Pandji yang sedari tadi diam dan menyimak ia ikut membuka suara, “ Apa? Gimana bisa kau sampai berdarah-darah?” Tanya seorang lelaki itu dengan raut wajahnya yang berubah, ia awalnya tertawa kecil melihat tingkah tiga bersaudara tanpa ikatan darah itu, namun kemudian menjadi cemas, “Apa lukanya sudah sembuh total sekarang? Beberapa hari lalu berarti masih baru-baru ini kan?” Pandji menatap kearah Nadya meminta jawaban yang tidak ia dapatkan dari Hazel.
“Haduh, udah kalian berdua jangan bikin pusing. Pulang kerumah masing-masing!” Hazel memegangi kepalanya, dan membentak dua orang yang terus-terusan melemparinya pertanyaan. “Ah, Sofia pengecualian.” Hazel menatap ke arah Sofia yang sedikit bimbang terlihat di wajahnya, Hazel jadi merasa tidak enak hati berteriak di depan Sofia. Nadya yang melihat luapan lelaki yang mengkhawatirkan adiknya tertawa kecil. Mereka berdua tidak memperdulikan bentakan Hazel, Nadya menjelaskan insiden hari itu ketika Hazel sempat jatuh di antara batu ketika selesai berselancar.
Mengetahui Hazel memiliki hobi yang unik, membuat Pandji tertegun, ia mendengarkan cerita Nadya dengan seksama dan tersenyum berbinar-binar. Nadya yang senang bercerita tentang adik kecilnya pun memiliki luapan yang sama. Disebelah sana Sofia hanya mendengarkan mereka dan ikut tertawa dengan cerita-cerita lucu yang disebutkan Nadya. Berbeda dengan Hazel, jika mereka menikmati ini semua, ia hanya merasakan sakit kepala. Tapi sesekali ia melirik Sofia, dan senang ia tidak menutup dirinya untuk tertawa bersama.
“Ah Hazel,” Bisik Sofia, “Ya?” Hazel mengajak ia menjauh dari dua manusia yang membuatnya sakit kepala itu. “Mengenai itu, apa tidak sebaiknya kau memberitahu Nadya, dan paman juga,” Bujuknya. Mendengar hal itu Hazel sedikit termenung, ia mengingat pekerjaannya akan terbengkalai, terlebih lagi mengenai hubungannya dengan bibi kasir yang tidak harmonis, “Entahlah Sof, aku jadi ragu. Apa lebih baik dibatalkan saja ya?”
Sofia merasa sedikit kesal dan ia tidak ingin Hazel putus asa ketika bahkan belum memulai, “Jangan! kenapa kau ingin membatalkan, setidaknya cobalah dulu di paket B. setelah itu baru pikirkan paket C dan seterusnya.” Sofia yang tidak sengaja meninggikan suaranya, membuat Hazel kaget, ia tidak pernah melihat Sofia kesal sebelumnya.
“Ah maaf Sof, padahal kau sudah banyak membantu. Tapi berapa lama yang dibutuhkan untuk menyelesaikan itu? Dan kau tau di umurku yang sekarang, apa tidak apa-apa?” tanyanya ragu.
“Jelas tidak apa-apa, sistem dari Sekolah Paket itu dari pemerintah yang sudah memberikan legalitas dan mereka tidak ada batas usia. Kau hanya harus konsisten.” Jelasnya bersungguh-sungguh.
Dua orang yang sedari tadi bersenang-senang bercerita tentang Hazel di belakangnya tiba-tiba terhenti, Nadya yang mendengar tentang sekolah paket mulai mengabaikan lawan bicaranya dan merangkul Hazel. Dengan perbedaan tinggi badan yang mencolok, Nadya perlu berjinjit untuk merangkul bahu Hazel, “Apa aku ga salah denger nih? Hazel mau mengejar paket maksudnya melanjutkan sekolah kan?” tanyanya sambil melempar pandangan ke Hazel dan Sofia.
“Bukan apa-apa Nad. Sudah aku harus kembali ke pekerjaanku. Sebentar lagi pasti bakal ramai, paman juga sendirian,” ucapnya dingin dan melepas rangkulan Nadya. Ia berjalan ke arah restoran. “EH GAK!” Nadya menahan tangannya, “Iya Hazel, paman bilang kau harus pulang dan istirahat. Kau kan habis mimisan, dan katanya paman akan menelpon temannya untuk membantu,” bujuk Sofia, “kita juga perlu membahas ini dengan serius” tambahnya.
Pandji yang tidak tahu dengan apa yang mereka bicarakan hanya memperhatikan dan menyimak di belakang, “Iya aku setuju, bukannya lebih baik kau pulang?”. Hazel tidak mengindahkan bujukan mereka.
“Memangnya benar paman akan menelpon paman Yadi?” ia melempar pertanyaan kepada Nadya yang lebih paham mengenai ini. “Iya betul kok. Ayah pasti tahu apa yang harus dilakukan,” jawabnya. “Tapi masalahnya emang paman Yadi lagi ga sibbuk?” Hazel yang masih ragu dengan alasan yang dibuat Nadya, melempar pertanyaan lagi. Meski paman Yadi orang yang sering membantu paman dan ayahnya sejak dahulu, ia juga seorang nelayan yang kadang sibuk menangkap ikan.
“Tidak kok. Tadi aku lihat dia sedang membetulkan jaring di depan rumah. Sudah kau tidak perlu khawatir. Kita pulang saja, dan makan siang di rumahmu. Makanannya sudah menunggu.” Nadya menjawab sekenanya, ia juga mengajak Pandji yang sedari tadi memperhatikan mereka di belakang . Meski ia tidak tahu apa-apa ia tampak senang mendapatkan ajakan ke rumah Hazel.
“Hah? Apa maksudmu makanannya sudah menunggu?” tanyanya penasaran dengan rencana Nadya yang tidak terduga, “Sial! Aku jadi tidak bisa menolak. Terlebih lagi Nadya mengajaknya. Tahan. Tahan.”
Nadya hanya tersenyum dan terus memegangi tangan Hazel agar ia tidak lepas dan kabur, agar ia terus mengikutinya sampai benar-benar kerumah. Tampak di raut wajah Pandji yang tidak sabar melihat rumah Hazel. Setelah sekian lama akhirnya ia mengunjungi rumah Hazel lagi, terakhir kali ia mengunjungi rumah Hazel saat mereka masih kecil dan saat itu Hazel tinggal tidak jauh dari sekolah, ibunya juga bekerja di kantin dan sering sekali makan siang bersama Hazel.
Tapi sejak ibunya berhenti menjaga kantin, mereka pindah di dekat restoran ayahnya. Dan saat itu, rumah Hazel dan sekolah sangat berjarak membuat Hazel sering menunggu jemputan di rumah Pandji. Mereka sering bermain bersama saat menunggu Hazel dijemput ayah dan ibunya, namun insiden itu membuat Pandji harus pindah dan berjarak dengan orang yang sangat ia cintai sejak kecil.
Saat mereka sudah sampai di pagar yang tak tertutup, nampak Hendra sedang menunggu dengan dua kantong besar kotak makanan.
Melihat yang ditunggu Nadya sudah datang, ia memberikan sambutan dengan pelukan hangat, “Ini pesanannya, Nyonya” ucapnya membuat Nadya senang dengan tunangannya yang selalu menuruti dan memanjakannya. Nadya membalasnya dengan kecupan di pipi kanan Hendra.
“Eh Zel, katanya kau mimisan? Sudah baikan?” tanyanya penasaran. “Maaf ya Hen sudah merepotkanmu, kau tidak sekalian masuk?” tawarnya mengabaikan perihal mimisan yang sedari tadi menjadi alasan ia tidak bekerja.
“Maaf Zel, aku harus balik kerja lagi nih,” ujarnya terburu-buru. “Tidak apa, maaf ya Hen sekali lagi. Mimisannya bukan masalah besar kok. Tidak usah khawatir.” Mendengar hal itu Hendra tidak ingin berlama-lama di sana, ia memberikan pelukan ke Nadya dan pergi begitu saja setelah melempar senyuman ke Sofia.
“Kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin,” ucapnya kepada ketiga bersaudara itu. Mereka bahkan tidak sempat mengenalkan lelaki asing yang sedari tadi diam di samping Hazel. Hazel yang raut wajahnya kini berubah menjadi kesal.