Kilas Balik Paman

1016 Kata
Pandji membiarkan Hazel tertunduk lesu di pelukannya selama beberapa menit, ia tidak merasakan bahunya melembab, “Apa ia menangis? atau malah tertidur lagi seperti tadi…” Pandji bingung bagaimana harus membuat Hazel berbicara di saat canggung seperti ini. Pada akhirnya ia membiarkan Hazel lebih lama berdiam di pelukannya yang melonggar. Ia sagat ingin memeluknya dengan erat, tpi ia tidak ingin wanita yang sangat ia sukai akan berubah atau malah akan menjahui dirinya. Ia mulai merasa semuanya harus dilakukan dengan perlahan, “Tidak perlu tergesa-gesa, kau bisa menceritakannya kapan saja,” Pandji tersenyum lembut, tangan kanannya terus mengelus bahu kiri Hazel. * Nadya yang baru saja menerima telepon dari pamannya merasa gelisah, ia ingin segera menemui Hazel dan membujuknya untuk pulang dan beristirahat. Nadya buru-buru keluar rumah, membuat Sofia yang sedari tadi asik dengan laptopnya menyadari keanehan kakak sepupunya, “Kak, mau kemana?” tanyanya buru-buru setelah meninggalkan laptopnya yang masih menyala dengan pencariannya. “Ah, Sof, ini aku baru dapat kabar, katanya Hazel habis mimisan. Katanya sih tidak apa-apa. Tapi lebih baik aku bujuk dia untuk pulang dan istirahat.” Jelasnya kepada Sofia saat ia sudah beberapa meter dari pintu keluar. Sofia yang baru saja menghabiskan waktu paginya bersama Hazel merasa khawatir, “Tadi ia baik-baik saja. Ah tidak. Tadi dia sempat muntah,” pikirnya. “Sof, aku buru-buru nih. Dia itu tipe yang mengiyakan perkataan orang lain, tapi belum tentu dilakuin.” Nadya melambaikan tangan dan berjalan buru-buru. Sofia hanya tertegun dan hanya melambaikan tangan membalas lambaian Nadya. “Apa aku ikut melihatnya, ya… tapi apa Hazel baik-baik saja. Dia mungkin punya alasan sendiri dengan ga mau pulang,” Sofia yang masih mengkhawatirkan Hazel kembali ke tempat duduknya dan mencoba kembali fokus pada pekerjaannya yang sempat ia tinggal sebentar. Sofia yang sejak pulang dari pantai tadi, ia mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang Kejar Paket B dan C, informasi yang bisa ia berikan kepada Hazel. Ia mulai masuk ke dalam lamunannya sendiri, “Pasti berat ya, bekerja di restoran, mengurus diri sendiri, dan sekarang Hazel memikirkan tentang melanjutkan sekolah,” Sofia mulai prihatin kepada Hazel, tapi ia juga merasa senang dengan semangatnya yang tak memudar meski kegiatannya sangat padat. Tiba-tiba Sofia merasa ia harus berhenti dengan laptopnya sekarang, “Bukannya yang lebih penting sekarang kesehatan Hazel. Ini kesempatan terakhirku kan, kalau aku bisa menceritakan ini kepada Ka Nadya, dia pasti juga bakal setuju dan mendukungnya. Dan akhirnya harus ada yang menasehati Hazel tentang memprioritaskan sesuatu.” Sofia mempertegas hatinya untuk mengejar Nadya. Ia mematikan laptop dan membawa ponselnya mengejar Nadya. Sofia berlari kecil, terlihat punggung Nadya yang semakin menjauh. “Kak…kakak!” teriak Sofia yang membuyarkan lamunan Nadya yang sedari tadi melihat ponselnya. Nadya sedari tadi membaca artikel mengenai kemungkinan penyakit yang dialami penderita mimisan. Ia sangat Khawatir kepada Hazel, ia mengingat Hazel sering mimisan ketika kecil, ia mengira penyakit semasa kecilnya kambuh lagi dan akan membahayakan dirinya. Nadya yang menyadari suara teriakan Sofia memberhentikan langkahnya, “Ada apa Sof?” tanyanya saat Sofia sudah di dekatnya, ia melihat Sofia mulai mengatur nafas. Sofia terlihat sangat kelelahan seperti habis berlari sangat jauh, padahal dirinya hanya berlari kecil dengan jaran belasan meter. “Ah maaf ka, aku tadinya kurang ngeh kalau yang kakak maksud Hazel habisi mimisan. Aku jadi khawatir.” Ucapnya setelah nafasnya kembali normal, “Dan juga, sepertinya kita harus mendiskusikan ini bersama…” Kalimat terakhir membuat Nadya sedikit bingung dan ia penasaran, “Maksudmu membujuk Hazel bersama?” tanya Nadya yang masih dengan ponsel di depan wajahnya. Mereka kembali berjalan menuju restonya, butuh sekitar 7 menit lagi untuk sampai di sana dengan kecepatan sedang. * “Lagi-lagi membiarkan Hazel pergi di jam kerja,” ucapnya pelan saat paman baru saja melewati meja kasir sembari membawa piring kotor yang baru saja ditinggalkan pelanggan. Sejak Hazel pergi keluar 40 menit lalu, ada beberapa pelanggan sekitar yang mampir ke resto. Ada yang datang sebagai pelanggan, atau sekedar berbincang dengan si Paman. Paman yang mendengar hal itu, tidak ingin memperburuk hubungan dirinya dan bibi kasir, walau ia punya wewenang penuh untuk memberhentikannya, ia juga harus mempertimbangkannya lagi. Meski punya wewenang penuh, sudah seharusnya menjadi bijaksana dalam mengambil keputusan. Paman mengerti ketidaksukaan bibi kasir, itu pernah terjadi saat pertama kali bibi kasir mengganti kasir sebelumya, ia merasa Hazel masih terlalu muda untuk bekerja di dapur, apalagi beberapa kali Hazel sendiri yang langsung turun tangan memasak. “Aku mengerti kekhawatirannya, ia masih belum percaya Hazel bisa. Padahal ia tidak tahu sudah hampir 6 tahun Hazel bekerja di sini. Dia sudah banyak berubah sejak pertama kali memutuskan membantu,” Paman mengingat-ingat pertama kali Hazel membantu. Saat itu ia masih remaja awal, sejak sepeninggal mendiang kedua orang tuanya, ia menjadi tertutup. Kami semua khawatir padanya, kami ingin mengadopsinya dan menjadikannya adik Nadya secara hukum. Tapi ia menolak. Bahkan saat itu nenek sangat marah, tapi Hazel memilih mendiamkan kami semua selama seminggu, membuat Ibu Nadya sangat khawatir, ia memilih menginap di rumah Hazel selama satu malam. Esok harinya Hazel meminta maaf pada kami semua, di depan nenek juga. Sejak saat itu, ia masih menjadi anak yang tertutup tetapi ia lebih baik, ia menurut dan mengiyakan semua yang dikatakan orang tua Nadya. Tapi sejak saat itu juga, rasanya Hazel seperti semakin menjauh dari hubungan keluarga yang coba di bangun Paman. Hazel ingin tinggal sendiri, ia menolak Ibu Nadya untuk tinggal sesekali menemaninya atau sebaliknya menerima ajakan untuk tinggal bersama mereka. Tapi hubungan Hazel dan Nadya menjadi lebih baik, “Setidaknya itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Memang umur segitu lebih percaya dengan sebayanya kan…” Paman yang sedang mencuci peralatan makan tersenyum sambil mengingat-ingat masa lalu bagaiamana lucunya Nadya kecil dan Hazel kecil sering bermain di sekitar restoran bersama, lalu Nadya akan menangis karena kalah terhadap keegoisan Hazel kecil. “Aku tidak bisa memaksa Hazel melapor semua masalah dirinya, tapi setidaknya Nadya bisa menjadi kakak yang baik yang bisa ia percaya menjadi telinganya.” Paman kembali mengingat semangat miliknya dan semangat milik Ayah Hazel ketika mereka masih satu dapur dalam bekerja. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia ingin menjaga Hazel, anak temannya sebagai pembalasan atas jasa temannya selama ini dan bahkan sampai saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN