Pada akhirnya Hazel berakhir mengikuti kemauan takdir yang mempertemukan mereka – sekali lagi. “Kalau begitu aku izin keluar sebentar paman. Paling lama satu jam saja,” Hazel mempertegas perkataannya tepat di depan bibi kasir tanpa melirik ke arahnya. Ia mengajak Pandji keluar dari restonya, untuk duduk di pondok kayu yang berjarak 3 menit dari restonya, pondok yang langsung mengarah ke arah laut.
“Bicara di sini saja. Kau jauh-jauh datang ke sini, pasti ada yang ingin dibicarakan kan?” Hazel sedikit ragu dengan apa yang baru saja ia utarakan, ia duduk tepat di samping Pandji dan menyilangkan tangan menatap ke laut. Keadaan pantai yang sepi membuat Hazel merasa bisa percaya dan tenang untuk berbicara dengan lelaki ini. “Sebenarnya memang hanya untuk melihatmu. Ini kali kedua kan aku bisa melihatmu setelah sekian lama…” balasnya dengan lembut, tatapannya juga tidak ia lepas dari laut. Ia merasakan semilir angin di antara mereka membuat nyaman.
Selama beberapa menit hanya ada kebisuan di antara mereka, membuat Hazel merasa tidak nyaman, ia ingin menyudahi ini tapi membuat ia merasa lebih tidak nyaman. Tiba-tiba saat Hazel masih memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya, ia merasakan bahunya terasa berat. Pandji tiba-tiba menyenderkan kepalanya di bahu kanan Hazel, membuat ia bingung harus bereaksi bagaimana, “Kau kenapa sih? Mabuk perjalanan?” Hanya pertanyaan yang spontan itu yang bisa keluar dari mulutnya. “kalau aku jawab iya?” tanyanya tanpa ragu, Hazel hanya berdiam dan menarik nafas panjang., “Jangan lama-lama. Kepalamu berat!” Tegasnya tanpa basa-basi. Dan lagi-lagi hanya diam menyelimuti mereka berdua untuk beberapa menit.
“Hazy…” suara lirih itu mengagetkan Hazel yang sedang memejamkan mata, tetapi ia memilih tidak menjawab. “Kau tertidur ya?” suara lembut itu berbisik di telinganya, ia menyadari dirinya yang kini bersandar di bahu Pandji, “Maaf kalau aku membangunkanmu, tapi kupikir kau sudah bangun makanya aku memanggilmu.” ia mulai tersadar dan sedikit mengambil jarak dari lelaki itu.
“Sial! Bisa-bisanya aku ikut tertidur beneran,” Hazel yang mulai tersadar sepenuhnya sedikit mengambil jarak dari Pandji. “Sorry,” jawabnya dingin. “Kalau sudah sudah tidak ada yang ingin kau bicarakan, aku mau kembali ke resto.” Hazel bahkan tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur, dan ia enggan menanyakan waktu pada Pandji, ia merasa jika semakin dekat mereka, maka orang ini akan terus sibuk mengikutinya tak henti-henti.
Saat ia ingin pergi meninggalkan pondok, tangannya ditahan oleh Pandji, “Tunggu, Hazy…”
“Sekarang makin banyak saja yang memanggilku begitu, aku kesal sih, tapi terserahlah. Aku terlalu lelah untuk melarang.” Hazel mengucapkan dengan nada tidak peduli. Ia menoleh ke arah Pandji, kali ini Hazel tidak sengaja menatap mata lelaki itu, terlihat di sana mata yang memelas yang tidak ingin ditinggalkan. “Apa ini. Kenapa dia menatapku begitu,” entah kenapa sikap Hazel berubah setelah menatap mata Pandji yang menahan dirinya. Hatinya ikut berubah untuk tetap tinggal beberapa menit lagi. Ia sekali lagi menari nafas panjang dan melepas tangan Pandji di lengannya.
“Jam berapa ini?” Hazel yang telah memuat suasana dingin, ia juga yang mencairkkannya. “Oh ini… 10.40,” jawabnya sedikit gugup. Lelaki itu merasa gugup setelah wanita yang ia pujai menatap matanya setelah sekian lama dan itu membuat hatinya berdegub dengan kencang.
“Apa aku tadi tertidur sekitar 30 menit?” Tanyanya lagi, kini ia menyadari kepalanya sedikit pusing. Dua hari pekan ia habiskan di resto yang ramai tanpa berhenti. Sudah beberapa tahun restonya buka tanpa libur. Terakhir kali libur ialah saat pertunangan Nadya dan Hendra. Membuka bisnis di tempat pariwisata, tanggal merah adalah hari kerja padat bagi mereka. Saat sepi di hari kerja akan menjadi hari santai bagi mereka, meski begitu ada jam-jam tertentu yang akan membuat mereka sedikit kewalahan, jam istirahat tengah hari. Lokasi resto yang tidak jauh dari pintu masuk pantai membuat resto ini juga dapat di jangkau oleh pekerja dari PT yang telah berganti shift.
“Kau sedang tidak sehat ya?” Pandji melontarkan pertanyaan dengan nada khawatir, ia membungkukan bahunya dan melihat wajah Hazel dari bawah, “Kenapa kau tadi bisa sampai mimisan?” tanya sekali lagi. Hazel yang masih dengan tangan dilipat di d**a melihat wajah Pandi yang menatapnya, ia membuang muka, “Baik-baik aja sih, cuma lelah sedikit. Maka dari itu, jangan buat aku kesal aku sedang capek!” jelasnya kesal dengan tatapan lelaki di depannya.
“Kalau begitu kenapa tidak pulang saja? Apa mau aku antar?” Lemparan pertanyaan polos Pandji benar-benar membuat Hazel kesal, ia tidak mengerti apakah lawan bicaranya ini paham kondisinya atau tidak. Hazel kini penampakan dengan jelas tatapan kesal tanpa menjawab pertanyaan Pandji. “Apa karena tidak enak sama pamanmu ya?” Pandji menebak dengan tepat, “Itu kau tau sial! Lagi pula kenapa dia ingin tau sekali si!” Hazel hanya bisa menggerutu dalam hati, ia terlalu banyak membentak lelaki ini sehingga membuat hatinya sedikit tidak enak.
Pandji mulai diam saat melihat Hazel hanya menunduk setelah ia menebak alasan Hazel tidak bisa pulang meski kondisinya tidak baik-baik saja. “Seingatku dulu ayahmu yang menjalankan resto kan? Apa ayahmu baik-baik saja? Aku sudah lama tidak bertemu, hari itu juga.” Tiba-tiba perasaan jengkel Hazel berubah menjadi marah, ia tidak tahu harus menjawab apa. Hazel mengepalkan tangannya erat-erat di dadanya, ia juga mengeraskan rahangnya, ia ingin membentak Pandji untuk diam. Tapi ia sadar, ini bukan salah Pandji, ia sadar kenapa ia harus marah pada seseorang yang peduli padanya, yang sudah menanyai dirinya dan kedua orang tuanya. “Aku harus menjawab apa…”
“Hei…” Pandji terpaku saat melihat raut wajah Hazel berubah ketika ia menunduk dan bukannya menjawab pertanyaan dirinya. Melihat hal itu, ia langsung memegang bahu Hazel dan menarik ke pelukannya, ia menekan lembut kepala Hazel di bahunya. Pandji merasakan tangan Hazel yang meremas pakaian di lengannya. “Aku minta maaf jika banyak bicara. Aku akan berhenti bicara dan menunggu kau menceritakan semua nya…” Ucapnya yang ingin menenangkan Hazel yang sekarang bersandar lemas di bahunya. Hazel pun melepas tangannya dari pakaian Pandji dan membiarkan pelukan hangat itu menyelimuti hatinya yang sedih.