Tidak Terduga

1065 Kata
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal tadi. Dia hanya sedang lelah saja dengan pekerjaannya, dan minggu depan dia harus mendatangi makan malam bersama keluarga besarnya. Kau tau dia benci di sana. Dan rencana ini seperti menstimulasinya untuk segera menghabisi si tua bangka itu.” Akira yang masih duduk di ujung kolam, menyandarkan tubuhnya, dan memejamkan matanya menyetujui pernyataan Mikail. Tapi ia merasa Arnesh terlalu berlebihan menyikapi persoalan rencana ini, seolah hanya dia yang menyimpan luka. Sesekali ia tidak menyukai Arnesh yang memiliki tekad setengah-setengah, padahal sebelumnya ia menyetujui menjalankan rencana ini tapi tiba-tiba merasa keberatan. Itu hal yang tidak Akira toleransi. “Walaupun dendam kita berbeda takaran, tidak ada yang tahu siapa yang lebih besar. Dan bukan itu masalahnya. Intinya kita harus tetap pada rencana.” Mikail menyudahi menyelamnya, ia merasa tubuhnya sudah limit karena sudah berada di kolam selama 30 menit. Ia berdiri meninggalkan Akira yang masih di sana yang baru masuk sepuluh menit lalu. “Aku sendiri yang akan memastikan orang itu tetap pada rencana kita. Menyelesaikan dendam kita.” Ucapnya saat ia berdiri membelakangi Akira dengan telanjang bulat, ia mengambil handuk kecil yang menggantung dan mengeringkan wajahnya lalu melilitkan di pinggangnya menutupi tubuh bawahnya. Dan menggunakan handuk lainnya mengeringkan badannya, Mikail mengenakan pakaian atas dan membiarkan tubuh bawahnya terlilit handuk. “Kamar bilas di sini tidak bisa di pakai, kau harus ke kamar mandi luar untuk membilas.” Ucapnya sambil menyeringai saat ia menyadari Akira tidak membawa handuk untuk mengeringkan badan. Akira tampak tidak begitu mendengarkan perkataan Mikail. Jika tidak ada handuk yang dapat digunakan, ia akan tetap mengenakan pakaiannya dengan basah, dan kembali ke kamarnya. Siapa yang peduli dengan sikapnya? Bahkan dirinya sendiri tidak peduli. kini satu-satunya yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana menyelesaikan ini dengan bersih. Ia tidak ingin kembali ke penjara. Akira mengingat masa lalu yang kelam itu, ingatan yang samar, saat ia berumur 15 tahun, bangun dari tidurnya dan mendapati ibunya berlumuran darah. Wajah terakhir yang dapat ia ingat adalah wajah lelaki yang menjadi presiden yang juga sekarang ayah dari Arnesh. Bahkan wajah ibunya menjadi samar dengan darah yang mendidih dalam tubuhnya. Ia sering tertidur ketika mengingat masa lalu itu, kini pun ia tertidur beberapa saat ketika mencoba mengingat masa lalu itu. Ia selalu merasa ketakutan, jika suatu hari nanti, sekali lagi ia harus melumuri tangannya dengan darah yang bukan miliknya. Akira terbangun dari tidurnya saat tengah duduk di tangga kecil di tepi kolam dengan setengah badan yang tenggelam, ia terbangun karena suara yang sedikit berisik. Suara perempuan di luar ruangan yang tidak tahu jika kolam ini sedang di isi seorang lelaki bertelanjang bulat. Ia segera keluar dari kolam dan ingin memakai pakaiannya, tapi sesuatu terjadi dengan kakinya, membuat ia terpeleset di ujung tangga dan harus mengulanginya untuk segera naik tanpa tangga karena kini ia jauh dari tangga kecil itu. Lelaki yang sedang bertelanjang dan memiliki tato di d**a dan pahanya segera mengangkat dirinya dari pinggiran kolam tanpa menggunakan tangga, saat itu juga gerombolan perempuan yang tadinya berisik diluar kini masuk dan sudah melewati lorong yang pendek. Akira yang hampir naik kini menampakan tubuhnya yang tak berbalut busana hingga sampai paha pada beberapa wanita yang masuk pertama kali. Lelaki itu hanya mematung saat tiga orang wanita pertama berteriak disusul dua lainnya yang juga baru sampai dan langsung berlari sambil berteriak. Terkejut dengan hal itu, ia segera menyelamkan tubuhnya lagi. Beberapa lelaki yang ikut dengan rombongan itu ikut masuk karena teriakan teman-temannya. “Apa Sih yang kalian teriakin, orang itu kan juga tamu yang berenang di sini-” ucapannya terputus saat ia menyadari semua pakaian Akira tergantung jauh dari kolam. Ia tertawa menyadari situasinya, dan mengajak semua wanita yang sedang mengenakan pakaian renang warna warni menonjolkan lekak lekuk tubuh mereka untuk keluar. “Ayo guys, beri waktu tamunya menyelesaikan urusannya.” Saat Akira menyadari semua orang telah keluar ia segera memakai pakaiannya tanpa menunggu setidaknya menunggu air dari tubuhnya turun. Membuat kaos putih yang ia pakai menjadi basah di tubuhnya, untungnya, hari ini ia mengenakan celana boxer tebal. Meski begitu ia tidak lega karena setidaknya ada tiga orang yang telah melihatnya dalam keadaan yang sangat memalukan. Setelah ini rasanya ia tidak akan sanggup menatap wanita, terlebih lagi wanita tadi juga pengunjung di sini. Jika nanti mereka bertemu lagi, ia tidak tahu harus bagaimana. Mungkin Akira hanya akan berdiam diri di kamar sampai esok ia checkout bersama dengan yang lainnya. Akira memilih keluar tanpa memperdulikan bisikan-bisikan dari gerombolan yang ingin masuk ke kolam yang di asingkan itu. Bukannya kata Mikail ini di asingkan, kenapa mereka berbondong-bondong ke sini? Apa seseorang telah mengelabui mereka? “Kok kolamnya seperti ga terawat gini ya?” “Iya nih, mana tadi yang mandi di sini juga sendirian. Apa janga-jangan tadi bukan orang beneran ya?” “Bicara apa kalian ini. Jadi kalian akan mandi di sini atau di luar?” tanya dari suara sang lelaki. Percakapan dari beberapa wanita yang samar ia pahami sampai terdengar keluar, membuat Akira jengkel. Mereka membuat dirinya terpaksa keluar lebih cepat dan harus mengalami hal yang memalukan. Dasar sialan. Ia bahkan belum menyelesaikan ingatan masa lalunya dari mimpinya. Setelah berganti pakaian, ia masuk kembali ke kamar Arnesh yang menjadi pusat perkumpulan dari mereka. Tapi semua orang termasuk Arnesh tak bergeming mendapati wajah Akira yang sangat kesal. Bahkan Ryan merasa gelisah ketika di sampingnya, mengingat tiga orang ini tadi sempat beradu pendapat. Lelaki yang paling kecil di antara mereka memilih mengambil jatah makanannya dan keluar dari perkumpulan orang-orang yang sedang tegang. “Kau akan makan sendiri?” tanya Mikail yang tidak di jawab sama sekali. “Kenapa kau memasang wajah menyeramkan begitu. Dia sampai ketakutan begitu,” celetuk Mikail lagi yang ditujukan kepada Akira yang kini menyantap makanan pesanan Jill dengan wajah setengah kesal. Makan setelah berenang adalah hal yang menyenangkan. Setengah kekesalannya larut bersama perut kosong yang mulai terisi. Mikail yang tidak mendapatkan respon ingin segera mengikuti Ryan. “Biarkan saja. Sebelum bertemu kau, dia orang yang bisa menjaga diri. Walaupun dia kecil, satu dua pukulan tidak akan membunuhnya.” Wajah Mikail berubah, ia tidak setuju dengan pernyataan Arnesh yang setelah beradu pendapat memilih kabur. Ia tetap pergi menuju Ryan dengan membawa beberapa jatah makanannya. Hah? Mereka berbicara tentang apa sih? Jill yang memang tidak peka di antara mereka bingung dengan situasi di depannya. Ia tidak tahu kenapa Mikail begitu khawatir dengan Ryan, atau dia memang khawatir dengan orang-orang yang sudah dibawa masuk ke kelompok yang disebut dengan ‘Family’.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN