Meskipun paman berhasil menjaga Hazel dengan baik jauh di lubuk hatinya ia memendam sedikit rasa bersalah saat Hazel memutuskan berhenti bersekolah, tapi ia juga tidak bisa memaksa anak kecil yang sedang kehilangan arah. Satu-satunya yang bisa ia lakukan saat itu hanya percaya padanya. Ia mengingat bagaimana saat itu yang selalu Hazel lakukan hanya bermain bersama seorang pemuda lokal yang membuka dive rental tidak jauh dari rumah Hazel.
Alasan itu juga yang membuat Hazel sering bermain di laut, namun entah bagaimana ia menjadi berhenti pergi ke laut sendiri saat pemuda itu menutup tokonya, dan Hazel mulai memutuskan ingin membantu di restoran. Hari itu membuat paman senang, hubungannya dengan ia dan istrinya berangsur menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Tapi entah mengapa ia masih melihat ada yang kurang dari hubungan mereka. Yang tidak bisa ia nilai dengan matanya.
*
Sofia yang mendengar perkataan Nadya, hanya mengangguk, ia setuju tapi juga tidak sepenuhnya menyetujui. Ia juga ingin menjelaskan sesuatu kepada Nadya sebelum terlambat, “Kak.. menurutmu, apa yang akan terjadi kalau Hazel memutuskan untuk melanjutkan sekolah?” tanyanya dengan ragu-ragu apakah ia boleh menjelaskan ini kepada orang lain tanpa persetujuan Hazel, “Tapi kupikir jika aku Nadya atau keluarga Nadya tahu tentang keinginan Hazel akan lebih mudah bagi dirinya melepas belenggu yang selama ini dia rasakan. Sendirian.”
“HAH? Kau ini bicara apa?” Nayda sedikit terkejut dan menaikan nada bicaranya, “Ah maaf Sof, aku tidak bermaksud membentakmu tapi… lebih baik nggak membicarakan tentang sekolah di depan Hazel.” Tambah Nadya yang masih sambil menggeser layar ponselnya. Nadya sedikit termenung, ia menambahkan, “Itu bagus… tapi Kau tidak tahu, Hazel itu… ketika kecewa ia hanya akan mendiamkan semuannya. Terakhir kali aku membujuknya untuk melanjutkan sekolahnya, berakhir ia hanya diam saja.” Ia terdiam sekali lagi, “Kau tidak tahu kan, alasan dia berhenti, dan insiden itu. Karena yang kau dengar mungkin hanya tentang masa lalu mendiang ibu dan ayahnya saja.” Nadya mencoba menjelaskan kepada Sofia dengan hati-hati terkait masa lalu Hazel juga perasaan Sofia yang melankolis. “Yah… mungkin cukup sampai dijelaskan disitu saja. Semoga Sofia ga tersinggung dengan aku bilang begitu…”
“Tapi bisa saja orang berubah kan…” Nadya dan Sofia memikirkan hal yang sama di hati mereka. Nadya mungkin sangat ingin membicarakan ini lagi kepada Hazel. Tapi di umurnya yang sekarang, “Bukannya sudah sangat terlambat ya? Jika umur jadi alasan, malah ini bisa jadi alasan yang kuat untuk Hazel menolak,” Pikir Nadya.
“Tidak… Kak. Saat itu dia semangat menceritakan keinginannya.” Sofia mengingat saat mereka berdua bercerita di pantai, “Bagaimana ini… aku mungkin tidak punya kesempatan sampai 3 jam lagi. Kalau ini hanya jadi rahasia antara kami, maka rencana ini hanya akan ada di hatinya selamanya jika yang dikatakan Ka Nadya itu benar.” Sofia hanya terdiam dan sunyi menyelimuti di antara mereka, Nadya tidak enak hati dengan situasi ini.
“Tapi Sof…” Nadya mencoba memecah kecanggungan di antara mereka.
“Anu Kak, maaf memotong, tapi… gimana kalau di coba bujuk lagi bisa saja dia sudah berubah. Aku memang tidak lama mengenal dirinya. Tapi-” Sofia mulai diam, ia merasa dirinya melewati batas dari seharusnya yang ia perlu katakana.
“Ya?” Nadya bertanya kelanjutan dari penjelasan Sofia. “Em.. Tidak ada salahnya jika kita mencoba membahas ini lagi di saat sekarang dia sudah sangat dewasa untuk memutuskan sesuatu. Ini bukan berati jika Hazel tidak melanjutkan sekolah, ia tidak memiliki masa depan. Tapi lebih ke mungkin saja sebenarnya ia mengikat dirinya sendiri tanpa sepengetahuan siapapun.” Sofia menjelaskan dengan seksama, ia tidak sadar ia telah mengucapkan kata-kata serius yang membuat ia sedikit takut jika Nadya merasa digurui olehnya
“Ya aku tidak sepenuhnya tidak setuju dengan mu kok Sof, jadi kau tidak perlu takut begitu.” Tungkasnya setelah melihat raut wajah gugup Sofia di sampingnya. “Tapi bukankah ada yang lebih penting dari itu sekarang?” tambah Nadya sembari menatap kedepan dengan percaya diri.
“Iya Ka.” Mereka berdua setuju, kesehatan Hazel saat ini lebih penting dari itu semua – bagaimana membujuk dia untuk tidak mengkhawatirkan pekerjaan dan sekolah juga sama pentingnya. “Hazel sudah berubah, dia sendiri bilang ingin melanjutkan tapi kulihat dia masih membebani hatinya. Yang aku tidak tahu alasan tepatnya,” Pikir Sofia yakin dengan keputusannya.
“Hazy kecil dulu sangat ceria. Apa yang membebani dirinya sudah lama hilang, seharusnya. Tapi entah kenapa aku merasa itu tidak benar-benar hilang atau malah itu benar-benar membuat ia tidak bisa bergerak banyak,” Nadya mencoba mengingat apa yang terjadi di masa lalu saat insiden itu benar-benar membuat Hazel tidak berbicara selama seminggu, kemudian ia hanya bilang tidak ingin bersekolah. Sampai sekarang, tidak ada yang pernah membahas masalah itu lagi. “Tapi mungkinkah? … Ya… mungkin saja, batu saja bisa terbelah karena tetesan air yang konsisten.”
Kedatangan Sofia dan Nadya ke resto membuat paman terkejut, dan wajah bibi kasir masih sama cemberutnya. Tidak ada yang tau kenapa bibi kasir membenci semua orang – apalagi jika itu yang berhubungan dengan Hazel. “Loh yah? Mana Hazy?” tanyanya kepada ayahnya yang sedang membaca koran dan kini menutup korannya. Keadaan restoran yang sepi, jam menunjukan pukul 10.59.
“Sepertinya tidak jauh dari sini, dia sedang mengobrol dengan teman. Dia mengaku si teman masa SD. Makanya kusuruh dia mengobrol lebih banyak.” ucap paman lalu menyeruput kopi yang setengah panas dan melipat koran menjadi kecil – yang selesai ia baca dan bersiap ia simpan, “Loh Sofia ikut juga? Kau sudah mempersiapkan barang-barangmu? Jam berapa kapal berangkat?” Paman melempar beberapa pertanyaan yang hanya dijawab oleh senyuman malu, “Jam 3 sore nanti paman.”
“Apa Hendra nanti jadi mengantarnya?” kali ini pertanyaan ini di lempar untuk Nadya, yang tunangannya. “Ia jadi kok, nanti aku telpon jam 2.” Ucapnya, ia langsung mengajak Sofia keluar untuk mencari Hazel. “Eh Nad!” Pamannya berdiri, “Tunggu.” Paman mendekati Nadya dan berbicara sedikit pelan, “Tadi mereka berdua keluar dengan wajah serius, jadi kamu taulah harus bagaimana.” Sofia yang mendengar itu hanya diam saja, ia tidak begitu mengerti, ia hanya akan menunggu respon dari Nadya, “Emang itu beneran temen SD nya Hazy? Ayah percaya begitu saja?”