pandji melemparkan pertanyaan padanya. Begitu ya... Meski Pandji mengkhawatirkan Hazel. Ia memilih untuk menuruti permintaannya. setidaknya sampai 30 menit kedepan. Tidak akan lebih dari itu. Karena setiap hari perasaan cintanya Hazel semakin besar dan tak terbendung. Tapi, hari ini aku harus mengungkapkan perasaanku padanya. Aku tidak bisa pulang tanpa mendapatkan jawaban 'Ya' miliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN