Seperti yang Hazel duga, ia terlambat bangun. Jam menunjukan pukul sepuluh pagi, ia tertidur jam dua lewat, selain tidur lebih lama, badannya sangat letih. Ia tidak menyangka setelah bekerja dan merayakan perayaan tahun baru sangat melelahkan dirinya dan badannya.
Rasanya aku malas sekali…
Meski ia sadar telah terlambat, ia tidak segera beranjak dari kasur. Hazel memilih berbaring lebih lama menatap langit-langit.
Ponselnya bersahutan dari dering telepon dan dering alarm yang sama sekali tidak membuatnya ingin bangun.
“Hazel!” Panggil seorang gadis dari luar kamarnya.
Hazel menyadari suara itu tidak asing. Ia selalu mendengarnya, itu suara Nadya. Tapi apa yang Nadya lakukan di rumahnya?
“Matikan ponselmu. Suaranya sampai kedengaran di bawah.”
Hazel yang mendengar suara teriakan Nadya bersahutan dengan dering ponselnya memilih menutup telinga dengan bantalnya.
Mau apa mereka?
Jika ada Nadya pasti ada Sofia, dan juga Pandji. Itu yang membuat Hazel tak ingin beranjak dari kasur. Apalagi turun kebawah. Ia tidak mau dan tidak sanggup.
Lagi-lagi ingatan tadi malam merasuki kepalanya. Terakhir kali ia mengirimi pesan kepada lelaki itu untuk jangan mengganggunya beberapa saat sampai ia memberikan jawaban. Tapi sebenarnya ia sendiri tidak tahu jawaban seperti apa yang akan ia berikan.
“Hazel! Hazel!” Nadya yang tadinya hanya berterian di depan pintu kini mengetuk pintu dengan keras dibarengi teriakan. Dan Hazel makin berlarut membenamkan dirinya di bawah bantal.
“Sudah-sudah.” Suara paman Amir melerai Nadya dan pintu. “Kamu turun dulu saja makan dengan yang lain dulu.”
Makan?
Hazel mendengar suara samar yang menyadarkannya akan rasa lapar di perutnya. Dibarengi mulas.
“Hazel, turunlah kalau sudah bangun. Nadya membawa makanan dari ibunya. Paman akan ke resto duluan.”
Apa hari ini memang sengaja buka terlambat ya?
Hazel melihat jam berulang memastikan ia tidak salah melihat jam. Ternyata benar, ia salah mengira jika itu sudah jam sepuluh. Ini adalah alarm jam delapan. Ia mengecek ponselnya untuk melihat siapa yang beberapa kali menelponnya pagi-pagi.
Hazel menyadari ada dua nomor asing, yang satunnya tadi malam, dan yang satunya pagi tadi. Nomor asing yang ia tidak ketahui.
Karena ia pikir hanya orang iseng, Hazel memilih untuk tidak memusingkannya. Ia segera beranjak dari kasur dan bersiap. Perutnya kini terasa lapar dan perasaan lainnya.
*
Nadya menggrutu sepanjang langkahnya. Ia beberapa kali membangunkan Hazel tapi gadis itu tak juga bangun.
“Apa dia sudah bangun?” tanya Pandji yang sudah duduk di meja makan.
“Tidak tuh, bahkan saat paman Amir memanggil dia tak juga menyahut.” Nadya memasang wajah kesal dan cemberut.
Sofia hanya menyeringai, ia tidak tahu harus merespon apa.
“Um… Nad menurutmu aku harus apa?”
“Apa? Maksudmu apa?”
“Tadi malam,” Pandji diam sejenak, ia ragu harus melanjutkan ucapannya.
Nadya dan Sofia saling pandang, mereka bingung dengan sepatah kata Pandji yang membuat mereka penasaran.
“Apa?” tanya Nadya sekali lagi.
Pandji hanya diam di seberang meja.
“Oh kau kapan pulang?” tanya Nadya yang tiba-tiba. Ia tidak menyukai kesunyian dan kecanggungan di antara mereka.
“Nanti sore. Kenapa?”
“Awalnya aku hanya ingin tahu. Tapi kalian pulang di waktu bersamaan. Apa arah pulangmu melewati pelabuhan di dekat Coastal?” tanya Nadya, ia sambil melirik ke arah Sofia.
“Iya, searah. Apa Sofia juga pulang nanti sore?”
Sofia hanya mengangguk dengan malu. Ia kini mengerti arti dari pandangan penuh arti Nadya.
“Nah kalau begitu kau bisa sekalian mengantar Sofia kan?” pintanya.
“Em, kalau merepotkan itu tidak-” Sofia mencoba menolak permintaan Nadya.
“Tidak merepotkan kok,” potong Nadya ia menatap Pandji dengan seksama, melempar senyum, memintanya untuk setuju dengannya.
“Iya. Gak masalah kok.” Pandji hanya mengangguk-angguk. Sesekali ia melihat Sofia merasa tidak nyaman. “Tapi kalau Sofia ngerasa ga nyaman-”
“Ah kenapa harus merasa ga nyaman…” Sahut Nadya di sela makannya.
“Kalau dia tidak mau ya sudah. Jangan di paksa!” celetuk Hazel yang baru saja turun dengan rambut setengah basah.
Sofia yang mendengar hal itu sedikit lega. “Jadi kau mau atau tidak Sof?” tanya Hazel yang sedang menuju meja makan, “Kau harus bisa jujur dan bicara dengan jelas. Agar sekitar lebih memahamimu. Dan Nad, sebelum rencana-rencana yang kau susun itu, harusnya kau mendengarkan alasan orang itu dulu.”
Nadya tak bergeming, ini bukan pertama kali Hazel berbicara dengan serius tapi ini pertama kali ia berbicara tanpa ekspresi.
Hazel telah memberanikan dirinya untuk turun. Ia sangat kesal ketika mendengar pembicaraan mereka, sedari ia masih di atas dengan sengaja menunggu mereka selesai.
“Ya ya. Lagi lagi aku kelihatan kelewatan ya…” ucapnya dengan nada tidak senang. “Itu karena kupikir Hendra sepertinya hari ini tidak bisa mengantar Sofia.”
“Tidak masalah. Aku bisa menggantikannya,” jawab Hazel dengan nada datar.
Kini Sofia merasa tidak enak dengan perdebatan dua saudari itu. Begitupun Pandji yang sejak tadi tersipu, wajahnya sedikit memerah. Ia mengingat tadi malam ia dengan berani mengucapkan hal yang selama ini ia tahan. Kini lelaki itu tidak dapat memandangi wajah Hazel.
“Sudah guys. Aku bisa naik transportasi umum atau ojek. Aku punya beberapa kontaknya kok.” Sofia angkat bicara, ia menatap Pandji, “Anu, maaf Ji, bukan aku tidak suka atau bagaimana, aku hanya tidak nyaman…” tambahnya. “Dan Zy, ayo makan selagi makanan yang dibawa Nadya dari rumah masih hangat.”
Hazel yang mendengar hal itu menyadari ia berlebihan menasihati Nadya. Ia hanya tersenyum ramah. Sedari turun dari tangga, Hazel tidak berani menatap mata Pandji. Tapi mau tidak mau ia harus duduk di sampingnya sampai beberapa jam kemudian. Mereka menikmati sarapan dengan tenang.
Setelah ini apa ya? Aku malas sekali harus ke restoran. Entah mengapa aku merasa aku akan bertemu dengan orang yang tidak ingin aku temui. Begini saja aku merasa berat. Duduk di samping Pandji. Aku bahkan belum punya jawaban untuk permintaannya.
*
“Kau tidak ke resto hari ini?” tanya Nadya yang akan pulang. Mereka berbincang di depan pintu, Sofia hanya menyimak saja. Sedangkan Pandji sudah keluar duluan, hari ini dia nampak lebih tenang, sejak awal dan akhir Pandji tidak berbicara dengan Hazel.
Sifatnya yang aneh, membuat Hazel kurang nyaman tapi ia juga tidak mau menerimanya.’
“Aku masih lelah. Tadi malam itu juga…” Hazel terdiam sejenak dan berfikir, apakah ia akan melanjutkan atau tidak.
“Ada apa kau dan Pandji hari ini?” tanyanya penasaran. Sofia yang mendengar itu juga memasang wajah penasaran.
“Apanya? Emang dia kenapa?” Hazel bertanya dengan penasaran.
Nadya yang mendengar itu hanya tersenyum penuh arti, “Kau tidak biasanya penasaran tentang dia. Ya terserah deh. Ini bukan urusan kita kan.” Nadya melirik kearah Sofia dan berganti ke Hazel. Ia mengajak Sofia untuk segera pulang.