“Zy…” panggil Sofia ragu ketika ia melihat raut wajah Hazel.
Apa dia tidak mendapatkan waktunya sendiri? Apa orang itu betul-betul mengikuti Hazel dan mengganggunya?
“Kau kemana aja sih!”
“Nad. Simpan marahmu.” Hazel melirik arah suara kecil yang memanggilnya, “Karena aku jauh lebih ingin marah sekarang.” Mata Hazel memancarkan api yang membara.
“Um.. maaf zy tapi-”
“Kenapa kau minta maaf?” tanya Hazel. Gadis itu menyadari nada bicaranya membuat Sofia ketakutan. Hazel menghela nafas, “Maaf Sof, aku tidak bermaksud membentakmu. Dan terima kasih sudah menjauhkan Pandji dariku selama 30 menit.”
Nadya hanya melirik mereka. Ia sadar, ia tidak berada di antara rahasia mereka,
“Kau di cari paman Amir. Itu saja. Aku tidak datang untuk marah-marah kok.” Nadya mengucapkannya dengan datar.
Toh bukan urusanku juga. Anak ini sekarang sering menyembunyikan rahasia kepadaku. Tapi aku tidak harus mengekangnya untuk membicarakan semua yang ingin aku dengar.
“OK.”
Hazel meraba saku celana dan pakaiannya, ia menyadari kehilangan ponselnya.
“Kenapa?” tanya Nadya.
“Ponselku ketinggalan. Sebentar. Duluan saja, aku akan menyu-”
Belum selesai Hazel berbicara dan meraba pakaiannya, Arnesh mengulurkan ponsel dari samping kepala Hazel. Perbedaan tinggi mereka yang jauh, membuat Sofia dan Nadya menyadari kehadiran Arnesh yang muncul di belakang Hazel bak pahlawan.
“Kenapa bisa denganmu?” tanya Nadya dengan menahan rasa terpukau oleh paras lelaki yang berdiri di belakang Hazel.
“Aku sedang merokok di tempat yang gelap di sana, dan menemukan ponselnya jatuh di bawah ayunan gantung.” Lelaki itu sadar dua gadis di depannya sedang terpukau dengan ketampanannya, ia menjelaskan sembari menebar senyum. Siapapun akan kembali tersenyum jika ia mulai menebar kharismanya dari senyuman, kecuali gadis yang telah memukulnya di kegelapan tadi. Tapi syukurnya, pukulan itu tidak meninggalkan bekas luka yang amat mencolok.
Hazel merebut ponsel itu dengan kasar dan merangkul Nadya juga Sofia untuk segera ke pesta non-formal di belakang penginapan bergabung dengan yang lainnya. Ia bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun baik untuk Arnesh yang telah menemukan ponselnya atau Nadya dan Sofia yang masih terpukau dengan karisma tamu spesial paman Noah itu.
“Dia tamu di sini? Tapi tadi dia sempat bergabung dengan kita kan?” Tanya Nadya setengah berbisik.
Iya lelaki itu jelas mengikuti Hazel dan sepertinya, kemarahan Hazy ada sangkut pautnya dengan dia. Tebakan Sofia cukup akurat, mengingat ia sempat memperhatikan gerak-geriknya sejak dia datang dan duduk di seberang meja Hazel dan Pandji.
Hazel tak menjawab atau berniat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan. Ia terus merangkull mereka berdua dan menuntunya menjauh dari lelaki berbahaya itu. Setidaknya sampai mereka benar-benar sudah meninggalkannya jauh di belakang.
“Kenapa kau diam saja?” tanya Nadya, “Kau tadi-”
“Aku tidak tahu apa-apa Nad. Ponselku jatuh dan kebetulan dia yang menemukan. Itu saja,” potong Hazel.
Hazel berharap tidak ada lemparan pertanyaan aneh yang membuat kepalanya sakit. Ia juga berharap pesta tahun baru ini selesai segera. Hazel segera menemui paman Amir setelah menyelesaikan urusannya dengan Nadya dan Sofia, agar paman Amir tidak khawatir lagi. Lalu Hazel kembali ke kursinya menikmati sisa-sisa pesta tahun baru.
Ketika kecil aku lebih sering tertidur saat pesta belum selesai. Tapi karena pesta kali ini tidak ada anak kecil, pesta ini terasa panjang. Apa mereka akan berpesta sampai pagi?
Hazel mencoba mengingat ketika ayahnya menggendong dirinya lalu kembali ke pesta dan pulang sampai pagi. Saat itu ia dan ibunya akan tidur bersama menunggu mereka selesai dengan perayaan yang tidak pernah di lewatkan setiap tahunnya.
“Kau dari mana saja tadi?”
Suara Pandji kini membuyarkan lamunannya. Hazel memilih diam dan melempar senyum. Dia bahkan tidak sadar tersenyum kepada Pandji, salah satu penyebab sakit kepalanya.
“Kau barusan tersenyum?” tanyanya dengan sangat tertarik.
“Huh?” sahutnya, dengan wajah penuh tanda tanya.
Pandji tidak ingin merusak suasana ini, ia sedari tadi hanya ikut mengobrol dengan paman Noah kini kembali menempel kepada Hazel.
Hazel sesekali terkantuk-kantuk di kursinya. Saat ia sadar dirinya tidak kuat untuk begadang lebih lama, ia berdiri dan mencari paman Noah untuk izin pulang lebih dulu. Juga meminta izin dengan paman Amir.
Tapi Hazel mendapati paman Noah sedang berbincang dengan orang asing dari penginapan. Pandji yang masih mengikutinya menyadari kegelisahan Hazel.
“Kau ingin berbicara dengan Paman Noah lagi?” tanyanya.
“Tidak. Aku ingin izin pulang lebih dulu, aku sangat mengantuk. Sudah tidak tahan lagi.”
Pandji mengangguk mengerti. Ia mendekati paman Noah lebih percaya diri daripada Hazel. Tapi karena Hazel sudah sangat mengantuk. Mau tidak mau ia menerima bantuan Pandji. Hazel menunggu sampai Pandji selesai berbicara dengan paman Noah.
“Zy, kalau kau ingin pulang biar aku antar.”
“Biar aku pulang sendiri saja. Toh sama saja kan, jalan kaki. Dan aku tidak menerima tamu malam ini.”
Pandji tersenyum, “Siapa bilang jalan kaki.” Ia mengeluarkan kunci sekuter.
“Punya siapa?”
“Nadya. Kalau kau tanya kapan aku memegangnya. Itu ketika tadi sore aku beberapa kali mengantarnya pulang mengambil pemanggangan,”
Hazel tidak berkata apa-apa, ia terlalu lelah dan hanya memberi syarat Pandji untuk segera mengantarnya pulang.
“Ayo pegangan.”
“Pegangan apa sih. Jalan saja cepat aku sudah mengantuk.”
Pandji merengut, ia langsung menghidupkan sekuternya dan berjalan pelan. Karena beberapa tenda berjejer di sekitar pantai. Ia harus berhati-hati agar tidak mengenai mereka.
Hazel yang merasa sangat mengantuk dan angin sepoi-sepoi yang menyapu rambutnya membuat sangat nyaman, di tambah punggung lebar Pandji menjadi pemicu ia terlelap lebih cepat.
Pandji yang menyadari Gadis di belakang punggungnya menyenderkan pipinya, mencari tangan Hazel dan melingkarkan di pinggangnya. Menjaga keseimbangan Hazel yang tengah setengah tertidur.
“Zy. Jangan tidur terlalu lelap. Kau bisa jatuh…” ucapnya dengan lembut.
“Hmm…” sahutnya, Hazel setengah tertidur lalu memaksa matanya terbuka dan tanpa sadar menutup kembali. Terasa sangat nyaman meski setengah dingin karena ia hanya memakai kaos oblong di tengah malam.
Pandji tidak dapat membendung kesenangannya, tapi ia harus tetap fokus menjaga keseimbangan. Dengan satu tangan memegang stang skuter dan satu tangannya memegangi tangan Hazel agar ia tidak terjatuh.
Aku ingin melihat wajahnya ketika tidur.
Pandji membayangkan seberapa imut gadis yang sedang tidur di punggungnya, yang sejak tadi bergumam dan kini memeluk erat pinggangnya.
Jantung Pandji tak karuan saat Hazel menjadi setengah sadar dan melingkarkan kedua tangannya di perutnya. Sesekali ia menahan nafas dan detak jantungnya tak karuan.
“Tunggu sebentar Zy.. pegangan yang erat ya…” Ucapnya.
Gadis itu hanya bergumam dalam tidurnya. Ketika ia mengendurkan pelukannya, Pandji memegang erat tangan Hazel untuk membuatnya sadar dan mengencangkan pelukannya. Akan berbahaya jika mereka berdua kehilangan keseimbangan di atas motor.
Sepertinya sebentar lagi akan sampai.