Paman mengerti Kekhawatiran putrinya, “Dia sempat menyebut nama orang tuanya, jadi aku yakin itu anak yang sama yang pernah bermasalah dengan Hazel semasa kecil, yang pernah diceritakan paman Aden. Kau ingat kan?” Raut wajah paman berubah sedikit serius. Nadya yang mencoba mengingat-ingat cerita itu mengerutkan dahinya, “Tapi kenapa dia mencari Hazel setelah sekian lama? Masalah itukan harusnya udah selesai dari lama,” meski ia mengucapkan itu ia masih belum yakin siapa yang ayahnya maksud. “Itu cerita lama, mana aku ingat yang mana. Hazy kecil kan memang suka berkelahi dengan teman sekolahnya. Yang mana satu yang ayah maksud?”
“Sepertinya bukan masalah, mereka hanya mengobrol. Ketika datang tadi pagi, dia sangat sopan. Aku tidak tahu pasti. Tapi tadi Hazel mimisan, matanya juga sedikit memerah. Kau suruh saja dia pulang. Aku akan panggil teman ayah untuk datang membantu kalau di sini ramai.” Tegas paman ingin Nadya membujuk Hazel untuk pulang dan beristirahat.
Nadya hanya mengindahkan dan pergi keluar, matanya tidak sengaja bertemu dengan mata bibi kasir yang menatapnya sinis. Melihat hal itu Nadya langsung membawa Sofia keluar tanpa berbicara apapun, Sofia tampak kebingungan terlebih dia tidak tahu apa-apa tentang Hazel seperti mereka berdua. Sofia hanya menurut dan mengikuti Nadya dari belakang yang berjalan dengan irama sedang, Nadya mengeraskan rahangnya, “Mau sampai kapan dia mau membenci Hazel, sampai-sampai dia menatap aku dan Sofia sebegitunya. Sofia tadi sadar ga ya?” Nadya memperlambat langkahnya dan mencuri tatapan ke arah Sofia, membaca wajahnya. “Sepertinya dia gasadar. Syukurlah. Aku bisa ga enak hati kalau dia sadar digituin”
Sofia yang sadar sedang di perhatikan oleh Nadya, ia menatap Nadya dengan seksama, raut wajahnya seolah bertanya “apa ada sesuatu di wajahku”.
“Ah bukan apa-apa Sof, kau pasti sedikit bingung dengan percakapan kami tadi ya? Tapi akan aku ceritakan semuanya nanti setelah kita berhasil membujuk Hazel. Sekalian kita makan siang nanti di rumahnya.” Jelas Nadya yang hanya di balas anggukan oleh Sofia. Meski begitu Sofia sadar Naya bertingkah aneh, ia juga memperhatikan dirinya dengan seksama semenjak keluar dari resto, “apa ia ga mau aku dengar atau tahu tentang masalah “itu” ya”.
“Tapi kita cari Hazel kemana ka?” tanyanya bingung. “Dia pasti ada di sekitar sini, dia sukanya ngumpet di balik gubuk, terlebih Hazel itu tidak suka meninggalkan pekerjaanya, dia pasti sedang gelisah pengen buru-buru ke resto. Kita harus hadang dia sebelum sampai kesana.” Nadya seperti mendeklarasikan perang dengan semangat membara. Sofia hanya tersenyum membayangkan persahabatan mereka yang manis dan lucu, kini dirinya juga bagian dari hubungan itu – atau tidak, itu pikirnya.
Nadya berdiri sambil memperhatikan sekelilingnya, mencari gubuk beratap jerami dan terbuat dari kayu yang berpenghuni. Dari dekat, bayangan orang yang berteduh di dalam akan terlihat karena bias dari cahaya matahari yang menyinari. Dengan itu Nadya bisa memprediksi di mana Hazel sedang duduk dengan temannya. Saat Nadya tidak sabar ingin segera menemukan Hazel, ia berpapasan dengan sepasang manusia dari arah berlawanan dengan dirinya dan Sofia. Mata mereka tidak sengaja bertemu lalu membuang muka, Nadya segera menyadari yang ia lihat ialah Hazel dan seorang lelaki muda di sampingnya.
Hazel yang sudah merasa baikan ingin segera kembali ke resto, jam makan siang sebentar lagi akan tiba, kehadirannya pasti di butuhkan di sana. Tapi dari jarak 5 meter ia seperti melihat seseorang yang tidak asing – Sofia yang sedang mengikuti seseorang di depannya, seseorang yang sedang membelakangi dirinya dan sedari tadi terlihat gelisah, matanya kesana kemari.
“Nadya? Ngapain di sini sama Sofia… lagi ga ada kerjaan ya.” Ia yakin yang Sofia ikuti adalah Nadya. Meski wajah Nadya tidak terlihat karena sedang membelakangi dirinya, postur tubuhnya memang mudah dikenali, terlebih lagi jika ada Sofia yang hanya mengikutinya dari belakang.
“Eh. HAZY!” teriak Nadya yang menyadari setelah mata mereka bertemu. Hazel sudah tidak kaget, ia membuang muka. Ia tidak ingin tiga orang ini berkumpul menjadi satu, “Hah, satu lagi penyebab sakit kepala datang,” gerutunya didengar oleh Pandji. Pandji hanya bingung mendengar gerutu Hazel.
“Dia memanggil Hazy, apa dia orang yang sangat dekat dengannya?” matinya penasaran. Pandji yang melihat Nadya memanggil nama Hazel, tersenyum kepada dua gadis di seberang mereka.
Nadya yang melihat Hazel membawa lelaki asing mulai mengisenginya, ia memasang wajah pnasaran dan siap menggoda. “Uhum,” Nadya berlagak seolah batuk dan melirik Hazel yang sekarang memasang wajah enggan. “Ada apa kesini?” tanyanya enggan dan dingin yang ditujukan kepada Nadya. Hazel masih ingin menyembunyikan fakta bahwa ia sudah sangat dekat dengan Sofai – begitupun sebaliknya Sofia hanya mengikuti respon dari Hazel.
“Ah galak amat bu.” Ucapnya, “Hallo, aku Nadya, Kakak Hazy. Katanya kamu teman SD nya ya?” Nadya melempar pertanyaan kepada lelaki yang berdiri di belakang Hazel sambil melambaikan tangan ke arahnya, ia bahkan tidak memperdulikan Hazel yang mulai memasang kesal. “Iya, saya Pandji,” Pandji menawarkan jabatan tangan dengan sopan dan tersenyum. Jabatan tangan itu disambut ceria oleh Nadya. Dia juga menawarkan jabatan tangan kepada Sofia yang sedang berdiri di samping Nadya dengan sungkan, Sofia membalas jabatan tangan dengan senyuman hangat, k“Dia Sofia,” ucap Hazel yang merasa tidak enak dengan gerak-gerik Sofia yang rikuh.
“Sudah basa-basi nya, aku harus bekerja lagi. Kau sendiri ada apa Sof kesini. Apa kau dipaksa Nadya? Kalau kau tidak suka harusnya kau menolak.” Ucap Hazel prihatin. Nadya hanya tercengang mendengar ucapan Hazel yang menyalahkan dirinya, “Haha,” ia tertawa canggung memikirkan perasaan Nadya yang dituduh oleh Hazel “tidak kok. Aku ingin ikut sendiri. Katanya kau tadi mimisan ya?” Sofia membuka pembahasan mengenai tujuan utama mereka mencari Hazel, mendengar hal itu Hazel terdiam seketika dan raut wajahnya berubah, “Like father like daughter,” batinnya.
“Ah ia mengenai itu, kau libur saja hari ini,” ucapnya santai dan memegang lengan Hazel agar mengikuti dirinya, untuk ia bawa kerumah dan dikunci di kamar. “APA SIH! Jangan mulai deh Nad, mimisan sedikit doang. Beberapa hari lalu aku juga berdarah-darah. Bukan apa-apa mimisan mah,” gertaknya membela, ia melepas paksa pegangan tangan Nadya.