Sisi Lain

1050 Kata
“Hazel!” panggil bibi kasir yang mengagetkan Hazel, ia pikir bibi kasir ingin memarahinya akan sesuatu. Ia hanya diam menatap wajah bibi kasir yang terengah-engah seperti setelah berlari. Bibi segera berbalik badan dan mengisyaratkan Hazel untuk mengikutinya, ia berjalan dengan cepat sehingga membuat Hazel harus segera berlari kecil. Ada apa sih? Dimana paman Amir dan paman Zali? Hazel melirik kesana kemari tapi ia mendapati para pelanggan hanya sibuk berbisik dan menatap keluar dengan penuh tanda tanya. Ia mulai mendengar suara teriakan demi teriakan. Menyadari hal itu Hazel buru-buru menuju ke arah teriakan yang ada beberapa orang berkerumunan. Hazel yang lupa melepas apron menjadi bahan perbincangan pengunjung sekitar. “Mereka ini pekerja di restoran keluarga itu ya,” salah seroang berbisik. Hazel menguatkan hatinya dan mengabaikan cemooh demi cemooh yang dilontarkan kepada kedua pamannya atau kepada dirinya sebagai pekerja yang tidak bertanggung jawab. “Paman sudah!” gertak Hazel saat melihat kedua pamannya menakuti salah satu pemuda yang wajahnya sempat memerah. Apa mereka memukulnya? Hazel memperhatikan dengan seksama tubuh pemuda itu. Sepertinya tidak ya. Syukurlah. Hazel sekali lagi berteriak sampai membuatnya batuk, dan tenggorokannya gatal. Ia hanya bisa mencubit dua lengan yang besar itu, entah mereka mereka merasakan atau tidak, tindakan berlebihan mereka harus dihentikan. Gadis itu segera melirik bibi kasir yang berdiri jauh dari mereka. Hazel tidak bisa mengharapkan itu dari bibi kasir yang nampak malu menganggap kami bertiga bagian darinya. Ia harus menanggung ini sendirian. Cubitan kedua Hazel berefek mereka menyadari keberadaan gadis itu. “Paman sudah hentikan!” bisiknya. Hazel juga mencoba melerai mereka dan lelaki muda, ia juga berbisik meminta maaf pada lelaki itu, dan menyuruhnya pergi. Dan dengan mental yang kuat Hazel mencoba membubarkan kerumunan, ia memasang wajah yang sangat menjengkelkan untuk membuat mereka kesal dan pergi dengan sendirinya. Hazel segera masuk dan menghela nafas, ia menunggu kedua pamannya menjelaskan. Gadis itu membawakan dua botol mineral yang belum terbuka. Membuat mereka menenangkan diri mereka dan menunggu mereka menjelaskan apa yang teradi. Terlihat sekali wajah yang sangat marah di raut wajah mereka berdua. “Tadi itu ada alasannya Hazel,” ucap paman Zali membuka pembicaraan dan melirik Hazel juga bibi kasir yang sudah berdiri di konter dengan menyembunyikan wajah dengan penuh rasa malu. “Apanya? Kenapa paman Amir juga? Maksudku 1 pemuda vs 2 bapak-bapak? Gimana ga jadi pusat perhatian.” Hazel mengingatkan mereka kejadian yang cukup memalukan itu. Paman Amir ikut ambil andil bercerita, cerita itu berawal saat ia hanya ingin duduk dan memperhatikan Amir yang memalukan meneriaki orang-orang yang lewat lalu-lalang di depan restoran mereka. Lalu saat ia tengah asik menghisap sepuntung rokok, salah pemuda yang entah dari mana membawa kantong plastik besar sampah-sampah dan membuangnya di tepi tong sampah kita. Melihat hal itu paman Amir menyadari sesuatu. Ia teringat, beberapa hari ini, mungkin saja orang itu yang sengaja membuang sampah di depan restoran dan sengaja membuat mereka berserakan. Dan tanpa sadar ia ikut terbawa emosi dan memarahi pemuda itu, dan entah bagaimana Paman Zali ikut memarahi orang itu. Hazel hanya menghela nafas dan berfikir sejenak mendengar penjelasan paman Amir. Bisa saja ia, dan bisa saja tidak. Mungkin orang itu kebetulan membuang sampah di sini hari ini. Dan di hari sebelumnya bukan perbuatannya. “Apa tadi dia membuka kantongnya?” Paman Amir mengingat-ingat dan melirik paman Zali. Hazel yang melihat itu segera melepas apron dan melihatnya sendiri ke luar lokasi tong sampah itu berdiri. Memang nampak, tong yang sudah penuh dan sekelilingnya banyak kantung-kantung yang terbungkus rapi. Tetap saja itu sampah meski terbungkus rapi. Ia mendekati dan memperhatikan, tidak ada kantung yang sengaja dibuka kecuali yang di dalam tong. Kantung-kantung yang berdiri di samping tong di ikat dan di berdirikan dengan biasa. Hazel semakin yakin bukan pemuda itu yang melakukannya, ia melirik ke sana kemari membuat dirinya kini di perhatikan sekitar karena terpaku dan memperhatikan tong sampah dengan seksama. “Tidak. Sepertinya bukan pemuda itu yang menyeramkan. Bisa aja dia hanya salah satu pengunjung sisa-sisa tahun baru tadi malam.” Paman Zali penasaran dengan perkataan Hazel yang baru masuk, kini ia ikut duduk bersama mereka. “Aku juga baru menyadari, dua hari lalu berturut-turut di depan selalu penuh serakan sampah yang di sengaja.” “Tapi hari ini, kantong-kantong terikat rapi,” Hazel melempar tatapan kepada mereka. “Yah tapi tetap saja. Dan kau kenapa tadi memarahi orang itu dan bukannya berfikir jernih dulu,” ucap paman Zali kepada paman Amir. “Kau sendiri kenapa ikut-ikutan padahal juga tidak tahu. Kau juga tadi berteriak sana sini.” Hazel menghela nafas, ia melirik paman Zali menunggu jawaban. “Aku meneriaki orang-orang yang jelas membuang sampah dengan serampangan. Dan membuat mereka benar-benar mengambil dan membersihkan sampah nya sendiri. Huh.” Paman Zali mengucapkannya dengan nada sombong. Ia yakin perbuatannya tidak salah. “Yah tapi harusnya pamaan mengendalikan sikap terlebih lagi ketika paman Amir yang mulai kelewat batas. Kasian kan pemuda tadi, gimana kalau dia trauma?” Hazel menahan tawa geli di hatinya melihat tingkah dari sisi lain pamannya. Tapi di satu sisi ia juga merasakan kasihan kepada orang-orang yang telah memarahi mereka berdua. Hazel dapat membayangkan wajah seperti apa yang orang-orang itu pasang ketika mendapatkan omelan pedas dari kedua pamannya yang tegas akan masalah kebersihan. “Iya juga ya…” sambung paman Zali, “Sepertinya tadi ramai yang melihat ya. Aku malah jadi khawatir sama restoran ini.” Hazel mengerti kekhawatiran paman Zali, ia juga ikut merasakan. “Tidak apa. Rezeki tidak akan kemana,” ia terdiam sejenak, “dan… jangan ragu melakukan hal baik.” Hazel berdiri dan kembali melanjutkan apa yang tadi coba ia kerjakan. “Hm… bisa-bisanya lepas kendali,” celetuk paman Amir kepada Zali dan juga dirinya sendiri. Ia terdiam setelah mendengar perkataan Hazel. Dan memikirkan apa yang dikatakan oleh Zali. Restoran ini kini menjadi satu-satunya tempat ia pulang dan tinggal, jadi ia harus sebisa mungkin menjaganya. Apa perbuatan tadi itu termasuk menjaga? Atau malah sebaliknya? Dua orang yang sering berselisih paham itu kini memikirkan hal yang sama di waktu bersamaan. Tapi yang pasti perbuatan mereka tidak sepenuhnay salah ataupun benar total. Menjaga lingkungan tidak semudah mengajari anak kecil yang akan belajar berjalan. Kelembutan atau kekerasan bukan hal yang mutlak untuk dapat dilakukan. Jika dua hal itu bukan hal yang mutlak untuk membawa perubahan, tentu saja diam tidak akan berarti apa-apa dan tidak akan ada perubahan meski sekecil biji kacang hijau sekalipun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN