“Siap. Apapun itu.” Lelaki itu menjawab dengan nada yakin.
Mendengar itu Hazel menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. Ia memikirkan jawaban apa yang tepat untuk situasi yang bersahabat ini. Hubungan mereka tidak memburuk, tidak juga dalam hubungan yang bisa berlanjut ke romansa seperti itu.
“Kini aku yang tidak bisa berbicara,” ucap Hazel spontan dan ia tertawa. Gadis itu bahkan tidak membalikan punggungnya, dan berjalan makin ke depan.
“Kalau begitu, biarlah begitu. Asal kau tidak berubah.”
Ucapan itu membuat Hazel akhirnya membalikan badan. Ia tersenyum hangat, untuk pertama kalinya, ia tersenyum tulus kepada Pandji.
Orang itu tidak semenyebalkan yang kukira…
Tak berlangsung lama ia berfikir seperti itu, Pandji menghampirinya dan memeluknya. Pelukan yang hangat dan lama. Membuat Hazel menyesal mengatakan lelaki ini tak menyebalkan.
“Sudah…” sahutnya dengan datar.
“Aku mau ke resto. Kau mau ikut?” untuk pertama kalinya Hazel menawarkan ajakan kepada Pandji. Ia mengangguk senang.
Ia lucu juga kalau menurut.
Pandji meminta izin untuk memegang tangan Hazel. Gadis itu menaikan bola matanya, sedikit kesal. “Ya,” jawabnya enggan.
Lucu kalau tidak banyak maunya.
Setelah malam perayaan tahun baru, sebagian yang merayakan di pantai sudah pulang. Sebagiannya lagi masih menetap untuk menghabiskan liburan tahun baru. Sama seperti mereka, Hazel juga libur sampai besok. Ia akan masuk hari selasa untuk ujian semester. Meski begitu, ia tidak khawatir, sebab gadis itu telah menguasai 80% pelajaran di sana. Mungkin karena dirinya yang sudah dewasa.
Hazel menyadari ada tamu yang membuatnya enggan masuk lewat pintu depan. Ia meminta Pandji untuk masuk duluan, ia memilih memutar untuk lewat pintu belakang.
“Kalau kau ingin makan, kau masuk duluan saja. Atau tidak sama sekali.”
“Apa maksudnya tidak sama sekali?” tanyanya dengan nada kecewa.
“Kau kan sudah sarapan.”
“Tapi sebentar lagi akan makan siang,” ucapnya dengan wajah cemberut. Melihat itu Hazel menjadi sedikit kesal.
“Memangnya di penginapanmu tidak disediakan makan siang?”
Pandji hanya menggelengkan kepala. Ia sebenarnya tidak tahu. Itu kali pertama ia menginap di penginapan pantai. Biasanya ia dan kawan-kawan komunitas, menggunakan tenda atau tidur di mobil van.
“Ya terserah saja deh. Aku mau masuk lewat pintu belakang.”
“Kenapa?” tanyanya kini memasang wajah memelas. Seolah ia ingin Hazel tetap menggandeng tangannya.
“Ya karena aku pekerja di sini,” jawabnya ketus.
Tak berlangsung lama, paman Amir dan Arnesh keluar secara bergantian. Saat Hazel masih sedikit berdebat dengan Pandji.
“Loh kupikir kau hari ini tidak datang.” Paman Amir telah menghidupkan sepuntung rokok sejak ia mengeluarkan langkah pertamanya dari bangunan.
“Aku jadi bosan…” Hazel menggaruk-garuk kepalanya dan sedikit tertegun saat Arnesh juga menyusul dari belakang tak lama ia menyelesaikan kalimatnya.
Paman Amir hanya tertawa kecil. “Tidak enak ya menjadi pengangguran.” Ia melanjutkan hisapan demi hisapan. “Padahal hari ini gak begitu ramai.” Paman Amir menatap langit, ada kekhawatiran di wajahnya.
“Memang selalu begini kan…” ucap Hazel datar. Ia pun sadar sejak sepeninggal mendiang ayahnya, resto menjadi sepi semakin hari.
Lelaki yang Hazel hindari berdiri sedikit jauh dari mereka. Hazel mendahului paman Amir untuk masuk ke dapur. Ia juga meminta Pandji untuk masuk atau pulang.
Selalu begini?
Paman Amir tidak menyadari Arnesh memandangi raut wajahnya yang mulai menggambarkan rasa khawatir.
Apa ini alasan keponakanku tidak melanjutkan sekolah? Selama ini ia hidup dalam kesusahan. Menyimpan uang hasil restoran yang tidak seberapa. Restoran juga nampaknya sudah bertahun-tahun lalu belum di renovasi. Mungkin ini juga yang menjadi alasan mereka tidak dapat mempekerjakan pekerja tetap.
“Kenapa tidak mencoba membuka cabang di pusat kota?” celetuk suara dari samping membuyarkan lamunan paman Amir.
“Apa?” dia berhenti menghisap rokoknya dan menatap Arnesh dengan serius. Wajahnya yang sangar tidak membuat Arnesh grogi sedikitpun, lelaki itu masih asyik menghisap dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Ia menatap langit.
“Pamann? Haruskah aku ikut memanggilnya begitu?” ucapannya sedikit membuat pamana Amir jengkel.
“Kau ini kenalannya Noah ya?”
Arnesh hanya membalas tatapan sangar paman Noah dengan tatapan datar, seolah itu akan menjawab semuanya. Ia sedang tidak mengenakan suit atau semacamnya, tapi kharismanya tetap memancar meski ia hanya menggunakan celana tanggung dan kaos palo lengan pendek yang menampakan lengannya yang sama berototnya dengan paman Amir.
“Yah jelas saja. Tidak kaget kalau sekitarnya sama menjengkelkannya dengannya.”
Paman Amir menceletuk hal itu sambail mematahkan sepuntung rokoknya, dan kembali masuk ke resto tanpa sepatah katapun.
Ah aku sempat lupa. Mereka juga sama, tamunya si Om-om itu. Kalau mereka teman sesama profesi, mungkin juga sama-sama boomer.
Arnesh sedikit jengkel karena alasannya tidak diindahkan dan ia mendapatkan perlakuan tidak terduga. Tapi itu semua tidak ia pancarkan dari wajahnya. Ia lebih fokus memikirkan Hazel yang baru saja membuatnya tidak bisa fokus.
Jadi dia diundang karena sesame profesi? Tapi apa-apaan tadi,’clingy boy’ di sebelah kamar itu tipenya atau apa?
Arnesh telah menghabiskan batang pertama, ia melanjutkan batang kedua.
*
Hazel mengantar makanan manis dan pesanan Pandji. Saat mengantar makanan manis di meja yang ramai, ia masih belum sadar jika mereka adalah teman-teman Arnesh yang juga pernah mampir.
Lelaki yang terobsesi dengan Hazel masih sama dengan yang sebelumnya, saat Hazel mengantar makanan pesanan mereka, ia baru sadar akan keberadaan orang itu.
“Wah sudah lama sekali tidak bertemu dengan kakak cantik ini,” Ryan memegangi rambut Hazel yang lupa ia ikat. Membuat Hazel jengekel dan menepis tangan Ryan dengan kasar.
“Kau masih sama kasarnya ya!” ia ingin menyentuh lagi rambut Hazel sampai Pandji menahan tangan Ryan dengan wajah sama marahnya dengan Hazel.
Dua lelaki muda yang sedang membara saling menatap sinis, membuat teman Arnesh lainnya ikut berdiri setelah Ryan menepis tangan Pandji dan berdiri.
“Kau siapa?” tanya Ryan sinish.
Pandji yang kesal dengan tatapan Ryan memukulnya dengan spontan. Ia tidak pernah melihat wajah yang semenyebalkan itu.
Hazel yang melihat itu langsung menahan Pandji dan menjauhkannya dari meja mereka. Beberapa tamu ikut berdiri, beberapa lagi memilih segera membayar dan pergi dengan wajah takut dan kesal.
Paman Amir yang mendengar beberapa keributan langsung datang dengan membawa spatula yang masih membekas celupan kuah pedas. Ia memasang wajah paling sangar dan menakutkan yang ia punya.
Terkadang saat ia bekerja di kapal pesiar dan melayani tamu kelas menengah, ia sering menemukan beberapa pemabuk yang bertengkar. Mau tidak mau ia menjadi terbiasa dengan pertengkaran.
“Ada apa ini?!” gertaknya, teman-teman Arnesh yang lainnya berdiri paling depan mencoba melindungi Ryan yang paling kecil. Bahkan tinggi Mikail dan teman yang bertato lainnya lebih tinggi dari paman Amir. Tapi itu tidak membuat Paman Amir ciut sama sekali.
Hazel yang melihat paman turun tangan, segera memegangi lengan paman Amir dengan kencang. “Paman. Tidak ada apa-apa. Biar aku yang meminta maaf pada mereka.” Hazel memasang wajah serius mencengkam menatap Mikail berganti dengan Ryan yang sudah tidak memegangi dagunya.
“Ada apa ini?” suara datar yang berasal dari seseorang yang baru saja merokok. Ia bahkan masih membawa sepuntung rokok yang masih menyala. “Sudah teman-teman jangan membuat keributan. Dasar tidak sopan!” tegasnya, ia baru saja ingin menghisapnya sekali lagi.
“Jangan merokok di sini!” gertak Hazel. Ia melirik di sekitar agar lelaki itu segera mematikan rokoknya dan memperhatikan sekitarnya yang banyak orang tua dan anak kecil.
Jelas saja ini restoran keluarga tentu saja harus ramah dengan kondisi keluarga.