Saat sudah sampai di depan rumah Hazel. Pandji memilih untuk berdiam sementara waktu. Ia merasa dilemma, harus membangunkan Hazel atau menunggunya bangun.
Jika ia tidak membangunkan Hazel, gadis itu akan semakin lama kedinginan. Tapi satu sisi ia prihatin dengan Hazel yang sangat mengantuk
“Zy..zy..” tangan Pandji memegangi tangan Hazel yang masih melingkar dengan kencang di perutnya yang rata, ia mengelusnya dengan lembut.
Hazel masih belum menyahut. Pandji ingin menggendong Hazel sampai ke kamarnya, sayangnya ia tidak tahu dimana kunci rumahnya. Di tambah ia tidak bisa bergerak banyak karena gadis ini masih memeluknya dari belakang.
Pandji menunggu beberapa saat sampai Hazel terbangun dengan sendirinya.
"Huh? Kenapa kau tidak membangunkanku?"
Tanya Hazel saat ia sudah bangun dengan setengah pipi yang membekas karena tidur terlalu lama di punggung lelaki itu.
Pandji yang sedang termenung menunggu pun membuyarkan lamunannya.
"Karena aku tidak tega kau terlalu lelah…"
"Kau setelah ini masih melanjutkan pestanya?"
"Kurasa tidak. Setelah semua perempuan pulang, sepertinya akan ada minum-minum. Aku memilih tidur saja. Aku akan pulang besok sore."
Pandji tersenyum melihat wajah Hazel yang berantakan. Ia mengelus rambutnya dengan lembut. Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke telinga Hazel.
"Apa kau mau jadi pacarku?"
"A-apa?!"
Wajah Hazel memerah karena kaget. Di tambah di depan rumahnya sangat terang, jelas Pandji akan dapat melihat dengan jelas wajahnya yang menahan malu.
"Kau ini bicara apa?!"
Dengan wajah masih merah, ia berubah kesal untuk menyembunyikannya. Hazel meninggalkan Pandji, dan bergegas masuk. Tapi tangannya ditahan.
"Tunggu. Kau tidak harus menjawabnya sekarang, tapi kumohon pikirkan lah."
Pandji membujuk Hazel dengan melempar senyuman. Ia menggenggam tangan Hazel yang kedinginan. Gadis itu memasang wajah kesal dan tak bergeming. Meski begitu, pikirannya sedang berkalut dengan kebingungan.
Apa dia gila atau semacamnya?! Tiba-tiba mengajak pacaran. Pacaran? Aku bahkan tidak pernah memikirkannya selama 22 tahun telah hidup.
"Jawabannya. Tidak."
"Kubilang, jangan asal menjawab. Pikirkanlah dulu. Meski tidak pun perasaanku tidak akan berubah sih."
Pandji awalnya memasang wajah murung mendengar jawaban Hazel. Tapi seketika ia menjadi ceria kembali. Lelaki itu tahu cara menyemangati dirinya sendiri.
"Sudahlah. Terserah saja. Aku mau segera istirahat."
Gadis itu berlalu dengan dingin meninggalkan Pandji sendirian di luar. Seperti janjinya yang tidak akan menawarinya untuk menginap atau sekedar singgah.
-
Pandji yang sudah kembali ke pesta ia memilih untuk langsung ke kamarnya.
Sejak sampai sore tadi, ia sudah memesan kamar di Penginapan Mengapung Noah. Pesta yang semakin membosankan menurutnya ditambah gadis yang ia sukai sudah pulang, ia tidak tertarik untuk berlama-lama berada di sana.
Pandji mendapatkan kamar yang dipilih langsung oleh paman Noah. Kamar yang memiliki balkon menghadap ke pantai langsung.
Kamarnya bagus juga. Lebih dekat dengan laut, dan pemandanganya sangat pas.
Pandji tiba-tiba mengingat perkataan Nadya tentang Hazel yang sering turun ke pantai pagi dan sore.
Kalau dia sering main ke bagian sini, tamu bisa dengan jelas memperhatikannya. Untung saja mereka berada di berlawanan arah.
Pandji sesekali tersenyum setelah membayangkan gadis yang ia sukai itu.
Ia tidak sadar penghuni kamar sebelah juga sedang berdiri di balkon menikmati hembusan angin laut pantai malam yang dingin dengan sepuntung rokok yang menghangatkan.
Saat Pandji membalikan badan ingin masuk, ia baru menyadari kamar sebelah sudah memiliki penghuninya.
Eh? Jika tidak salah dia orang yang sama dengan yang di seberang meja tadi. Jadi selain dia orang yang dikenal paman Noah, ia juga tamu di sini. Mungkin tamu spesial? Karena dia diundang di acara belakang penginapan.
Arnesh menyadari Pandji memperhatikannya, ia ikut melempar tatapan datar ke arah Pandji. Seketika mata mereka saling menatap untuk beberapa saat.
Oh lelaki muda yang sedari tadi menempel di gadis sombong itu. Apa yang dia lihat dari gadis itu?
Arnesh hanya meliriknya berapa saat lalu melanjutkan menghabiskan sepuntung rokok yang telah ia apit di sela jarinya.
Pandji yang mendapatkan tatapan datar menyadari lelaki itu mungkin bukan saingannya atau semacamnya untuk dikhawatirkan. Mungkin saja ia hanya tamu biasa yang tidak tahu apa-apa.
Angin tengah malam yang semakin dingin memaksa Pandji masuk dan melanjutkan mimpi indahnya di atas kasur. Pikirannya tak lepas sekalipun dari Hazel. Ia begitu senang telah mengungkapkan perasaannya. Sekarang hanya tinggal menunggu jawabannya saja.
-
Apa yang harus aku lakukan?
Hazel tak henti-henti bertanya dalam hati. Dia kini tak bisa tidur karena perkataan Pandji yang tidak pernah ia bayangkan.
Selama ini kupikir dia datang kembali hanya ingin aku ingat masa lalu, masa pertemanan kita.
Hazel merasa sangat letih hanya dengan memikirkan sesuatu yang di luar kendalinya. Tapi ia juga tidak bisa tidur jika esok Pandji datang ke resto dan meminta jawaban.
Hazel tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Ia mengirimi pesan ke Pandji.
[Jangan datang ke restoran besok. Kalau kau ingin jawabannya segera, biarkan aku berfikir beberapa waktu.]
Gadis itu kini terjebak dengan kalimatnya sendiri. Jika sudah begini mau tidak mau ia hanya harus memikirkan jawabannya, mau itu 'Ya' atau 'Tidak'.
Yah setidaknya dengan begini, aku bisa bernafas untuk beberapa saat. Mungkin setelah bekerja aku akan bisa menjawabnya.
"Hanya perlu dijawab saja kan."
Hazel bergumam, mengulang-ngulang perkataannya sampai tertidur pulas.
-
Pasti sesuatu yang baik sedang terjadi di antara mereka kan?
Arnesh yang membaringkan diri di kasur dengan masih mengenakan setelannya tiba-tiba teringat gadis itu. Bukan seperti ia khawatir atau semacamnya.
Mungkinkah mereka itu pasangan? Tapi dari wajah gadis itu tidak seperti itu. Beberapa kali ia menghindari si 'clingy boy'. Jika dilihat memang dia lebih muda dan kekanak-kanakan.
Arnesh menghela nafas panjang, ia tidak menyadari dirinya menghabiskan waktunya memikirkan hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Yah siapa peduli. Dan kenapa aku peduli? Dasar bodoh. Dua orang tadi juga pasti lebih muda dariku. Yang satu kekanak-kanakan, yang satunya keras kepala. Mungkin mereka cocok. Apa ya namanya... Dua Orang Bodoh?
Arnesh tertawa geli dalam hati. Tapi yang lebih menggelikan dia tertawa untuk dirinya sendiri.
"Membicarakan hubungan orang lain saja sudah cukup menggelikan," gumamnya.
Arnesh berdiri bangkit dan memilih menjernihkan pikirannya yang mulai aneh memikirkan gadis yang tidak ia kenali dan pacarnua yang aneh dan kini tinggal di samping kamarnya.
-
Sementara di perayaan, para Paman masih turut meramaikan. Acaranya juga sudah berganti yang tadinya bakar-bakaran sepanjang malam, kini bermain kartu dengan berbotol-botol minuman alkohol menemani mereka.
Setelah kepulangan Hazel, tidak berlangsung lama, Sofia dan Nadya juga tamu wanita lainnya kembali pulang atau ke kamar penginapannya.
Kini malam yang panjang memang hanya di peruntukan oleh para orang tua yang menikmati usia mereka.
Bahkan yang tadinya pantai terasa ramai dan riuh, kini pun sepi. Hanya ombak yang saling bersahutan menidurkan kumpulan manusia yang menginap di latar pantai. Ada yang menggunakan tenda atau tidur tanpa tenda. Semuanya terasa sunyi.