Tatapan Tajam

1055 Kata
Arnesh menurut dan langsung mematikan rokoknya di asbak portabel berwarna silver yang selalu ia bawa namun kadang jarang ia pakai. Terbiasa pulang pergi ke luar negeri, memaksa ia selalu membawa asbak portabel. Memastikan negara yang ia singgahi tetap menerima kebiasaan merokoknya. Lelaki itu mencoba melirik ke arah mereka dan Hazel. Seperti ingin penjelasan. Kemudian ia mendekati Mikail yang masih membelakangi teman-temannya. "Sudah. Ayo selesaikan urusan di sini," bisiknya sambil memegangi bahu Mikail. Tingginya yang sejajar dengan Mikail membuatnya menyadarkan sekitar akan intensitasnya. Mikail dengan diam melewati paman Amir dan Hazel menuju ke kasir. Bibi kasir yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu hanya terdiam dengan mata tak berani menatap Mikail. Arnesh meminta Ryan untuk meminta maaf dengan paman Amir dan Hazel. Pemuda itu hanya menundukan pandangannya dan meminta maaf dengan terbata-bata setelah gertakan Arnesh. "Maafkan temanku nona muda," tutur Arnesh dengan sopan kepada Hazel. Tapi entah bagaimana di telinga Hazel, panggilan 'nona muda' terlalu berlebihan terdengarnya. Ia menganggap itu sebagai ejekan untuknya. Hazel hanya memasang wajah datar menanggapi pernyataan Arnesh. "Kalian harus mengerti istilah menghormati apapun di tanah yang kalian pijak," ucap Hazel dengan santai sebelum berlalu dengan masih memegangi lengan paman Amir. Ia ingin paman Amir segera mengikutinya, ia tidak ingin memperpanjang permasalahan di antara mereka. Arnesh hanya mengangguk mengiyakan perkataan Hazel. Mengisyaratkan apapun setelah permintaan maaf adalah 'selesai'. Sayang sekali makanannya sangat enak. Tapi setelah ini sepertinya kami tidak akan bisa kesini lagi. Arnesh dan kelompoknya segera pergi dari hadapan mereka. Tidak lupa ia mengucapkan terima kasih sebelum Hazel berlalu. "Kau tidak perlu sampai mengucapkan terima kasih kan," celetuk Ryan. "Meminta maaf saja sudah sangat memalukan." Arnesh menatap tajam ke arah Ryan. "Meski kau salah satu orang penting di kelompokku. Jaga bicaramu Ryan!" Ryan terdiam mendapat kecaman seperti itu. Ia hanya menundukan kepalanya setelah mendapatkan senggolan dari Jill. Mikail yang melerai mereka kini menepuk dua kali bahu Arnesh, mengisyaratkan dia untuk tidak berlebihan menegur Ryan. Bocah itu selain paling mudah ia yang paling sensitif. Meski kurang dewasa, berlebihan jika mengancamnya begitu. Ia juga penting untuk rencana Arnesh. Sebagai orang yang menemukan Ryan, Mikail memegang tanggung jawab yang cukup besar. Selain bertanggung jawab untuk Ryan, ia juga harus memikirkan kepuasan Arnesh dengan setiap tugas anggota kelompoknya. Arnesh segera menyuruh keempat orang itu bergegas dari sini. Rasanya ia tidak tahan lama-lama di sini. Mereka berempat baru saja sampai ke lokasi wisata ini, dan berencana akan tinggal beberapa hari mengikuti jadwal libur Arnesh. "Ah abis ini ngapain lagi? main game lagi?" tanya Ryan dengan nada bosan ditujukan kepada Jill. Arnesh memilih memisah dengan mereka. "Aku ingin berjalan-jalan sebentar." Mikael tak bergeming ia juga berniat memisahkan diri untuk melanjutkan tugas rahasia nya dan Akira yang selalu diam sejak awal dikenalkan, ia memilih ikut memisahkan diri dari si maniak game dan mengikuti Mikael. Ryan yang merasa lebih santai dan sifat serampang nya kembali muncul saat Arnesh tidak di sekitarnya. Ryan hanya mendengus, ia mengajak Jill bermain game lagi. Lelaki itu mau tidak mau tetap ikut meski ia tau nasibnya tidak pernah beruntung jika melawan Ryan si maniak game. “Sejak bergabung dengan kita kenapa Akira tidak pernah berbicara?” tanya Ryan, berjalan sambil menendang pasir membuat Jill jengkel dan ingin meninggalkannya sendirian. Ia memilih mengeluarkan ponselnya dan mengabaikan Ryan yang masih dengan sifatnya yang menyebalkan. Saat tengah asik dengan ponselnya, Ryan menatap kesana kemari sambil bersiul membuat angina datang lebih kencang ke arah mereka berdua. “Kalian hanya berdua saja?” tiba-tiba Noah yang entah datang dari mana menegur mereka. “Yah, begitulah,” ucap Jill dengan nada tidak senang. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan karena faktanya dia tidak punya banyak teman selain bocah maniak game dan kumpulan orang asing yang menganggap mereka keluarga satu sama lain. Noah tidak memberhentikan langkahnya, ia langsung melewati mereka berdua dan menuju ke arah yang sama dengan restoran Hazel. “Ya… okelah.” Dia hanya melambaikan tangan sambil membelakangi mereka. Kenapa aku harus berada di antara mereka? * “Sumimasen” ucap paman Noah setengah berteriak saat masuk restoran Hazel yang sepi. Hanya ada Pandji di sana yang tengah duduk dengan Hazel dengan wajah yang ditopang tangannya, memandangi wajah Pandji yang bercerita sambil sedih. Hazel yang awalnya fokus menatap Pandji mengalihkan pandangannya kepada tamu yang tak di undang dan membawa nuansa aneh tersebut. “Apa aku salah masuk? Apa ini restoran atau TPU?” celetuknya sekenaknya. Paman Amir yang masih di dapur melirik keluar dan menyambut Noah dengan muka masam seperti biasa mereka tidak pernah akur. Dan bibi yang hanya melirik lalu kembali sibuk dengan ponselnya sesekali menanggapi bincangan Iparnya. Juga paman Zali yang sedang berbincang dengannya terkadang tidak mendapatkan tanggapan, sekaligus sedang menonton berita di televisi. Perbincangan mereka tidak jauh dari membahas berita yang mereka tonton. Paman Noah menegur Hazel dan Pandji, ia sedikit menyeringai penuh arti. Dan melewati mereka untuk memesan makanan. “Sepertinya hari ini aku ingin makan di sini. Seperti biasa ya.” Ucapnya pada bibi kasir yang langsung terdengar di telinga paman Amir. Paman Zali yang berdiri langsung di larang oleh Noah, ia inging menyantap makanan yang di buat oleh tangan Amir langsung. dan berbincang lebih banyak dengan Zali yang sedari tadi kebanyakan hanya berbicara sendiri. “Pastikan kau cuci tangan ya sebelum menyajikan makananku,” ledek Noah hanya dibalas tatapan tidak ramah oleh paman Amir. Hazel hanya memperhatikan mereka dari kejahuan dengan tertawa geli dalam hati. Ia di kelilingi pria dewasa yang setengah unik dan menyebalkan. Membuat hidupnya penuh cerita untuk ditertawakan. “Anak itu semakin lengket saja. Sepertinya kau bakal dapat lamaran untuk kedua kalinya,” ucap paman Noah ke pada Zali. Paman Zali yang mendengar itu hanya tertawa, mengingat-ingat Hazel yang awalnya tidak ramah dengan kedatangan Pandji, dan kini semakin dekat. “Tapi apa kau tidak tahu?” Paman Zali tersadar akan sesuatu, ia merubah raut wajahnya. Ia terdiam dan menjadi ragu melanjutkan dengan apa yang ingin dikatakannya. Paman Noah hanya memasang wajah penuh tanda tanya. Makanan telah tersaji, membuat paman Zali merasa lega harus memberhentikan percakapannya. “Nah kau lanjut saja berbincangnya dengan wali pertamannya. Aku mau kembali ke kantorku,” ucapnya dengan bangga. Apapun pekerjaan, ruang bekerja adalah kantor bagi mereka. Meskipun itu hanya dapur atau kamar mandi sekalipun, itulah moto yang selalu paman Zali pegang sebagai mantan pekerja kantor yang amat telaten sebelum bergelut dengan dapur. Huh? Wali pertama? Paman Amir menatap mereka berdua secara bergantian dengan wajah bingung dengan pembicaraan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN