Pandji mencari pondok yang tidak berpenghuni, tapi pencariannya terasa mustahil di saat banyak pengunjung di sekitar pantai yang ramai masih menikmati hari libur nasional. Ia memutuskan berjalan perlahan di hamparan bibir pantai dengan pasir putih yang lembut, membiarkan air asin menyentuh dan membasahi kakinya.
Dari arah berlawanan dengan matahari, Pandji melihat satu pondok yang tidak berpenghuni, ia menghampirinya perlahan melewati segerombolan anak kecil yang asyik berlari ke sana kemari mengangkat pelampung ban di pinggang mereka.
“Ayo cepat kejar ombaknya!” teriak salah satu bocah lelaki yang hanya mengenakan kolor dengan kulit setengah kebakar tapi sengatan matahari tak membuatnya ingin berhenti bermain dengan pantai.
Pandji memilih menghidari gerombolan anak-anak yang aktif. Meski keceriaan mereka mengingatkan dirinya saat kecil saat masih sekolah dasar, ia memilih menghindari mereka karena bocah-bocah itu terlalu berisik untuk Pandji yang ingin menyendiri. Memikirkan apa yang selanjutnya harus ia lakukan untuk menggaet hati Hazel.
Hazy lebih baik dari sebelumnya, meski begitu aku masih terbayang masa kecil kami… sedihnya ia tidak mengingat itu sama sekali. Andai dia mengingat itu semua, mungkinkah dia akan meminta maaf? Dan aku bisa membuatnya sebagai alasan untuk membayar kedekatan kami.
Pandji menggelengkan kepala, ia tidak menyetujui rencananya sendiri. Meski hatinya ingin memiliki Hazel dengan sangat dalam, tapi ia tidak ingin melukai gadis yang sangat ia sukai.
Lelaki itu tidak menyadari langkahnya telah sampai ke tujuan dan ia melihat tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang lelaki yang tengah menghisap rokoknya sedang memandangi laut dan termenung.
Eh orang itu? Apa teman-teman nya ada di sini juga?
Pandji melirik kesana kemari dengan memasang wajah yang tegang.
Arnesh yang sedang merokok menyadari ia tengah ditatap dengan tajam oleh lelaki yang sempat memukul temannya. Ia hanya diam seketika dan mematikan rokoknya. Melirik ke sana kemari memastikan sesuatu yang tadinya juga di lirik oleh Pandji.
“Ada apa?” tanyanya datar. Kenapa dia menatap tajam begitu? Dia menginap di samping kamar kan…
Eh? Dia tidak mengenalku? Aku yang memukul temanmu loh.
“Tidak ada. Apa pondoknya sudah di pesan?” Pandji menanyakan perihal pondok bambu yang dibelakangi oleh Arnesh.
“Tidak.”
Tanpa basa basi dan pikir panjang, Pandji duduk di sana. Dan memilih memesan minuman sebagai tanda menyewa pondok.
Arnesh masih berdiri di sana membelakangi Pandji dengan gaya yang kasual. Ia menghidupkan sebatang rokoknya lagi, “Tadinya aku ingin duduk di sini. Apa boleh bergabung?” tanyanya tanpa basa basi.
“Silakan. Di sini ramai dan pondok sudah banyak yang terisi. Ngomong-ngomong kita satu penginapan ya? Sepertinya aku pernah melihatmu.” Pandji mencoba mencairkan suasana.
Dia pintar berbicara, aku melihatnya sering berbicara. Seperti tidak ada habisnya yang ingin ia bicarakan di dalam kepalanya. Apa gadis aneh itu suka laki-laki yang banyak bicara?
Arnesh dengan sopan menyodorkan rokoknya menawari teman di depannya.
“Tidak, terima kasih. Aku tidak merokok,” ia tertawa canggung.
Rasanya canggung sekali. Ia pura-pura tidak sadar aku atau dia menunggu waktu untuk membalas pukulanku tadi. Meski itu bukan pukulan yang kuat, itu sempat membuat kelompok mereka jadi pusat perhatian.
Setidaknya pasti membuat mereka malu.
Pandji termenung cukup lama, ia mengkhawatirkan banyak hal. Sampai tidak menyadari air kelapa yang ia pesan sudah datang dan malah di bayar oleh orang yang ingin ia hindari.
Arnesh yang tidak ingin mengganggu lamunan rivalnya itu, segera membayar ar kelapa milik Pandji dan memesan satu lagi untuk dirinya. Ia juga mematikan rokok setelah beberapa kali hisapan.
“Apa kau yang membayarkannya?” Tanya canggung Pandji saat ia sadar sudah ada sebongkah kelapa hijau dan segelas es batu yang terpisah di depannya. “Berapa aku harus menggantinya?” tanyanya lagi.
“Tidak perlu, pemiliknya juga tidak memiliki kembalian, jadi aku memesan satu lagi untukku.”
Pandji hanya menunduk tidak enak.
Kenapa raut wajahnya begitu? Apa dia merasa tidak enak?
“Kenapa kau…”
“Apanya?” Arnesh merasa heran dengan lelaki di depannya.
“Aku orang yang tadi memukul temanmu loh,” ucapnya dengan nada ringan, “saat di restoran keluarga di dekat parkir utama. Kalau tidak salah ingat, kau tadi bersama keempat temanmu kan.”
“Oh jadi itu kau.”
Arnesh terdiam sejenak. Ia mengingat orang ini juga duduk dengan Hazel tapi ia tidak tahu keributan itu antara Ryan dan dia. Yang ia tahu, Ryan menganggu gadis itu, dan pamannya menghalau mereka.
Apa dia mengikuti? Memastikan tidak ada teman-temanku dan membalas yang tadi?
“Oh jadi kau tidak tahu ya…” Pandji tertawa canggung, meski begitu ia sedikit lega.
“Kenapa?”
“Yah tidak ada. Aku berharap permasalahan tadi di melebar. Dan maaf telah membuat orang-orangmu tidak nyaman.”
“Tidak usah khawatir.” Arnesh mengatakannya dengan datar. Air kelapa pesanannya sudah datang, ia segera menikmatinya. “Harunya si bocah Ryan itu yang meminta maaf kan. Yang kau pukul itu namanya Ryan. Dia masih muda, temperamen terkadang meledak-ledak.”
Pandji mengangguk tanda mengerti dengan situasinya.
Jadi bener-bener beres ya. Kukira kami akan bermusuhan juga. Tapi jika orang itu temperamen, aku memilih untuk tidak menjadi akrab dengannya. Pasti kami tidak akan cocok.
“Mereka teman-teman dekatmu?”
“Teman dekat? Kami seperti keluarga. Kenapa?”
Kenapa kau banyak tanya. Sialan. Kenapa aku harus mengakrabkan diri dengannya.
Arnesh melempar pandangannya ke arah laut. Ia hanya tidak ingin menatap mata lawan bicaranya kali ini. Dan memilih menatap laut yang tidak begitu ia sukai. Terlebih suasana yang ramai ini membuat ia mual dan ingin segera pergi.
Namun ia memilih untuk berbagi pondok, selain ingin sedikit tau seperti apa orang yang selalu lengket dengan Hazel, Arnesh memilih berteduh karena tengkuknya terasa panas dengan sinar matahari yang semakin ke atas.
“Karena kalian terlihat cocok dan saling mengisi. Tapi siapa sangka ternyata kalian lebih dekat dari itu.”
Yah setidaknya kami adalah keluarga untuk satu misi.
“Tentu. Perbedaan mengikat suatu hubungan.”
Huh?
“Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa mengenal paman Noah?”
“Kau seperti polisi yang sedang mengintrogasi, huh?”
“Eh. Bukan begitu. Tapi tadi aku sempat berbincang sedikit dengannya. Dia tau aku sempat berselisih paham dengan Ryan temanmu. Ia menyuruhku untuk mengakrabkan diri. Dan seingatku, di malam perayaan tahun baru, kita berada di acara yang sama kan.”
Pandji menjelaskan dengan hati-hati, ia juga tidak ingin terdengar seperti orang yang ingin tahu segalanya.
“Kalau begitu aku juga heran. Apa hubunganmu dengan orang itu?” Arnesh menanyakan hal yang seharusnya tidak ingin ia tahu. Setidaknya itu bukan hal yang penting untuk diketahui.
“Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan paman Noah. Tapi karena aku dekat dengan Hazel. Ia juga mengundangku. Kudengar dia itu pamannya Hazy dari pihak ibunya.”
Arnesh tidak memasang wajah terkejut tapi kini hatinya menjadi tamak akan keingintahuan.