“Apa?” tanya paman Amir kepada Noah yang ingin sedang memangku dagunya dengan kedua tangan. Ia menunggu makanan nya di turunkan dari tempat untuk menyajikan makanan.
“Apanya yang apa?” ia sengaja membuat orang di depannya bingung.
Menjahilinya adalah salah satu hobinya sejak dulu. Awalnya karena ia sangat kesal dengan saudara tertuanya, tapi lambat laun alasannya karena orang di depannya juga amat menyebalkan sama seperti saudaranya.
Di meja lain, Hazel masih mendengarkan Pandji bercerita. Ia sangat kesal dengan Ryan yang bersikap tidak sopan padanya. Hazel berulang kali menyuruhnya untuk tidak memikirkan hal itu.
Itu seperti melihat kau memarahi dirimu sendiri. Dasar bodoh.
Gerutunya dalam hati dengan menatap Pandji dengan wajah datar.
Kapan dia sadar, aku sama kesalnya saat kau awal-awal di munculkan di cerita kehidupanku.
Tapi namanya kehidupan, kubang-kubang kecil maupun besar sering kali dimunculkan untuk menjadi bumbu dalam cerita kehidupan, selain meningkatkan rasa ia juga meningkatkan cerita. Hazel teringat perkataan ibunya, “Tidak ada kejadian yang sia-sia. Dan bisa jadi mereka memiliki keterkaitan sendiri.”
Hazel tanpa sadar sedang mencari-cari ingatan tentang betapa lembutnya sosok ibunya, sembari menatap lelaki di depannya yang sudah memukul orang lain demi dirinya. Terlebih orang itu memiliki sifat yang sama buruknya dengan dia.
Dunia dan penghuninya sama anehnya.
Hazel tertawa kecil setelah mengucapkan kata sihir itu. Itu adalah kata sihir miliknya sendiri, yang mungkin saja nanti akan dia bagi pada anaknya saat ia mengelus kepalanya.
“Aku baru pertama kali melihat kau tertawa manis seperti itu…” tutur Pandji yang telah membuat Hazel tersadar ia sedang duduk di depannya dan di mata lelaki itu, ia mendengarkan dari awal hingga akhir cerita membosankan yang keluar dari mulutnya.
Eh?
“Kupikir ceritaku terlalu membosankan, soalnya dari tadi kau hanya diam saja.”
Hazel hanya tersenyum, “Ya begitulah…”
Dia sudah sadar tapi malah mengelak. Huh!
“Sebenarnya memang membosankan,” Hazel menghela nafas tidak tahan dengan kebohongannya. “Yah tapi tidak apa. Kadang hal yang membosankan juga perlu didengar, kan. Kau bisa cerita lagi selagi aku sepi pengunjung dan sedang tidak ada pekerjaan.”
Hazel menyadari air minum Pandji habis, dan juga merasa haus, gadis itu segera menyuruh Pandji untuk menunggunya kembali ke dapur dan mengambil air dingin. Gadis itu membawa dua gelas air putih dingin dan segelas minuman sirup.
“Terima kasih,” ucap Pandji.
Hazel menyodorkan segelas air putih dingin, “tenang saja ini gratis.” Dia tertawa.
Pandji ikut tertawa, ia pikir minuman yang satunya.
“Pfft,” gadis itu tidak tahan dengan wajah polos Pandji, “Aku bercanda, ini.” Hazel mendorong segelas minuman manis yang dingin. Ia sedang menjahili Pandji dengan sengaja.
Pandji hanya tertawa kecil melihaht Hazel yang dengan riang, ia sadar Hazel lebih riang dari pertama kali ia bertemu.
Pertemuan mereka yang tidak terlalu mengenakan, lambat laun menjadi pertemuan yang berkesan. Sikap Hazel yang keras juga lama kelamaan melembut.
Kira-kira jika aku menembaknya lagi, apa jawabannya ya…Semakin ia berubah dan menerimaku, aku semakin tidak kuat untuk tidak mendekapnya. Dan memilikinya selamanya.
Pandji termenung dan terus menatap Hazel dengan seksama, sesekali ia melempar pandangannya keluar. Terik cahaya mulai menyengat.
“Hazy…”
Hazel menoleh, paman Noah membincangkan namanya dengan paman Amir dengan sangat keras. Jangankan Hazel, gadis itu juga yakin teman bicaranya, Pandji juga mendengar mereka menyebtu namanya.
“Eh kau memanggilku?” seketika Hazel menoleh kembali ke arah Pandji saat menyadari lelaki itu sempat menyebut namanya dengan lirih.
“Tidak… bukan apa-apa.”
Restoran kembali memadat jam makan siang sebentar lagi. Hazel segera berdiri dan menatap para pengunjung, “Oh ya sudah, aku harus segera ke dapur. Kau tidak apa ku tinggal kan?” tanyanya bahkan tanpa menoleh kek arah Pandji.
“Em ya… tidak apa. Aku juga mau kembali ke penginapan.” Pandji ikut berdiri dan masih menatap wajah Hazel yang tidak menatapnya.
“EH sudah selesai?” paman Noah menyahut pembicaraan mereka.
Pandji hanya mengangguk saja, sedangkan Hazel mengiyakan perkataan paman Noah. Tentu saja ketika sedang bertugas, kerja lebih penting bagi Hazel.
“Kau ini, padahal sudah ada dua juru masak di sana.” Paman Noah menunjuk paman Amir yang menyelesaikan sisa-sisa peralatan makan paman Noah. Juga paman Zali yang tak jauh dari meja mereka.
“Yah… aku bisa membantu yang lain, bersih-bersih juga bagian dari pekerjaan orang dapur.”
“Iya sih, tapi… oh ya udah sih. Kau juga pasti bisa mengelak yang satu ini.”
Like father, daughter, kan.
Hazel hanya tertawa kecil membalas ucapan paan Noah yang tidak tahu harus ia respon bagaimana.
“Jangan lupa hubungi aku melalui Withapp,” ucap Hazel pada Pandji tanpa ia sadari dan langsung berlalu ke dapur.
Ah ia, aku sempat menyimpan nomornya tanpa izin waktu itu. Tapi itu tidak sepenuhnya salahku. Ponselnya yang tidak menggunakan kunci seolah meminta orang lain untuk membukanya.
Pandji mengikuti paman Noah yang sudah berjalan di depannya. Ia melajukan ritme langkahnya untuk menyesuaikan dengan laju paman Noah.
“Kau semakin akrab saja ya dengannya,” ucap paman Noah tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka berdua. “O ia apa kau tadi memukul salah satu pelanggan di resto itu ya?” tambahnya dengan nada meledek.
Pandji yang tertegun dengan pembahasan paman Noah hanya terdiam memasang wajah gugup. Noah yang melihat itu hanya tertawa geli. “Tau tidak, mereka itu juga penghuni di penginapanku loh.” Lagi-lagi paman Noah tertawa.
Pandji merasa lebih terkejut dengan ucapan terakhir paman, ia baru menyadari salah satu yang menyuruh teman tingginya untuk diam adalah orang yang sempat duduk di depan meja mereka di malam perayaan tahun baru.
“A-aku tidak takut!” gertaknya, tapi dalam hatinya ia bergetar. Setidaknya jika satu lawan satu, Pandji tidak akan takut. Tapi jika mengingat mereka adalah kelompok yang berisikan lima orang, di tambah tiga orang lainnya melebihi tingginya, rasanya Pandji seperti akan menyerah jika dikeroyok mereka berlima.
Paman yang mendengar itu hanya tertawa, ia tidak menyangka lelaki muda di sampingnya menggertak dengan nada gemetar yang sengaja di sembunyikan.
“Dasar anak-anak muda! Memang kau pikir aku akan membiarkan kalian bertengkar lagi? Terlebih lagi di penginapan ku.” Paman Noah mulai mengangkat tangannya dan menaruh di belakang kepala, ia mengatakannya dengan serius.
“Jangan coba-coba ya! AKu tau kau marah karena salah seorang sedang menggoda wanitamu kan.”
“A-apa?! Wanita apanya.” Wajah Pandji memerah. Ia tidak menyangka paman Noah akan mengatakan hal memalukan itu.
“Mengaku sajalah.” Ia tertawa lagi. “Yah intinya begitu deh. Permasalahan kalian sudah selesai saat tadi kalian saling meminta maaf jadi jangan dibawa-bawa lagi ke penginapan. Jika bisa malah akurlah.”
Wajah paman Noah berubah, ia mengingat perkataan Zali yang terputus, tapi saat ia mendesak Amir, Noah tidak mendapatkan jawaban apapun. “Lagian kalian sepertinya seumuran atau berbeda sedikit.”
Pandji hanya mengangguk menurut pada paman Noah. Toh ia si pemiliknya, pasti ia orang yang netral.
“Yah kalau begitu aku duluan deh, aku masih ada urusan lain.” Noah berlalu tanpa menunggu jawaban Pandji.
Pandji yang tadinya seirama dengan langkah paman Noah, kini memelankan langkahnya dan memilih memutar. Ia ingin duduk di pondok terdekat dengan bibir pantai. Mungkin untuk terakhir kalinya sebelum ia harus pulang.