Kenapa?

1071 Kata
“Apanya yang kenapa?” Arnesh menghela nafas ketika Mikail menggertaknya. Bahkan Akira yang biasa hanya mengikuti, keluar ke balkon setelah ia mengatakan bahwa dirinya tidak akan berhenti. Meski ia harus melakukannya sendiri. “Apa yang bagus dari rencanamu?” Mikail bertanya lagi, “Seingatku rencanamu hanya ingin melenyapkan si tua bangka itu. Lalu apa? Anak tertuanya akan menguasai 70% saham yang ada.” Mikail ikut berdiri, ia ingin mengikuti Akira, “Lalu kau? Akan berakhir di penjara. Ingat kau sendiri orang buangan. Di penjara mana kau akan berakhir, tidak akan ada yang tahu!” tambahnya dengan nada kesal. “Kita ini orang buangan.” Mikail merasa kepalanya memanas. Pergi ke balkon yang disinari terik matahari tidak akan mendinginkan kepalanya. Ia segera keluar dari kamar Arnesh mencari sesuatu yang dapat mendinginkan kepalanya. “Dinginkan kepala kalian dulu dan berkumpul kembali ke sini saat makan siang,” celetuk Jill yang kesal dengan perdebatan mereka di pertengahan game nya yang tidak ada hasil. Ryan hanya terdiam, ia merasa tertekan, ia tidak terbiasa berada di tengah-tengah pertengkaran. Tiga orang yang menurutnya menyeramkan sedang adu mulut, membuatnya beberapa kali meleset dari jangkauan kemenangan. Membuat teman bermainnya sangat serius dan menjadi besar kepala. “Makan siang sudah lewat bodoh,” celetuk Mikail sebelum keluar dari kamar Arnesh. “Hah?! Apa?” ia kaget, “Jadi aku telah melewatkan makan siang?” Ryan yang melihat teman bermainnya panik, Ia segera mengambil kesempatan itu melesat melaju dan menjauh dari mobil milik Jill, kini mereka bermain game yang mengemudikan mobil. Membuat orang itu menggerutu dan berkali kali membanting konsol gamenya ke lantai. Arnesh yang melihat itu bertambah pusing. Ia segera meninggalkan ruangan, sebelum pergi ia mengingatkan Akira untuk memesankan makan siang untuk dua maniak game itu. “Aku hanya ingin berjalan sebentar,” ucap Arnesh saat melihat Akira menatapnya seolah bertanya kemana ia ingin pergi. Ia sedikit memahami perilaku Akira karena penjelasan Mikail. “Brosur restoran terdekat yang bisa pesan antar ada di laci meja dekat tempat tidur,” tambahnya sebelum pergi dari perbatasan balkon dan ruangan. Arnesh melirik arah balkon sebelah kamar, ia tidak mendapati adanya pergerakan dari sana sejak kemarin malam. Sejak ia terbangun dari tidurnya, Apa orang itu terus menempel pada gadis restoran itu? Jill melirik Arnesh yang sudah keluar dari kamarnya, ia telah menyelesaikan permainannya dan ingin makan sesuatu yang berat. “Kau tidak ingin lanjut?” tanya Ryan yang kini langsung membaringkan badan saat lelah bermain dan duduk selama dua jam. “Memangnya kau tidak lapar?” tanyanya. Jill mencari-cari sesuatu, tapi hanya makanan kecil dan beberapa botol bir kalengan di dalam kulkas. Ia menggerutu dengan isi kulkas di kamar Arnesh yang tidak memiliki apa-apa untuk mengganjal perut. Akira yang melihat Jill menggerutu, ia mengambil beberapa selebaran brosur restoran terdekat di laci yang diberi tahu Arnesh. Brosur yang berisi beberapa menu makanan yang bisa di pesan antar. Ia memberikan pada Jill tanpa bicara sepatah katapun. Jill pun menerimanya tanpa sepatah katapun, ia tidak ingin banyak tahu mengenai Akira yang tidak banyak bicara. Lelaki pendiam itu menyadari salah satu brosur yang mencolok, ia segera mengambilnya kembali tanpa basa basi. Akira yang menyadari jill menatapnya heran, ia membiarkan Jill melihat brosur itu, matanya segera melirik kea rah Ryan. “Yah oke” ucap Jill singkat. Ia memahmi isyarat yang diberikan Akira. “Berapa yang harus aku pesan? Disamakan saja nih?” Akira hanya mengangguk dan kembali ke balkon. Apa susahnya sih tinggal bicara. “Kau ingin memesan di mana?” tanya Ryan penasaran saat ia menyadari Akira dan Jill berbicara berdua. Ia merasa penasaran dengan pembicaraan apa yang membuat Akira pun ikut berbicara. “Restoran terdekat saja. Aku menjadikan semuanya saja. Kau mau apa? Cepat!” geraknya. Ryan berfikir sejenak, ia ingin memakan sesuatu yang dari restoran keluarga di ujung pantai berlawanan dari penginapan mereka. “Tadi pagi itu sarapan nya tidak enak. Bisa tidak makan siang yang terlambat ini kita makan di restoran keluarga yang kemarin?” “Tidak.” Jill menjawab singkat dan bersiap menelpon. Ia memberikan satu brosur yang menjadi tempat ia memesan, “Pilih yang ada di sini saja atau aku menyamakan pesananmu dengan semuanya.” Jill berdecak, “Hanya kau yang banyak pilih”. Ryan merengut dan kesal dengan Jawaban Jill. Akira merasa cukup dengan mendinginkan kepalanya di balkon yang panas, rasanya ia ingin ikut bergabung dengan Mikail. Menikmati kolam pemandian dalam ruangan yang jarang digunakan di belakang penginapan. Itu karena ada rumor ada yang pernah mati di sana dan penghuni lain jadi tidak ingin menggunakannya, namun itu hanya rumor. Meski itu membuat penilaian kolam pemandian jadi buruk, itu jadi kolam yang sering Arnesh gunakan ketika dia menginap sendirian, dan menyendiri. Dan Mikail mengetahui itu dari Noah yang juga mengetahui rumor bodoh itu menyebar bahkan sampai ke penduduk sekitar. Kolam pemandiannya memang tampak tidak menyakinkan, dinding pembatas yang usang, namun lantai kolamnya nampak rutin dibersihkan. “Anehkah jika kolam seenak ini ditinggalkan begitu saja. Tapi karena Arnesh tetap sering menggunakannya, kabarnya Noah yang menyuruh pekerja di sini untuk tetap rutin membersihkannya.” Mikail tertawa setelah melihat Akira datang dan ingin bergabung. Akira hanya memasang wajah penasaran dengan cerita selanjutnya, seolah ia ingin mengetahui lebih dengan rumornya. “Itu rumor yang di buat-buat, memang sebenarnya ada yang sempat kecelakaan di kolam, tapi ia tidak benar-benar mati. Kudengar dari Noah, dulunya ini kolam air panas.” Mikail mengubah posisi duduknya dan membasahi lagi handuk yang di atas kepalanya agar lebih dingin, “Ia pikir akan ramai jika membuka kolam air panas di musim hujan yang bertepatan dengan hari libur, tapi ternyata tidak. Sampai ada kejadian itu dan akhirnya ini terbengkalai, juga perawatan kolam air panas lebih rumit dengan kolam biasa.” Kini raut wajah Akira yang penasaran mulai memudar, ia memejamkan matanya dan membiasakan diri dengan suhu kolam yang dingin. Kolam yang tidak terkena sinar matahari ini sangat nyaman ketimbang kolam di luar sana, ia sangat yakin itu. Mikail yang sudah dulu di menyelam di kolam ini pun setuju, meski dindingnya terlihat usang dan tidak di renovasi, setidaknya lantai kolamnya rutin dibersihkan dan tidak licin. Mungkin saja Noah tidak memiliki dana untuk merenovasinya? Kolam dalam ruangan pasti lebih rumit ketimbang di luar ruangan, kan. Mikail menerka-nerka, ia menyayangkan kolam ini terlihat di asingkan, tapi satu sisi bersyukur karena hanya ada orang-orang mereka yang menggunakannya seolah kolam pribadi. Meskipun kolam nya tidak sebesar di luar ruangan. Memang berenang selain membuat tubuh lebih rileks, pikiran pun ikut menjadi jernih sejernih air yang di kolam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN