Rendah Hati

1173 Kata
Pertemuan mereka berakhir dengan hanya obrolan kecil. Setelah obrolan yang menjadi awal mula ketidakpuasan Arnesh, Pandji mendapatkan telepon yang mengharuskannya mengakhiri obrolan mereka. Arnesh memilih memisahkan diri dengan lelaki yang terlalu banyak bicara itu. Ia tidak ingin dengar apapun lagi darinya. Atau sebaliknya. Atau malah penyesalan yang tiada akhir telah ikut bergabung di pondok itu. Kini dirinya terus menerka-nerka dan keingintahuan yang besar akan terus menggerogoti dirinya. Ia membaringkan dirinya di kasur yang empuk dan menatap langit-langit dengan tatapan kosong untuk beberapa saat hingga akhirnya terlena. Ia memimpikan kembali apa yang sudah terjadi namun bedanya, perjalanan di mimpinya lebih mulus daripada kenyataan. * Pandji kembali restoran Hazel. Gadis itu tengah menyajikan makanan dengan salah satu pengunjung. “Kenapa kau kembali kesini?” tanyanya dengan nada penasaran saat ia menyadari Pandji datang lagi dan memesan meja tak jauh dari tempat dia berdiri. “Oh. Kau bertanya denganku?” Hazel menghela nafas, ia merasa kesal dengan tatapan pura-pura bodoh lelaki di depannya. “Ah aku tidak pura-pura, tadinya aku sedang termenung.” “Kau kembali ke sini ada alasannya?” tanya Hazel sekali lagi menahan kesabarannya. “Tidak juga, hanya ingin berpamitan, Dan sepertinya nanti Sofia dan aku akan pulang bersama. Hehe,” lelaki itu tertawa canggung. Oh… Baguslah Sofia memilih sendiri- “Itu bukan paksaan dari Nadya lagi kan?” tanyanya dengan wajah serius. “Sepertinya bukan. Dia sendiri yang menelponku tadi.” Ia diam sejenak dan mulai berfikir, sedikit keraguan tampak di wajahnya. Hazel hanya mengangguk memastikan perkataan Pandji tidak ada kebohongan di sana. “Kenapa?” Hazel bertanya dengan wajah was-was. “Aku tadi sempat mengobrol dengan salah satu teman dari pengunjung yang aku pukul,” ucapan spontan. Wajah gadis itu mulai berubah, ia terkejut dan bingung harus merespon bagaimana, satu sisi ia juga khawatir tapi ketika ia melirik kesana kemari tubuh Pandji tidak meninggalkan bekas luka. Dia menang? Tidak-tidak. Maksudku mungkin mereka tidak bertengkar dan hanya ngobrol biasa. Pandji tertawa dengan reaksi Hazel yang melihatnya dengan seksama, ia mengerti dengan respon itu. “Kami tidak berkelahi. Hanya obrolan biasa.” Dia mulai bisa membaca pikiranku ya? * Pandji menghabiskan waktu makan siangnya dengan diam dan tenang, ia tidak mengganggu Hazel yang juga tengah sibuk kesana kemari mengantarkan pesanan para pelanggan restoran. Hazel bahkan tidak menyadari Pandji yang telah pergi lagi tanpa sepengetahuan dirinya. Hatinya sedikit khawatir tapi ia segera membuang jauh-jauh pikiran negatif itu. Ini bukan seperti aku biasanya, Pandji dan Sofia mulai mengakrabkan diri. Hazel tertawa geli kepada dirinya sendiri. Ia meyakinkan dirinya sendiri tidak akan ada yang terjadi. Dan semuanya akan kembali baik-baik saja. Toh aku terbiasa kehilangan… Jika kehilangan satu lagi, bukan masalah besar. Apa?! Apanya yang hilang sialan. Kami bukan dalam hubungan untuk saling merasa kehilangan! Setidaknya diriku sendiri. Ia melanjutkan kembali pekerjaannya, yang sedikit membosankan sekarang. Semenjak paman Amir yang menggantikan dirinya, tidak ada kesempatan barang sedikit untuknya memegang gagang penggoreng kecuali ketika membersihkannya di atas air sabun. Dan bukannya di atas kompor gas. Paman Amir terlalu berlebihan melarang dirinya, tapi satu sisi Hazel merasa sesak jika berbagi dapur dengan tiga orang sekaligus. Rasanya ia ingin membuka sendiri dapurnya, meski itu hanya dapur kecil. Kini tugasnya seperti menjadi fokus pada mengantar, mengangkut dan membersihkan. Hanya terkadang membungkus-bungkus makanan yang membuatnya sedikit merasa hidup setelah sekian purnama dirinya membersihkan seisi restoran. Bukannya aku tidak bersyukur atau apa. Tapi semakin lama rasanya membosankan dan semakin lama… ini menjadi menjengkelkan. Hazel sekali lagi menggerutu saat sedang membersihkan peralatan makan. Ia tidak membenci paman Amir yang telah menggantikan posisinya, atau malah mendapatkan posisi yang sama tinggi dan pentingnya dengan paman Amir, tapi ia merasa dirinya menjadi tidak kompeten karena terus-terusan hanya memegang air sabun. “Apa kau perlu bantuan?” tanya paman Amir dari belakang punggung Hazel. Suara itu mengejutkannya yang sedang termenung sambil membersihkan peralatan makan. “Tidak…” AKu tidak bisa bohong kalau aku benar-benar bosan. Paman Amir tertawa kecil, “Kau pasti bosan kan. Kalau sudah selesai mencuci, kau boleh pulang,” ucapnya seperti berbicara dengan anak kecil yang tengah membantu restoran. Hazel tidak tahu apa ia harus senang atau tidak. Terdengar tawaran yang menarik, tapi juga terdengar seperti dirinya tidak berguna, tidak dapat diharapkan dan tidak punya tempat lagi di restoran. Hazel berdiri dan memposisikan dirinya sedikit miring, ia tidak ingin membelakangi pamannya, “Apa aku menghambat?” tanyanya pelan dengan hati-hati, dengan tangannya yang masih berlumuran sabun. Paman Amir yang melihat wajah Hazel serius dan setengah sendu, ia terdiam membaca situasi. Ia menggeleng segera, “Tidaklah! Apa maksudmu menghambat?” paman Amir menggaruk-garuk rambutnya, “Apa kau sedang sedih?” tanyanya lagi. “Dengar, aku. Maksudku kau, bukan penghambat di restoran ini. Malah kau yang selama ini menjaganya kan bersama paman Zali.” Paman Amir melontarkan kata-kata penyemangat untuk hati Hazel yang sedikit sedih. Hazel hanya mengangguk dan melanjutkan cuciannya. Paman Amir hanya diam saja dan pergi dengan penuh kecanggungan di antara mereka. Tanpa sadar tangannya dengan lincah menggosok sana sini, air matanya mengalir jatuh di antara buih-buih sabun. Ini bukan salah siapa-siapa. Ini hanya aku yang tidak kompeten. Kalau aku menguasai semuanya dengan sempurna, aku pasti setara. Seperti mereka. * Restoran yang mulai menyepi menjadikan paman Zali menggunakan kesempatan ini untuk merokok di luar, dan mengamati situasi luar restoran. Beberapa hari ini terjadi kasus di depan restoran yang tidak terduga dan mengganggu, seperti menumpuknya sampah yang jelas bukan milik kami atau di bawa pengunjung sini. Yang menjadi masalah bukanlah sampah yang menumpuk tapi sampah yang seperti sengaja di taruh di depan restoran dengan berantakan. Apa Sih tujuan mereka? Paman Zali sengaja merokok di antara kendaraan parkiran, bertingkah seperti salah satu pengunjung yang menikmati angin sepoi-sepoi. Dan seolah tidak peduli dengan sekitar seperti salah satu pelanggan yang tidak punya urusan dengan sang perusuh. Sesekali ia meneriaki pengunjung pantai yang melemparkan sampah di dekat tong sampah dengan serampangan. Dan menjadi pusat perhatian, padahal bukan itu yang menjadi rencananya. “Hei! Ambil balik sampahmu atau aku yang mengambilnya lagi lalu aku sumbat di mulutmu?!” gertaknya. “Woi! Aku tidak memberikan pilihan! Ambil balik sampahmu anak-anak tidak tahu aturan!” atau pada segerombolan gadis muda yang tidak memperdulikan di mana lubang tong sampah dan di mana mereka menjatuhkan sampah mereka, paman menghadang kepergian mereka. “Kenapa bapak-bapak tua ini?!” tanyanya dengan nada tinggi. “Bapak tua ini melihat kalian membuang sampah dengan tidak benar. Ambil kembali dan taruh dengan benar!” gertaknya dengan memasang wajah sangat menakutkan. Membuat salah seorang gadis dari gerombolan tidak enak hati dan segera membersihkan kesalahan teman-temanya. “Lain kali bersihkan sampah kalian masing-masing! Menggunakan kedua tangan kalian yang tidak berguna!” teriaknya saat gadis-gadis itu pergi dengan melemparkan cemooh sinis dengan saling berbisik. “Ada apasih berisik sekali?” sahut Amir kepada Zali yang mulai menggila seperti gorilla lepas dari penangkaran dan mengamuk di antara kerumunan. “Bapak-bapak itu dari tadi meneriaki yang lewat di depan restoran ini. siapa sih? Pelanggan? Atau malah pekerja di sana?” bisik salah seorang yang melewati paman Amir yang tadinya pura-pura tidak tahu. Ia menghela nafas panjang dan berfikir sebelum masalah ini bertambah panjang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN