“Kau sudah ingat?” Arnesh membuka pembicaraan tak lama setelah mereka di dalam mobil yang sunyi. Gadis yang ditanyai itu hanya menggeleng sambil mengingat-ingat part yang hilang di memorinya. Ia terkadang menjadi kesal karena setiap ingin mengingat sesuatu, part yang penting hilang begitu saja seolah tak terekam di ingatannya. Arnesh tidak ingin ada rasa canggung di antara mereka berdua, lelaki itu mencoba menghidupkan siaran radio malam yang kini mulai memutarkan lagu pop 2000-an, tidak hanya lagu lokal tapi juga ada lagu pop bahasa inggris hasil request penelpon. Saat tangannya masih mencari siaran yang pas, tiba-tiba tangan Hazel yang dingin ikut menyentuh tombol pemutar radio dan tak sengaja ikut bersentuhan dengan kulit pucat Arnesh yang kini menghindar dari sana. “Aku suka penyia

