Retakan yang Tidak Terlihat

1059 Kata
Pukul 8 lewat 10 menit Hazel mengantar Sofia agak jauh dari rumah Nadya. Sofia sedikit khawatir Nadya terlalu banyak menanyai Hazel atau malah dirinya. Saat Hazel ingin pergi Sofia menghentikannya, “Tunggu…” Sofia merogoh tas kecil yang ia kenakan, “Nih…” tanganya menggenggam sesuatu dan memberi kode kepada Hazel untuk membuka telapak tangannya, Sofia menjatuhkan satu permen rasa lemon jahe. “Huh?” Hazel merasa keheranan, tapi ia hanya mengantongi permen dalam saku jaketnya. “Terima kasih,” tanpa sengaja mereka mengatakannya bebarengan, Sofia yang tersenyum kecil, sedangkan Hazel tertawa dengan kejutan kecil itu. Hazel mulai menyalakan skuternya lagi dan lagi-lagi ia matikan saat Sofia mulai berjalan menjauh darinya, “Anu, Sof… ” Hazel sedikit malu dan ragu, ia menggaruk kepalanya, “Mengenai sekolah paket itu, tolong kabari kelanjutannya ya, dan... aku, boleh nanti aku tanya-tanya lagi?” Sofia yang berdiri di jarak dua meter dari Hazel hanya tersenyum dan mengangguk. “Hari ini bener-bener seru. Ga nyangka bisa kenal Hazel sejauh ini. Penilaian pertamaku, ketika waktu itu…” Sofia berjalan sembari sedikit melamun, ia mulai mengingat saat pertama kali melihat Hazel di tepi pantai, ia tampak tidak ramah, ia kadang memasang raut wajah dengan alis tegang. “Yah tapi meski begitu ternyata aslinya dia orang yang sangat baik. Walaupun dia bukan terpelajar, dia cepat memahami sesuatu. Yang lebih unik, ia memahami sesuatu dengan cara berbeda.” * Hari demi hari Pandji merasa sangat gelisah, ia sangat merindukan Hazel, ia ingin sekali lagi memeluknya. Seperti ketika mereka masih kecil. “Haruskah aku bolos hari ini…” Pandji terus saja menatap ponselnya setelah mendapatkan kabar dari teman sekelasnya bahwa hari ini beberapa kelas termasuk kelas pertamanya akan kosong, dan hanya menyisakan kelas terakhir di sore hari. Ia mengira-ngira berapa jam dibutuhkan untuk pulang dan pergi ke pantai tempat ia bertemu Hazel. “Jika di sana, aku rasa tidak cukup hanya satu dua jam.” Pandji mulai memasukan beberapa pakaian di tas kuliahnya, memastikan ia tidak meninggalkan jejak dan tidak diketahui ibunya, “sekali ini saja… sekali ini saja… aku akan membolos.” Pandji sedikit gelisah akan berbohong pada ibunya. Entah kenapa meski ia gelisah akan berbohong untuk pertama kalinya, ini membuat hatinya menggebu-gebu. Pandji menuruni anak tangga menuju parkiran rumahnya dengan sedikit gelisah dan segera memasuki mobil yang diberikan orang tuanya. Baru beberapa bulan lalu ia mendapatkan lisensi mengemudi, sejak saat itu ia diberikan fasilitas ayahnya, dan sering digunakan untuk mengikuti kegiatan kemping bersama komunitasnya. Meski begitu sebenarnya ia tidak benar-benar menikmati berkemah, entah kenapa ia hanya ingin merasakan kebebasan yang tidak pernah ia rasakan sejak 12 tahun terakhir. Sedangkan orang tua Pandji ialah orang yang sangat mementingkan pendidikan, bagi mereka pendidikan adalah no 1. Mengesampingkan pendidikan berarti tidak peduli pada masa depan. Membolos adalah hal tabu di keluarga Pandji. Dengan ia memilih membolos meski hanya sekali, membuat ia sedikit memutuskan hubungan yang harmonis antara dirinya dan kedua orang tuanya. * Nadya yang sedang menyiram bunga milik ibunya dengan sedikit termenung tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Sofia yang sedari tadi asik memainkan ponsel ketika berjalan. Ia bahkan tidak menyadari Nadya sedang tidak jauh darinya, ia baru sadar ketika namanya dipanggil ketika ia baru masuk beberapa langkah ke dalam rumah.”Iya…” Sofia mendongakan kepalanya keluar pintu dan mencari asal suara yang memanggilnya. “Oh hai Ka…” sapanya malu-malu, ia juga tidak ingin ditanya apa-apa, sebaliknya ia ingin mendiskusikan tentang Hazel yang mulai ingin melanjutkan pendidikan. “Pagi Sof… dari raut wajahmu, kau sepertinya sedang bahagia. Dan tidak ingin ditanya…” ia menebak dengan sangat akurat sembari meledek, “Hehe” Sofia hanya tertawa canggung. “Sudah sarapan?” tanyanya sembari masih asik menyirami bunga dari satu tempat ke tempat lainnya, “Sudah ka…” ia menjawab dengan sopan dan senyuman manis tidak pernah pudar dari mulutnya dan dibalas senyuman yang tak kalah manis oleh Nadya. Mereka berdua menuruni senyuman yang sangat manis, bedanya jika Sofia adalah sosok yang melankolis dan pemalu, sedangkan Nadya adalah sosok yang sangat ceria dan mudah menempel. * Hazel sedikit kelelahan, sudah lama ia tidak berkendara. Meski kadang ia ikut pamannya membeli persediaan resto di tempat yang agak jauh dari tempat tinggalnya, biasanya ia hanya akan tidur di dalam mobil. Meski Hazel memiliki lisensi mengemudi, ia tidak benar-benar sering mengemudi, ia hanya beberapa kali menggantikan pamannya ketika membeli persediaan di dekat kota, Hazel tidak pernah benar-benar mengemudi sendirian dengan mobil tua peninggalan ayahnya atau jika ditawari mobil lain. Mobil tua itu lebih sering berdiam di garasinya. Hazel memilih untuk mengantar sekuternya dulu sebelum ke resto, ia juga yakin restonya tidaklah terlalu ramai. Toh hari ini hari kerja, orang-orang sibuk di pekerjaan mereka. Meski ada beberapa turis yang sedang libur di Negara mereka dan sedang menginap di homestay sekitar pantai. Hazel memilih melewati pintu dapur, saat ia tidak jauh dari pintu ia memelankan langkahnya, ia mulai mendengar suara yang tidak terlalu kencang sedang menyebut namanya, telinganya yang sensitif menangkap kalimat yang membuatnya tertegun dan memilih mengulur waktu untuk masuk melewati pintu dapur, ia berdiri menyender di dinding kayu setengah tembok, “Biarkan saja, dia masih muda. Biar begitu dia sudah banyak membantu sejak ia kecil kan.” Hazel mendengarkan pamannya sedang berbincang dengan seseorang, meski Hazle tidak mendengar awal mula percakapan mereka, ia sadar betul apa yang mereka bincangkan, “aku juga tidak pernah merasa kerepotan jika bekerja sedikit padat untuk beberapa jam.” Sambung pamannya. Hazel menyadari keterlambatannya beberapa hari ini mengganggu tatanan pekerjaan di dapur, walaupun pamannya membelanya, ia tetap saja merepotkan orang lain. Entah kenapa rasanya yang tadinya ingin semangat melanjutkan sekolah paket seperti yang diceritakan Sofia, ia mulai ragu, ia merasa ini bukan waktu yang tepat. Restonya juga sedang berada di masa krisis, pemasukan menurun, bahkan ketika hari pekan. “Cih, dia itu hanya membelanya saja. Padahal gara-gara bocah itu, aku sering kali mengotori tanganku dengan cucian. Padahal gajiku saja tidak ditambah,” Hazel masih mendengarkan suara bibi kasir mengomel ketika paman sudah pergi dari dapur. Rasanya Hazel ingin sekali lari dari sana dan menuju ke arah laut. Menenggelamkan dirinya. Ia tidak marah pada siapapun kecuali dirinya. Ia sadar selama ini ia tidak banyak membantu, tapi ia tetap mendapatkan keuntungan yang sama dengan pamannya. Dan bahkan ia juga sering di ajak makan bersama keluarga Nadya, membuat keperluannya banyak berkurang karena beberapa hal sering ditanggung oleh keluarga paman. Ia merasa selama ini ia kurang bertanggung jawab terhadap celah-celah kecil di resto.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN