Hazel Sesekali Memikirkan Pendidikan

1064 Kata
Mentari yang mulai menyingsing menyengati kulit mereka, Hazel menyadari dan mulai menuntun Sofia untuk ikut dengannya, ke tempat sarapan mereka. Dalam langkah tiap langkah mereka, Hazel banyak memikirkan sesuatu mengenai pilihan yang akan ia ambil – benarkah, atau malah akan menjadi jalanan yang berduri untuknya. Saat Hazel sedang termenung dengan serius, “Kau pasti berpikir keras tentang ini ya?” tanya Sofia memecah kesunyian. “Antara Ya dan Tidak,” ucapnya masih dengan wajah menatap langah tiap langkah yang mereka lalui. “Coba beri tahu aku, apa keraguan terbesarmu? Tentang ini.” Dalam hal ini Sofia ingin menenangkan Hazel dengan saling melempar pertanyaan. “Mungkin seperti, aku merasa sangat terlambat ataukah aku merasa aku bisa? Tapi aku penasaran kenapa orang repot-repot mengambil pendidikan lanjutan setelah 12 tahun bersekolah,” tanyanya penasaran dan kini wajah Sofia yang mulai serius dengan pertanyaan polos Hazel, ia mulai berhati-hati dalam menjawab hal ini – ini bukan berarti Hazel tidak dapat memahami hal-hal rumit – lebih ke Hazel dengan mudah memahami hal rumit dengan sendirinya, namun ia butuh alasan lain kenapa ia harus memahami hal itu. “Sebenarnya ada banyak alasan kenapa mereka melanjutkan pendidikan setelah wajib sekolah 12 tahun, alasan yang paling klasik adalah karena pendidikan itu penting jadi orang ingin melanjutkan pengetahuan mereka di bangku universitas yang mereka pilih. Ada juga yang ingin membangun jaringan dan relasi baru, mencoba hal baru, setiap orang akan menemukan dunia mereka masing-masing. Sejauh yang ku tahu sih seperti itu. Menurutmu kenapa kita harus terus belajar?” kini Sofia melayangkan pertanyaan kepada Hazel sebuah pertanyaan yang mungkin saja juga akan menjadi jawaban dari setiap keraguan yang muncul di hatinya. “Karena aku berhenti belajar di bangku pendidikan formal sejak lama. Jawabanku dari pengalaman kerja saja, itu karena kita perlu beradaptasi dengan zaman, jika terus belajar dalam memahami orang-orang baru yang datang dan menjadi pelanggan, maka orang itu akan senang dan bisa saja mereka akan datang lagi lain waktu atau malah datang membawa orang baru. Sama seperti memasak, sepertinya tidak cukup hanya mengetahui resep yang itu-itu saja.” Kini Hazel mengambil alih percakapan yang serius di antara mereka. Mereka bahkan tidak menyadari warung kecil yang akan jadi tempat mereka sarapan kali ini sudah sangat dekat, hanya butuh 7 langkah untuk sampai, bahkan beberapa aroma yang menggugah pun sudah dapat mereka rasakan sebelum tepat mereka sampai. “Mendengar jawabanmu, aku yang merasa kau jauh lebih tau dari aku, maksudku tentang mengapa orang harus melanjutkan pendidikan” Sofia meyakinkan Hazel agar ia tidak ragu akan pilihannya lagi. “Ya jadi sejak awal ini bukan tentang tempat di mana kau bisa belajar ya, tapi bagaimana kau bisa memanfaat fasilitas itu,” Hazel menambahkan kata demi kata yang keluar spontan dari mulutnya yang telah hatinya rundingkan dalam diam. “Ia kau benar. Di sini ya? Yang enak apa ya di sini?” Mereka telah berada di pintu masuk suatu warung kecil yang menyediakan beberapa makanan ringan dan berat untuk sarapan, sarapan khas lokal yang akan biasa di temui di pinggiran jalan. “Wah nak Hazel ya?” Sapa seorang ibu paruh baya yang juga pemilik dan pengurus warung kecil ini. “Iya…” Hazel menjawab sapaan itu dengan diikuti senyuman. “kau mengenal banyak orang ya? Bahkan dari lokasi pantai lain. Aku jadi tidak percaya kalau kau selama beberapa tahun ini hanya di situ-situ saja seperti ceritamu atau cerita paman.” Ucap Sofia sembari meledeknya. “Tidak juga, maksudku kau tidak sepenuhnya benar. Mereka bukan mengenal aku, tapi mengenal orang tuaku. Jika aku tidak terlahir dari keluarga ayah dan ibuku, mungkin tidak akan ada yang mengenaliku,” jawabnya yakin. Sofia merasa tidak enak setelah melempar pertanyaan tersebut, ia sedikit merasakan ada ketidaksukaan Hazel untuk menjadi pusat perhatian. Mungkin itu juga yang menjadi alasan dia sering berpura-pura ikut tertawa jika sedang dalam kelompok yang membuat lelucon klise – atau ketika sedang makan bersama dengan keluarga Nadya yang sempurna. Bagi orang yang tidak sempurna, akan sangat sulit membaur di kelompok kumpulan orang-orang yang sempurna, walaupun dunia memaksa mereka untuk menjadi setara. Hazel mengetahui tempat ini ketika ia masih sering berkunjung bersama ibu dan ayahnya, saat itu ketika mereka juga bagian dari salah satu keluarga yang sempurna. Ayah dan ibunya yang selalu bekerja keras namun mencobaselalu menyempatkan waktu menjemput Hazel pulang sekolah atau membawanya berlibur tiap hari Minggu atau hanya sebulan sekali. Meski itu yang terbaik yang bisa dilakukan oleh ayahnya, Hazel merasa tidak puas, ia merasa waktu yang ayahnya habiskan lebih banyak di resto ketimbang di rumah bersamanya – menjadi anak tunggal membuatnya sedikit tamak dalam menerima kasih sayang. Seorang pemilik yang telah mengantarkan makanan di meja mereka sedikit mengajak berbincang kepada Hazel, nampak dari raut dan respon Hazel menjadi canggung seketika, tidak ada yang dapat Sofia lakukan, seketika iapun hanya tertawa canggung merespon tiap bincangan dan candaan ibu pemilik kedai. “Maaf ya aku tidak banyak membantu,” bisik Sofia sebelum menyantap makanan di hadapannya . “Huh?” Hazel kebingungan maksud dari Sofia yang secara tiba-tiba, “Maksudku situasi canggung tadi.” Hazel hanya membulatkan bibirnya, ia merasa pertemanan mereka semakin cocok, teman di depannya sangat piawai dalam menyadari hal-hal detail. Yang membuatnya nyaman, ia tidak harus menjelaskan banyak hal nantinya. * Nadya yang menyadari Sofia sudah bangun lebih awal dari dirinya, membuatnya curiga – lebih tepatnya ia penasaran. Ia gelisah juga, kemana dan dengan siapa Sofia pergi. Ia mengirim banyak pesan ke ponsel Sofia, tapi tidak mendapatkan jawaban. Nadya yang tiba-tiba kepikiran Hazel, menebak seketika namun ia ragu, yang ia tahu mereka berdua sama-sama orang yang tertutup, “Apa bisa?” maksudnya apa bisa orang yang sama-sama sulit berteman jadi berteman satu sama lain, begitulah hati Nadya terus membuat kebisingan, “Atau malah bisa saja. Tapi kenapa mereka menyembunyikannya dariku, Sofia juga tidak mengabariku sama sekali. Membuatku khawatir saja!” ia terus menggerutu selagi ia juga membombardir Hazel dengan pesan-pesan pertanyaan. Meski ia tahu Hazel tidak akan menjawabnya atau malah tidak akan membacanya. Hazel yang sedari awal tidak suka memakai ponsel namun karena desakan Nadya, akhirnya ia pun membeli ponsel beberapa waktu lalu. Itu juga yang membuatnya belajar mengenalkan bisnis dive rentalnya ke khalayak umum dengan leluasa melalui sosial media. * Hari ini setelah akhir pekan biasanya pantai tidak akan seramai ketika hari libur, beberapa penduduk lokal juga melakukan pekerjaan lain. Dan dirinya tidak begitu khawatir jika datang lebih siang karena pengunjung restonya hanya penduduk lokal sekitar pantai atau pendatang yang sedang tidak memasak di rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN