Seberapa enggan ia menatap lelaki di depannya, Pandji hanya membalas dengan senyuman. Ia tidak mengira Hazel kecil tumbuh besar dengan sangat manis. Bertahun-tahun dia merindukannya, akhirnya ia kini duduk di depan matanya, ia ingin menggandeng tangannya lagi seperti dulu. “Hazy…” panggilnya sekali lagi, ia tidak peduli dengan tatapan marah Hazel kepadanya, “Aku kesini tentu saja untuk melihat mu, pesanku yang di netbook tidak dibalas, aku juga tidak punya nomormu,” Jelasnya sambil mendekatkan ponselnya ke arah Hazel.
Hazel hanya melirik beberapa saat ponsel di atas meja yang disodorkan ke arahnya, dan menatap kembali wajah lelaki itu, melihat betapa serius orang di depannya datang jauh-jauh hanya untuk meminta nomor telepon, “Untuk apa dulu? Memang apa bedanya punya nomorku atau tidak?” tanyanya dengan tatapan malas dan satu tangan menopang wajahnya. “Kenapa dia sangat terobsesi dengan masa lalu…”
“Aku hanya ingin kembali berhubungan baik dengan mu.” Ia tersenyum, “Dan Hazy, aku tidak memaksa kalau kau tidak ingin memberikannya, tapi setidaknya balaslah pesanku, aku punya banyak pertanyaan. Obrolan kita tidak akan membosankan kok, aku jamin itu!” tegasnya berharap orang di depannya percaya. “Bukankah, kau juga punya banyak pertanyaan?” pancingnya sekali lagi. Dan ya pancingan itu mengenai Hazel, ia yang awalnya tidak tertarik raut wajahnya sedikit melunak. Ia mengambil ponsel yg di sodorkan kepadanya dan menulis nomornya, “Aku jarang menggunakan ponsel, jadi jangan kecewa jika aku lama membalasnya.”
Hazel mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya dan melepas tisu di hidungnya yang mulai membuat ia tidak nyaman, “tunggu sebentar, biar aku bereskan dahulu” Hazel mengambil dan menumpuk piring kosong di meja Pandji dan membawanya ke ruang dapur. Hazel sangat sadar sedari tadi bibi memperhatikannya diam-diam, jadi ia merasa tidak enak jika datang-datang hanya harus duduk dan bercengkrama. Sebelum ia kembali ke tugasnya, Hazel mengantarkan air mineral dan segelas kopi di meja Pandji atas desakan pamannya, “Ini dari paman, aku harus kembali bekerja. Dan kalau kau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, kau bisa pulang.” Hazel berlalu dengan dingin tanpa menoleh atau memberikan senyuman.
“Hazy!” Panggilnya sedikit berteriak, Hazel yang tidak nyaman dengan panggilan itu di muka umum mendatangi kembali Pandji, ia mencengkram pundaknya dan sedikit membungkuk, “Aku terlalu lelah untuk menyuruhmu berhenti memanggilku begitu, setidaknya, aku mohon jangan panggil nama itu di publik.” Tegas Hazel kesal, ia mengeraskan rahangnya, ia selalu malu jika nama itu disatukan kepadanya – kecuali jika itu ibunya dan jika itu ketika ia masih kecil. “Ya oke, tapi bisa kita mengobrol lagi? Ketika jam istirahat,” Pandji memegang tangan Hazel yang berada di atas pundaknya, tetapi tidak lama Hazel menarik tangannya, “Ya ya, terserah saja,” balasnya dingin dan kembali ke ruang dapur dengan nampan yang ia himpit di tangan kirinya. “Paling juga sebentar lagi dia bosan dan pulang. Dasar. Bikin sakit kepala saja.”
Hazel mengikat rambutnya yang sebahu dengan seutas gelang yang melingkar di pergelangan tangannya, sebelum ia akan membersihkan piring bekas pelanggan. Paman yang duduk di konter kasir dan membaca koran sempat menanyai keadaan Hazel, tapi gadis itu menolak untuk di bantu, “Aku cuma sedikit leah dan lagi banyak yang dipikirkan saja… tapi apa ya? Ini sedikit mengganjal” ia sambil termenung dan mencuci satu persatu peralatan makan dengan hati-hati, “Sepertinya sejak aku membereskan kamar ayah ibu setelah sekian lama. Ini yang bikin ganjel, sejak saat itu aku jadi ingat sedikit demi sedikit perkataan ibu mengenai aku yang harus belajar dengan rajin dan baik.”
Hazel yang telah menyelesaikan cuciannya, mengeringkan peralatan itu dan tangannya. Ia menyadari tenggorokannya juga sangat haus dan kering, ia ingat dirinya sering lupa minum air putih atau malah menunda-nunda untuk minum. Kepalanya sering pusing, pikirannya camur aduk, sesekali ia memikirkan bagaimana harus memulai untuk persiapan sekolah paket yang ia dan Sofia rencanakan, atau bagaimana ia menjelaskan pada Pamannya, atau haruskah ia mulai menceritakannya dahulu kepada Bibinya atau kepada Nadya. Banyak pertanyaan di dalam kepalanya, membuat ia sangat stress akhir-akhir ini.
“Apa lagi yang bisa aku kerjakan ya?” ia mencari-cari dan melihat sekeliling, sesuatu yang bisa ia kerjakan. Hazel memakai sarung tangan karet, ia melihat satu persatu toilet pengunjung dan membersihkannya, aktivitas Hazel yang sedari tadi mondar-mandir ditatap sinis oleh bibi kasir. Entah apa yang ada di pikirannya, ia tidak pernah menyukai Hazel bahkan sejak dahulu, ia selalu berfikir Hazel tidak berkompeten untuk berada di dapur atau menjadi asisten koki. Walaupun ia terlahir dengan bakat yang sama dengan ayahnya, bibi kasir selalu menatapnya seolah ia tidak pantas dengan bakat itu.
Paman yang selesai membaca koran dan mendapati Hazel yang menyibukan diri di saat resto sedang sepi menyuruhnya untuk duduk dan beristirahat, apalagi setelah ia mimisan. Pamannya tidak terlalu terkejut, sebab ia pernah mendapati Hazel kecil beberapa kali mimisan ketika pulang sekolah atau pulang bermain. Meski ia tidak tahu bahwa Hazel masih mengalaminya beberapa kali di umur dewasa, hanya saja itu terjadi ketika ia di rumah. Hazel hanya mengangguk kepada paman, ia tidak sekalipun mengalihkan matanya ke arah bibi kasir, sebab ia tahu bibi kasir meliriknya dengan penuh ketidaksukaan.
“Tidak masalah. Selagi dia tidak membuat masalah di resto, tidak masalah jika itu aku.” Ia meyakinkan dirinya semuanya akan baik-baik saja. Ia memilih untuk beristirahat di kursi dapur dengan masih mengenakan apron, “Jika saja tidak ada dia. Aku pengen nonton tv,” Hazel melipat tangannya sebagai bantal darurat untuk wajahnya. Ia membenamkan wajahnya sementara mendengar suara iklan tv dari ruang makan. Ia merasa bosan, biasanya ia tidak sebosan ini, ia juga untuk pertama kalinya merasa menyesal tidak membawa ponselnya. Saat perlahan kesadarannya mulai buram, pamannya menepuk pundak Hazel pelan, agar tidak mengagetkan dirinya, “iya?” Hazel mendongak dengan mata sedikit tertutup.
Untuk pertama kalinya sejak ia bekerja penuh, ia tidur di sela jam kerja. “Maaf paman, aku ketiduran?” saat mendapati pamannya membangunkannya. “Hazel gapapa kan? Apa lagi panas?” tanya paman kepada Hazel. “Gak kok paman, aku cuma merasa… sedikit… bosan terus ketiduran,” ia sedikit malu mengatakan itu dengan jujur. “kalau kau merasa bosan, kenapa ga lanjut ngobrol dengan temanmu itu? Dia masih di sana dari tadi. Mumpung resto sepi, ini masih jam 10, paling nanti jam 12 sampai jam 1 bakal sedikit ramai.” Ucap pamannya yang sebenarnya tidak ingin ia dengar, lebih tepatnya yang ingin ia hindari.