Seorang yang Tidak Ingin Ditemui

1087 Kata
Hazel melihat ponselnya, dua menit telah berlalu, percakapan yang ia dengar di balik tembok telah terhenti, pamannya sudah kembali masuk ke dapur, tapi entah mengapa kakinya kaku untuk melangkah masuk seolah ia tidak tahu apa-apa. Hazel kembali memasukan ponselnya kembali, dan mendapati permen lemon jahe yang diberikan Sofia, ia mengingat kembali semangat itu setelah memasukan permen itu ke mulutnya. Hazel melangkah menjauh dari tembok yang ia belakangi sepuluh langkah, lalu berlari kembali menuju pintu dapur resto dengan nafas tersenggal, “Pagi…” Hazel muncul di depan pintu namun tidak ada siapa-siapa di sana saat ia menyapa, “Yah setidaknya… pura-pura tidak tahu saja. Dasar sialan. Sejak kapan aku peduli.” Hal pertama yang Hazel pastikan adalah seberapa ramai pengunjung hari ini, untuk ia analisa kegiatan apa yang harus ia lakukan pertama kali. Memastikan hari ini hanya beberapa orang yang datang, hanya dua meja yang terpakai, salah satunya orang kenalan paman yang sedang duduk bersamanya. Setelah itu ia mencari sesuatu untuk ia bersihkan agar bibir kasir tidak ngomel lagi, tidak maksudnya ini memang tugasnya. Tapi Hazel tiba-tiba tersadar sesuatu, ia kembali lagi memeriksa siapa orang yang duduk bersama pamannya, dan seketika dirinya mematung di pintu penyekat antara ruang dapur dan ruang makan. “b******n TENGIK ITU KENAPA DI SINI?” Hazel kaget dan kakinya membeku di sana, ia ingin menghindari orang itu, tapi ia juga ingin menuju ke sana dan mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan – ia ingin tahu apa yang Paman dan Pandji sedang diskusikan di belakang dirinya. Saat dia berbalik untuk menghindar, dan juga ingin kembali ke pekerjaanya, pamannya mendapati punggung Hazel, dan memanggilnya, mau tidak mau dia harus menoleh, hatinya berkata begitu. Menghormati paman dan istrinya adalah prioritas bagi Hazel, mereka bagai orang tua kedua bagi Hazel, dan jika tidak menghormati mereka, entah apa yang akan terjadi nanti setelah bertemu kembali dengan Ayah dan ibunya. Tapi entah mengapa otaknya tidak sejalan dengan hatinya, kakinya terus berjalan menuju wastafel dan mulai membersihkan tiap peralatan yang tergeletak di sana. Kepalanya terus saja meneriaki telinga Hazel untuk berpura-pura tidak mendengar, sampai sebuah tangan menepuk punggungnya dari belakang, dan membuat dia terkejut, Hazel tidak mengatakan dan mendengar apa-apa, ia menoleh kebelakang. Pamannya terus saja mengoceh di depannya, Hazel tahu itu dari matanya yang terus melihat gerak bibir pamannya, ia mencoba memahami apa yang sebenarnya paman coba ucapkan dari gerak bibirnya, tapi tidak dengan tangannya. “Hazel!” sekali lagi tangan pamannya menepuk pundak Hazel, ia tersadar dari lamunannya. Ia memikirkan, dirinya yang tidak yakin dengan kedatangan Pandji secepat ini, ia tidak ingin bertemunya secepat ini, dan anehnya Pandji datang sendiri kali ini. “Untuk Apa?” lagi-agi Hazel termenung dan tidak mendengar penjelasan Paman di depannya. Lelaki paruh baya itu mulai merasa Hazel sedang tidak baik-baik saja, ia sejak tadi kehilangan konsentrasinya, saat pamannya ingin memeriksa suhu dahi Hazel, ia mendapati Hazel mengeluarkan darah di hidung kanan, “Kau tunggu di sini dan jangan di lap dengan tangan kosong,” ucap pamannya tapi dia masih dengan tatapan kosong dan termenung. Pamannya yang menyadari hal tersebut langsung mencari tisu wajah, namun di ruangan dapur hanya ada tisu pengesat, ia pikir ini akan lebih melukai hidung Hazel, jadi paman menanyai bibi kasir untuk membantu mencari tisu yang lebih lembut. Namun gadis muda itu belum menyadarinya sampai dia merasa mengganjal di hidungnya, dan saat ia mulai menyeka apa yang ada di bawah hidungnya, ia melihat darah di tangannya, dengan bau sedikit anyir, ia mencari-cari luka di tangannya. Ia menyadari bukan tangannya, tapi sepertinya wajahnya. Hazel keluar dari dapur dan hidung dan sekitar mulutnya penuh bekas darah dan juga tangannya, “Paman…” panggilnya lirih, ia sedikit kaget dengan apa yang ia lihat di tangannya. Hazel lupa akan adanya Pandji di sana. Saat ia memanggil pamannya, lelaki paruh baya itu sedang mencari-cari sesuatu di meja kasir. Dan mata mereka bertemu, Pandji yang melihat Hazel mematung dan sedang menutupi hidungnya, ia menyadari sekitar tangan dan mulutnya bercak darah. Lelaki muda itu menghampiri Hazel dengan membawa tisu basah dan tisu wajah, “Kau tidak apa-apa?” tanyanya tidak ada raut wajah khawatir dan malah senang tersimpul di wajahnya yang bersih dan bersinar. “Kenapa kau di sini?” Hazel mulai sadar dirinya sedari tadi memikirkan bagaimana caranya agar menghindari pertemuan mereka. “Sudah ini bersihkan dulu yang di wajah dan tanganmu,” Hazel masih berdiam diri, “Oh kau punya tisu nya ya, nak Pandji” sahut lelaki paruh baya segera menuju ke mereka. “Haduh Hazel, paman kan sudah bilang untuk gak di lap pake tangan, kau tadi membersihkan dapur, kau ini,” omel pamannya yang khawatir melihat bercak darah di setengah wajah Hazel dan tangan kanannya. Ia segera menarik beberapa helai tisu basah dan memberikan di tangan kiri Hazel agar segera menyeka wajahnya sebelum itu mongering, ia juga memberikan beberapa sobekan kecil tisu wajah untuk menutup kedua hidung Hazel beberapa waktu sampai darah berhenti. Paman mengajak Hazel dan Pandji duduk di meja pandji berada, “Kau duduk dulu di sini Hazel, bicara sama temanku, ini temanmu kan?" tanya pamannya, Hazel spontan mengangguk. Pamannya meninggalkan mereka berdua, untuk beberapa saat kemudian bibi kasir datang dengan jalan santai dari arah luar dan menatap sini Hazel. “Haduh kau lama sekali membeli tisunya!” teriak pamannya dari jauh, “Ya sudah tidak apa, biar jadi stok saja, kalau-kalau nanti ada kejadian begini lagi.” Omelan paman hanya dibalas dengan tatapan sinis bibi kasir dari belakang, pamannya masuk ke ruangan dapur lagi, “Aku harus mempertimbangkan beberapa kotak pk3 di sini… sepertinya,” ucap pamannya dari jauh yang mulai terdengar samar di telinga Hazel. Hazel mendapati bekas piring yang kosong di meja Pandji. Pandji yang sudah duduk duluan menangkap tangan Hazel yang ingin mengambil piring kosong, “Pamanmu tadi menyuruhmu untuk duduk dulu, kau masih belum bisa berkonsentrasi ya?” Pandji ikut berdiri dan menari tangan yang ia pegang untuk menyuruhnya duduk di kursi depan dirinya, ia membukuk dan mendekatkan wajahnya di dekat wajah Hazel, menatap matanya, “Apa seburuk itu bisiknya?” Hazel menghindari wajah Pandji dan bergeser dari duduknya. “Duduk dan bicaralah!” tegas Hazel, ia sedikit kesal di dekati. Pandji hanya mengabaikan bentakan kecil Hazel, ia memang akan duduk meski tidak diminta. Tapi hatinya senang Hazel meminta padanya. “Apa kau tidak apa-apa Hazy?” Hazel bertambah dongko, “Jangan panggil aku begitu!” tegasnya sekali lagi, “Kau kenapa kesini?” tanyanya sambil melihat sekeliling, dan tidak sengaja mata Hazel bertemu dengan bibi kasir yang menatapnya sinis dan ia pun membalas dengan tatapan enggan – untuk dua orang di depan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN