Penasaran

1014 Kata
“Setelah ini kau akan kemana? Tidak seperti biasanya,” Nadya melempar pertanyaan kepada Pandji yang sejak tadi terdiam di setiap langkahnya setelah keluar dari rumah Hazel. “Aku? Ke penginapan. Mungkin.” “Itu cukup jauh kalau kau jalan kaki dari sini kan…” Ucap Sofia dengan ragu. Tapi sedikit demi sedikit ia mulai terbiasa berbicara dengan seumuran dirinya selain Nadya dan Hazel. “Aku akan berjalan pelan sembari menghabiskan waktu. Dan untuk yang tadi kalau kau berubah pikiran, cukup telepon saja ya…” Ucapanya untuk Sofia, jikalau ia berniat pulang bersama. Pandji meninggalkan mereka berdua dan mengambil jalan yang berbeda. Sofia hanya mengangguk, begitupun Nadya. Meski dia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya, Nadya memilih menunggu Pandji semakin jauh dari mereka. “Ada yang aneh darinya kan?” Nadya membuka percakapan dengan Sofia. Meski Sofia yang selalu merasa malu dan sungkan untuk membicarakan orang lain, kali ini ia setuju dengan Nadya. Kalau di ingat-ingat, Hazel juga bertingkah yang sama sejak tadi. Ia memang biasanya lebih banyak diam. Tapi tadi ia bahkan tidak berbicara dengan Pandji. Begitupun Pandji. Nadya mencoba mengingat hal janggal ketika mereka berempat sedang berkumpul “Kau sedang memikirkan Hazel yang bertingkah aneh?” Nadya berhenti melamun seketika, “Kau juga sadar itu?” Sofia hanya mengangguk mengiyakan. “Mereka berdua bertingkah aneh hari ini. Pandji dan dia. Bahkan aku merasakannya sejak tadi malam. Padahal dia memang menyebalkan tapi entah mengapa tadi lebih menyebalkan,” Nadya menjelaskan sambil cemberut. Sofia yang mendengar itu hanya tertawa kecil. Sebenarnya perayaan tahun baru tadi malam sangat membuatnya bahagia. Setelah sekian lama, ia merasakannya lagi. Semenjak ia di undang paman Zali untuk datang dan pertemuannya dengan Hazel, mengenalnya lebih baik, hidupnya lambat laun berubah. * Hazel memilih bersantai di sofanya, rasanya sudah lama ia tidak duduk di sana. Ia memeriksa ponselnya. Rasanya juga ia sudah lama tidak benar-benar memainkan ponselnya dengan benar. Banyak yang ingin ia periksa. Telpon asing yang tadi dan sosial media yang sudah lama ia anggurkan. Terasa lebih empuk dan nyaman ya. Sudah berapa lama aku tidak bersantai di sofa yang usang ini. Saat Hazel sedang bersantai sembari menikmati tontonan televisinya, nomor asing yang tadi pagi tidak mendapatkan jawaban kini menelponnya lagi. Hazel yang awalnya tidak ingin menjawab kini mengira-ngira siapa yang telah menelponnya dengan nomor asing. Tiba-pikirannya tertuju kepada Arnesh yang tadi malam menemukan ponselnya. Tapi memang tidak mungkin orang itu melakukan hal ini. Terlalu murahan dan biasa. Kalau ini Pandji, ya mungkin saja. Tapi dia? Mengingatkan pada Pandji. Hazel menyadari hari ini ia tidak berbicara sama sekali dengan lelaki itu, bahkan ketika mereka makan bersama hingga akhir lelaki itu tidak mengajaknya berbicara. “Yah siapa peduli. Sialan, aku tidak suka menjawab permintaannya,” gerutu nya sambil bergumam. Hazel mengeraskan suara televisinya sebelum mengangkat telepon di dering ke empat. Ia memilih diam untuk memastikan suara siapa yang di balik panggilan asing. [Hallo, Apa ini Hazel pemilik rental dive?] Hazel berdiam beberapa saat mengingat suara asing yang terdengar familiar. Siapa? Rental dive? Pelanggan? [Hallo? Apa bukan?] [Ya, Hazel di sini. Maaf ini dengan siapa?] [Syukurlah kau masih menggunakan nomor yang sama. Aku berencana datang beberapa hari lagi. Seperti biasa aku akan menemuimu di restoran keluarga di samping rental mu. Rasanya sudah lama sekali tidak kesana ya…] Suara dari seberang telepon yang sama berisiknya dengan yang ia lakukan, orang itu tak berhenti menjelaskan keadaannya yang merindukan pantai tempat Hazel tinggal dan bekerja. Bahkan pertanyaan Hazel belum mendapatkan jawaban. Suara yang terdengar seperti lelaki dewasa membuat Hazel tidak berani memotong pembicaraannya sampai ia lupa bertanya di akhir panggilan. Hazel memiliki beberapa pelanggan dive rental yang tetap, karena ia memiliki persediaan yang terbatas dan dia tidak memiliki dive master untuk memandu penyelam pemula. Pelanggan Hazel yang hanya beberapa itu, adalah orang-orang yang sudah berpengalaman dan memiliki lisensi. Tapi siapa tadi? Pelanggan? Aku tidak punya pelanggan yang se akrab itu. Sisanya akan hanya mengabari kapan mereka akan sampai. Tapi dia sampai bercerita merindukan Pantai. Apa paman itu? Seperti tidak mungkin saja. Sudah hampir 3 tahun dia tidak datang. Dive rental milik Hazel telah berdiri sejak 4 tahun lalu. Tapi awalnya itu dipromosikan hanya dari mulut ke mulut. Hazel tak benar-benar menyewakan peralatan menyelam nya, terlebih ia tidak memiliki izin resmi. Lebih tepatnya ia meminjamkan dengan beberapa pengguna yang sudah mahir dengan beberapa biaya pengganti. Karena Hazel yang suka menyelam namun sudah lama tidak melakukannya, ia memilih untuk menyewakan peralatannya tanpa resiko. Dia kembali menonton televisi setelah beberapa saat memusingkan perihal pelanggan yang tidak diketahui itu. Setidaknya ia tahu orang itu akan datang beberapa hari dari sekarang. Hazel yang tadi bermalas-malasan di atas sofa kini menemukan kembali semangatnya untuk bangkit dan pergi ke restoran. Tapi kali ini ia tidak ingin menggunakan sekuter. Ia akan berjalan kaki dengan pelan, dan melipir ke bibir pantai. Rasanya karena orang tadi mengatakan merindukan kan pantai. Ia ikut merindukannya juga. * Ini adalah pemandangan yang sama yang hampir setiap hari terlihat saat ia pulang dan pergi dari rumah ke restoran; pasir putih yang lembut, ombak yang berderu, warna hamparan laut yang biru berpadu hijau lumut di pesisirnya. Hazel memilih jalan perlahan menikmati angin yang menyejukan, terik matahari yang tak begitu menyengat mengahangatkan rambut hitam nya. Kini rambutnya yang telah memanjang sebahu, ia menyadari untuk segera memotongnya lagi. Gadis itu tidak terbiasa dengan rambut yang panjang, ia selalu dengan gaya yang sama, rambut di atas bahu yang menggantung lurus. “Hazy!” suara lirih dari belakang punggung Hazel yang memanggil namanya. Padahal gadis itu sedang asyik meniti langkahnya, menghitungnya dan sedang asyik memikirkan ke salon mana ia akan mampir besok. Kini mau tak mau ia harus membalikan badan. Karena ia hafal suara siapa ini. “Aneh. Tadinya kau tidak berbicara sama sekali. Apa setelah memandangi lautan, membuatmu kuat?” “Kuat untuk mendengarkan jawabanku. Apapun itu.” Hazel menyambung perkataannya, ia masih membelakangi asal suara di balik punggungnya. Gadis itu masih menatap kakinya yang semakin lama tenggelam dalam pasir putih. Ia sengaja melepas sandalnya untuk lebih dekat dengan pantai. Tidak ada jawaban dari lelaki yang memanggilnya untuk beberapa saat. Membuat Hazel juga tidak berani membalikan badan sampai ia membalas perkataannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN