Hazel duduk di ayunan paman Noah, menikmati kesunyian. Ia menghela nafas dengan berat.
Lega rasanya…
"Haaa, apa semua pesta selalu ramai dan bising," gumamnya. Ia mengayun pelan, melepas sandalnya dan memainkan pasir putih.
Hazel yang sedang menikmati kesendirian tidak sadar seseorang dari jauh memperhatikannya. Arnesh yang sedang merokok dan menghindari keramaian.
Lelaki itu sedang menikmati isapan manis rokoknya dan memperhatikan gadis aneh yang sedang menikmati ayunan di kegelapan.
Pemandangan yang indah.. Huh?
Arnesh tertawa dalam hati memperhatikan Hazel yang sedang bergumam dalam kesepian dan kegelapan.
-
Di dalam keramaian perayaan tahun baru, Sofia dan Nadya sibuk membantu paman Zali dan paman Amir.
"Kemana Hazel?" tanya paman Amir, tiba-tiba ia tersadar ia tidak menemukan keponakannya sejak tadi.
Sofia hanya diam saja, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Nadya juga ikut melirik kesana kemari.
"Kemana gadis itu?" bisiknya kepada Sofia yang berlagak tidak tahu.
Sofia hanya menggeleng kepala dengan lembut.
"Apa paman mau aku mencarinya?" tawar Nadya kepada paman Amir.
"Memang kemana dia? lengket terus sama si anak lelaki kota itu. Siapa? Pandji ya?"
Paman Amir memasang wajah kesal, yang tadinya ia memasang wajah gembira.
Nadya hanya mendengarkan seksama. Begitupun dengan Sofia.
"Biar aku cari dia." Paman Amir menyeletuk.
Sofia yang mendengar itu ia menjadi panik. "P-paman. Biar aku dan Nadya yang mencarinya," sahut Sofia. Nadya hanya melirik penuh arti.
Sofia menarik tangan Nadya untuk mengikutinya menjauh dari keramaian. Ia bahkan tidak menunggu paman Amir mengiyakan.
"Kenapa sih?" tanya Nadya. Tidak terlihat raut bingung di wajahnya, dia hanya ingin Sofia berbagi rahasia dengannya.
"A-aku tidak tahu juga. Tapi tadi ketika Hazel meminta aku untuk menjauhkan Pandji darinya setidaknya 30 menit. Seorang tamu dari paman Noah mengikutinya dari belakang."
Sofia masih memegangi tangan Nadya dengan setengah berbisik.
Salah satu tamu paman Noah?
"Siapa?" tanya Nadya.
Sofia hanya menggeleng kepala. Ia tidak mengenal lelaki itu. Tapi saat di tengah perayaan, sesekali ia menyadari lelaki itu memperhatikan Hazel dari bangkunya dengan seksama.
“Siapa di sana!” panggil Hazel yang menyadari seseorang sedang berada dekat dengan jangkauannya dan sejak tadi mendengarkan gerutunya.
“Bukan siapa-siapa.” Laki-laki itu mendekat dari tempat berdirinya yang mungkin saja berjarak lima meter dari Hazel yang sedang duduk di ayunan. “Aku hanya tamu biasa yang juga diundang oleh si pemilik,” ucapnya sembari mendekatkan wajahnya kepada Hazel.
Meski di pohon di mana Hammock diikat telah dipasangi lampu hias berwarna, wajah mereka berdua masih samar. Tapi Hazel cukup terkejut menyadari bau harum yang di bawa lelaki itu.
Dia?!
“Kau belum menyadari siapa aku?” kini Arnesh berbisik di telinga Hazel.
Gadis itu cukup terkejut dengan cara Arnesh menyapanya untuk pertama kali, ia spontan melayangkan pukulan acak yang akhirnya mendarat di rahang lelaki itu.
Arnesh yang tidak melihat pukulan Hazel, menerimanya sampai tersungkur. Ia terjatuh di tanah dengan memegang rahangnya, sangat kesal.
Hazel yang mendengar suara orang di depannya jatuh mencoba mencari ponsel dan menghidupkan lampu senternya.
“Maaf. Sini mana tanganmu.”
Lelaki itu hanya memasang wajah sangat kesal. Hazel terus menyoroti lampu ke arah wajahnya. Arnesh yang kesal karena dipukul dan dibuat jatuh, bertambah kesal karena sinar lampu yang menyilaukan matanya. Ia membuang muka.
Brengsek. Seperti sedang ketahuan melakukan sesuatu hal buruk.
“Sini tanganmu.” Hazel memintanya sekali lagi.
Gadis itu setelah yakin lelaki yang jatuh adalah orang yang ia bayangkan, ia memasang wajah datar merasa tidak bersalah.
“Toh ini salahmu!” gertak Hazel yang uluran tangannya belum mendapatkan sambutan. “Kalau kau tidak mau ya tidak apa.” Hazel kini membuang muka dan menurunkan lampu senter ponselnya.
Kini meski tidak seterang ketika Hazel mengangkat lampu senter, tapi keadaan mereka tidak segelap sebelum lampu itu dihidupkan. Arnesh mengulurkan tangannya. Ia sedikit malu dan kesal. Setidaknya ia ingin membalas gadis sombong di depan matanya.
“Oh masih butuh bantuan?” Hazel memasang wajah menjengkelkan. Setidaknya, itu cukup menjengkelkan di mata Arnesh.
Hazel segera mengulurkan tangan dan menyiapkan tenaga untuk menarik lelaki yang cukup menyedihkan yang sedang terjatuh di depannya. Ia masih memasang wajah meledek. Bahwa lelaki sombong sepertinya juga butuh bantuannya. Gadis itu tertawa dalam hati.
Arnesh segera menangkap uluran itu dan menarik tangan Hazel dengan tenaga lebih kuat dari yang telah dikeluarkan Hazel. Membuat Hazel kehilangan keseimbangan di pasir putih yang berderai menenggelamkan setengah telapak kaki Hazel yang tak beralas. Ia terjatuh di depan Arnesh, di atas perutnya dan menjatuhkan ponselnya.
Hazel tidak lagi dapat melihat wajah lelaki di depannya meski dengan samar, tapi ia merasakan wajah lelaki yang menariknya lumayan dekat.
“Kau bodoh ya?” tanyanya polos dengan nada mengejek.
Arnesh yang mendengar itu sangat kesal. Ia mencari asal suara, mendekatkan mulutnya ke telinga Hazel, membisikan sesuatu, “Kau tadi sangat marah karena aku berbisik. Apa telinga mu sensitif?”
Lelaki itu tidak sadar ia sedang berbicara jauh dari telinga Hazel. “Kau bicara apa sialan? Berhenti berbisik-bisik.” Suara Hazel menyadarkan Arnesh, ia tadi sedang tidak berbisik di telinganya.
Arnesh mencoba meraih wajah Hazel dan menggenggamnya dengan kedua tangannya, “Aku bilang, apa telingamu begitu sensitif, itul-”
Hazel segera melepas kedua tangan hangat yang penuh pasir dari kedua pipinya, wajahnya memerah. Tapi ia bersyukur telah menjatuhkan ponselnya dan membuat lampu senter tertutup. Jika tidak, ia mungkin tidak akan memaafkan lelaki itu juga dirinya.
“Dasar m***m!” mereka berdua bergumam secara bersamaan meski gumaman mereka terbawa angin pantai yang sedang berlomba dengan ombak untuk berderu.
Hazel berdiri dahulu membersihkan kedua lututnya mengabaikan lelaki yang masih terduduk di pasir.
“Kau menyia-nyiakan kebaikanku. Akan aku ingat itu.”
Hazel pergi meninggalkan Arnesh dengan kesendirian. Selain ia kesal karena waktu sendirinya di ganggu, ia juga kesal dengan sikap lelaki itu.
Setelah beberapa kali dipertemukan, bukannya bersikap sopan. Dia malah bersikap kurang ajar begitu. Seperti orang yang sudah lama kenal saja. Padahal kami baru berbicara pertama kali itu. Ataukah sebenarnya dia ingat pertemuan pertama kami? Pertemuan kedua saat aku mengantar makanan? Atau ke tiga saat di restoran?
Hazel sedang berdiskusi dengan hati dan pikirannya.
“Yah meski dia ingatpun, siapa peduli. Aku tidak akan memaafkan orang yang tidak ada sopan santun seperti itu,” gerutu nya pelan, ia berbicara sendiri dengan memasang wajah, siapapun yang melihat tidak berani mendekatinya.
“AH itu dia!” Sofia dan Nadya yang masih berpegangan tangan dengan erat akhirnya menemukan Hazel yang berdiri di pojok pesta semi-formal di depan aula penginapan yang khusus para penginap, ia berdiri sendirian dengan memasang wajah mengerikan.