Permulaan dari Rahasia yang Ingin di Ungkap

1135 Kata
“Gimana perkembangan pencariannya?” Arnesh melempar pertanyaan kepada Mikail. Hari ini, hari kedua mereka di penginapan Noah, menghabiskan waktu libur layaknya orang normal. Seperti biasanya, bermalas-malasan dan bersenang-senang. Bedanya hari ini mereka terpaksa makan yang disajikan dapur penginapan, dan bukannya restoran langganan mereka. “Belum sepenuhnya. Terlalu banyak informasi yang tertutup dan tidak ada akses untuk mengetahuinya.” Mikail menjawab selagi bersantai di balkon kamar Arnesh. “Kau akan merokok disini?” tanyanya saat ia melihat Arnesh membuka kotak dan mengambil sepuntung. Ia khawatir baunya akan terendus oleh paman Noah yang ketat akan merokok di ruangan. “Apa orang sebelah masih di sana?” tanya balik Arnesh kepada Mikail yang segera berdiri dari kursinya dan ingin meninggalkan dirinya. “Siapa?” ia bingung dengan pertanyaan Arnesh. “Orang yang memukul Ryan.” “Dia tinggal di sebelah kamarmu!?” raut wajah Mikail berubah, “jika aku tau-” “Apa?” potong Arnesh, ia memulai hisapan pertamanya, “Kau mau mengejarnya?” sambungnya. “Apa kau puas hanya dengan membela orang yang bahkan tidak peduli denganmu?” “Kau ini bicara apa!” ia melengos dan pergi, “kenapa aku tidak boleh mmeukul orang sebelah kamar? Kau suka padanya?” ia tertawa dan segera meninggalkan Arnesh yang telah menghisap sepuntung rokoknya ke dua kali. “Memangnya aku dirimu. Dasar” Mikail bergabung kembali dengan sekumpulan di kamar Arnes, ia duduk di samping Akira yang tengah serius menjalankan laptopnya di meja makan. Di jam ini meja makan dipenuhi seperangkat alat laptop yang telah berjejer milik semua orang dan beberapa alat detektor milik Akira. Dua orang lainnya melanjutkan bermain game untuk kesekian kalinya, melihat hal itu Mikail hanya menarik nafas. Toh memang pekerjaan rahasia ini terlalu berat jika dilakukan sekaligus tetapi jika tidak terus dijalani akan memakan waktu sangat banyak terlebih lagi cuti mereka hanya berlangsung dua hari. Di hari selain cuti, akan sulit bagi mereka untuk melakukan ini, dan berisiko. “Apa ada akses yang sangat ketat hingga tak tertembus?” tanya Mikail membuka percakapan saat ia melihat wajah Akira yang mengerutkan dahi. Akira hanya mengangguk, ia tak bergeming. “Kalau begitu itu akan menjadi pekerjaan Ryan dan Arnesh. Kau lanjutkan membuka yang lainnya.” Sekali lagi ia mengangguk, yang awalnya Akira mengerutkan dahinya kini ia menyipitkan mata dengan wajah serius. Lelaki itu penuh pesona ketika berada di depan alat perangkatnya. Ia tidak banyak bicara, dan selalu menggunakan isyarat mengangguk dan menggeleng. Dirinya yang tidak banyak minta dan selalu ikut apa yang dikerjakan kumpulan kelompok Arnesh menjadi sangat cocok dengan mereka. Akira adalah orang pertama yang di bawa Mikail bergabung membantu Arnesh, selain ikut membantu Arnesh, ia memiliki tujuannya sendiri untuk ikut bergabung. Tugasnya sama dengan Ryan yang menjadi sang peretas. Bedanya jika Ryan terdaftar sebagai karyawan di perusahan yang Arnesh pimpin untuk sementara waktu. Akira memilih tidak ingin bekerja di sana karena alasan pribadi. Ia akan memberikan tugas yang terlalu sulit kepada Ryan, karena posisinya memungkinkan untuk tidak dicurigai jika ia mendapatkan akses informasi itu. “Ryan,” Panggil Mikail, “Kau sudah menyelesaikan tugasmu?” tanyanya dengan nada serius. “Ya” jawabnya singkat. Mikail menghela nafas, ia harus memikirkan rencana selanjutnya untuk Jill yang menjadi eksekusi akhir bersama dirinya. Ia terus memandangi Ryan dari belakang, sesekali membuang perhatiannya dan kembali fokus dengan apa yang ingin ia lakukan sekarang. Ryan sendiri adalah orang ketiga yang Mikail ajak bergabung, ia tidak memiliki dendam yang sama dengan Akira atau yang lainnya, ia hanya pemuda lokal yang terbuang dan berbakat. Pertemuan pertama dengan Mikail terjadi saat Ryan sangat membutuhkan pertolongan. Jadi mengikuti orang itu untuk membantu Arnesh adalah sebagai balas budi baginya. Sedangkan Mikail punya maksud tersendiri mengajak orang itu bergabung. “Kau masih belum puas juga?” ledek Ryan melihat Jill yang masih bersungguh-sungguh untuk melawannya meski hasil akhir dapat dibaca di pertengahan permainan. “Diam kau!” gertaknya, “Kau tidak mengutak-atik alat ini kan?” ia mencurigai Ryan yang memang maniak game. “Gilak kau. Mana aku tahu hal begituan, memangnya aku tukang reparasi alat elektronik. Cih…” ia geram si bodoh ini selalu menyamakan programmer dengan yang biasa membongkar pasang dan memodifikasi alat elektronik. Sedangkan Jill adalah orang terakhir yang ikut bergabung, selain dia teman lama Arnesh dia juga mengenal Mikail dengan baik, hanya saja hubungan mereka bertiga tidak sebaik hubungan Arnesh dan Mikail yang seperti saudara. Jill memilih ikut tanpa alasan dan penolakan sama sekali, meski begitu sesekali ia menentang rencana Arnesh namun akan berakhir tetap mengikuti arus yang mereka ciptakan. Setelah Mikail, Jill adalah orang yang dekat dengan Ryan. Karena hobinya yang suka bermain game membuat ia satu-satunya rival Ryan, meski ia sadar tidak pernah sekalipun menang. Sedangkan di mata Ryan, hanya Jill yang bisa diajak bercanda dan ia hanya menuruti Mikail karena hutang budi yang selama ini menempel padanya. Ia menuruti Mikail hanya untuk pekerjaan. Ryan tertawa setelah berhasil mengalahkan Jill dalam permainan kedua yang mereka lakukan di jam istirahat ini. “Masih mau lanjut?” ledeknya. Mendengar ledekan itu, mereka bertengkar kecil membuat seisi ruangan riuh. Mendengar hal itu Akira segera memasang headset kedap suara. Dengan begitu ia tidak perlu menggerutu dan merasa terganggu dengan dua maniak game itu. Mikail yang mendengar hal itu hanya mengerutkan dahinya. Apa Sih yang mereka pertengkarkan. Game bodoh itu. Berisik sekali. Dasar maniak game sialan. Mikail sendiri adalah teman dekat Arnesh, mereka besar di tempat yang sama. Meski mereka sempat berpisah beberapa waktu lalu, kemarahan mereka sama. Mendengar teman dekatnya yang ingin membalaskan dendam dengan mengorbankan nyawanya sendiri, membuat Mikail tidak tahan untuk tidak menyusun rencana dengan detail. * Suara riuh dalam ruangan bahkan sampai terdengar keluar balkon dimakan Arnesh telah mematahkan puntung rokok yang telah ia hisap dalam beberapa kali. Setelah menghisap sesuatu yang manis, ia membiarkan dirinya terlena dengan angin kecil yang segar di bawa dari tengah laut. Matahari sedang berada tepat di atas penginapan, ia bisa merasakan sedikit sengatan yang diserap oleh pagar pembatas balkon yang terbuat dari besi. Untungnya balkon di tutupi dengan atap dari anyaman pelepah daun kelapa, sehingga membuat suasana yang terik ini tidak begitu terasa. Arnesh menghidupkan satu puntung lagi sebelum akhirnya ia masuk bergabung dengan Akira dan Mikail. Ia yang tidak ingin ambil pusing mengikuti rencana Mikail. Ia hanya cukup membuka akses dari dalam tanpa dicurigai. Dengan Ryan berada di sampingnya dan mereka yang akan membantu sisanya, Arnesh pikir rencana Mikail adalah rencana yang sempurna. “Jika ini terlalu membuang-buang waktu. Tidak usah di teruskan saja. Lebih baik kalian melakukan sesuatu yang menghasilkan uang dan membuat hidup kalian lebih baik dari sebelumnya.” Arnesh tiba-tiba mengungkapkan isi hatinya. “Maksudku, aku sudah berterima kasih dengan keterlibatan kalian tapi rencanaku sendiri juga tidak buruk,” tambahnya saat ia merasakan keheningan yang mencekam di antara mereka berlima. Bahkan kini Akira yang terkenal pendiam ikut mengerutkan dahi. Mereka semua mengerutkan dahi mendengar pernyataan Arnesh yang tiba-tiba itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN