Bab 01
“Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan.”
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“SAH!”
“Alhamdulillah’hirabbilalamin.”
Mereka semua yang hadir dalam acara tersebut mengucap Hamdalah atas pernikahan Cahaya dengan Naufal yang berjalan lancar. Pihak keluarga tersenyum bahagia karena bersatunya putra-putri mereka. Pernikahan yang diimpikan semua orang, namun tidak bagi Naufal!
“Alhamdulillah, akhirnya kalian Sah menjadi pasangan suami-istri.” ujar Bapak penghulu
Cahaya tersenyum tipis lalu menundukkan kepalanya. Tidak ada senyuman di bibir Naufal, yang ada hanya wajah dingin dan datar. Di hatinya sama sekali tidak ada kebahagiaan yang tertanam, melainkan rasa amarah dan kebencian yang terus bergejolak.
Muhammad Naufal Gemilang putra tunggal dari Arkana Gemilang dan Kirana Fatharani Gemilang. Laki-laki tampan yang telah menikahi gadis pilihan Ibunya yang bernama Cahaya Ghaliya Anggasta putri tunggal dari Ardani Anggasta dan Syafira Ghaliya Anggasta.
“Alhamdulillah. Papa senang melihat pernikahan kamu dengan Cahaya berjalan lancar.” bisik Arkana sembari tersenyum
“Tapi tidak dengan Naufal, Pa.” batinnya berucap
“Jika bisa melarikan diri Naufal pasti sudah melakukannya sekarang.”
Naufal muak dengan pernikahan ini. Ingin rasanya ia menghancurkan acara pernikahannya agar semua orang yang hadir segera pulang ke rumah masing-masing. Tepukan di bahunya seketika menyadarkan Naufal dari lamunannya sendiri.
“Kenapa, Pa?” tanya Naufal
“Jangan diam saja, Naufal! Cium istri kamu sekarang!”
Sontak Naufal melayangkan tatapan protes ke arah orang tuanya. Sudah pasti ia menolak melakukan hal tersebut, bahkan hanya dengan bersentuhan rasanya tidak sudi.
“Pa, Naufal nggak mau!” tolaknya dengan wajah dingin
Arkana melayangkan tatapan tajam ke arah putranya. Jika Naufal menolak dan membuat keributan keluarga besarnya yang akan menanggung malu. Beliau memberikan tatapan peringatan pada Naufal agar dia mau memenuhi permintaannya. Lagipula permintaannya bukanlah hal yang sulit.
“Naufal, di sini sedang ada banyak tamu jadi jangan membuat malu Papa dan Mama!”
“Tapi…”
“Lakukan saja apa yang Papa perintahkan!”
Naufal mengepalkan kedua tangannya menahan amarah, bahkan wajahnya terlihat memerah. Dengan terpaksa Naufal memenuhi permintaan sang Ayah daripada membuat keributan.
“Baiklah!” ucapnya setelah menghela nafas berat
Arkana tersenyum mendengar jawaban putranya. Naufal memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Cahaya dengan wajah dingin. Jika bukan karena paksaan dari Arkana ia tidak akan melakukan hal ini.
“Cahaya, salim dulu sama suamimu!” ujar Kirana sembari tersenyum
Cahaya menatap sekilas ke arah Naufal lalu menundukkan pandangannya kembali. Ia memainkan jemarinya karena gugup, apalagi tatapan Naufal terlihat dingin dan tajam. Cahaya tidak mempunyai keberanian untuk menyentuh tangan Naufal terlebih dulu.
“Nggak papa, sayang!” kata Kirana
“Em…”
“Biar Mama bantu kalau kamu nggak berani melakukannya.”
Kirana menarik tangan Cahaya dan Naufal lalu menyatukan kedua tangan mereka. Untuk pertama kalinya tangan mereka bersentuhan, bahkan saling menggenggam. Ada getaran aneh yang dirasakan Cahaya di saat pertama kali menyentuh tangan suaminya.
“Ya Allah, perasaan apa ini?” batin Cahaya berucap
Perlahan Cahaya menarik tangan Naufal lalu mencium punggung tangannya untuk pertama kali.
Deg.. deg.. deg
Detak jantung Naufal tiba-tiba berdebar kencang setelah hidung mancung Cahaya bersentuhan dengan punggung tangannya. Sebisa mungkin ia menutupi kegugupannya agar tidak menimbulkan rasa curiga.
“Ada apa dengan jantungku? Kenapa tiba-tiba berdebar kencang seperti ini?” batin Naufal bertanya-tanya.
Ketika mencium punggung tangan suaminya Cahaya berdoa dalam hati untuk kebaikan rumah tangga mereka ke depannya nanti. “Ya Allah, jadikan rumah tangga kami sakinnah mawaddah warahmah.”
“Cahaya percaya Engkau meletakkan kebaikan di dalam rumah tangga kami.” ucapnya dalam hati
Naufal langsung menarik tangannya menjauh ketika Cahaya selesai mencium tangannya. “Naufal, sekarang cium kening istrimu!” kata Arkan
“Pa…”
“Lakukan saja, Naufal!”
“s**t!” umpat Naufal dalam hati
Perlahan tangan Naufal terangkat untuk memegang wajah Cahaya, dan…
Cup
Naufal mencium kening Cahaya, hal itu membuat kedua orang tuanya tersenyum bahagia. Debaran jantung pasangan suami-istri tersebut semakin berdebar kencang apalagi di saat mendabat siulan menggoda dari keluarga besarnya.
“Ekhm, ciee..” ucap salah satu sepupu Naufal
Naufal langsung menjauh karena tidak nyaman dengan mereka yang terus menggodanya. Untuk apa mereka menggodanya? Lagipula ia tidak bahagia dengan pernikahan ini. Ia dipaksa untuk menjalani ini semua.
Setelah acara akad nikah selesai mereka semua berfoto serta menikmati pesta yang sudah disediakan. Para tamu undangan dan pihak keluarga besar terlihat begitu bahagia serta menikmati pesta pernikahan tersebut.
Naufal semakin muak melihat keluarga besarnya terlihat begitu bahagia di atas penderitaannya. “Lihat saja, tidak ada kebahagiaan setelah pernikahan ini.” batinnya berucap
Malam harinya.
Acara pernikahan tersebut hanya satu malam, itu semua atas permintaan dari Naufal. Dengan terpaksa Arkana dan Kirana menyetujuinya karena Naufal mengancam tidak akan mau menikah dengan Cahaya jika acara pernikahan mereka terlalu mewah.
Untuk malam ini Cahaya akan tinggal di rumah mertuanya dan besok pagi ia akan pulang ke rumah baru yang telah keluarganya siapkan untuknya dan sang suami. Cahaya tidak bisa banyak menolak karena takut mengecewakan kedua orang tuanya.
“Sayang, Ayah dan Bunda pulang dulu, ya!” kata Syafira sembari tersenyum
Cahaya mengangguk sembari tersenyum tipis. “Nggak papa kan kalau Ayah dan Bunda tinggal?”
“Nggak papa, Bunda.”
Ardani beralih menatap ke arah Arkana. Beliau harap keluarga mereka memperlakukan putrinya dengan baik seperti beliau menyayangi anaknya sendiri. “Pak Arkana, tolong jaga dan sayangi putri saya dengan tulus! Saya percaya dengan keluarga Pak Arkana.” ucapnya sembari tersenyum
Arkana mengangguk. Beliau pasti menjaga dan menyayangi Cahaya seperti putri kandungnya sendiri, bahkan sejak awal beliau dan istrinya yang meminta untuk menjodohkan Cahaya dengan putranya.
Cahaya perempuan baik-baik, hal itu yang membuat beliau dan istrinya tertarik menjodohkannya dengan Naufal.
“Tanpa Pak Ardani minta saya dan Kirana menyayangi Cahaya seperti putri kandung kami sendiri. Pak Arkana dan Bu Syafira tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut.”
“Baiklah, saya percaya dengan kalian.”
Ardani dan Syafira pamit pulang karena hari sudah malam. Mereka mempercayakan putrinya pada Keluarga Arkana. Cahaya melambaikan tangannya ke arah kedua orang tuanya ketika mobil yang mereka tumpangi mulai berjalan meninggalkan perkarangan rumah mertuanya.
“Cahaya!” panggil Kirana dengan suara lembutnya
“I-iya, Ma!”
“Masuk, yuk! Kalian butuh istirahat, hari sudah malam.”
Cahaya mengangguk sebagai jawaban. Tiba-tiba Naufal berjalan cepat meninggalkan istri dan kedua orang tuanya begitu saja tanpa mengatakan apapun. Wajahnya terlihat kesal, apalagi seharian ia tidak istirahat hanya karena acara pernikahan yang tidak ia inginkan.
“Naufal!” panggil Arkana
“Pa, sudah! Mungkin dia sedang lelah makanya buru-buru seperti itu.”
“Huhhh,,” Arkana menghela nafas kasar.
“Ya sudah, sebaiknya Mama antar Cahaya ke kamarnya untuk istirahat! Papa masuk ke kamar dulu!”
“Iya, Pa!”
Kirana menggenggam tangan Cahaya membawanya menuju kamar Nuafal. Hari sudah malam mereka harus segera istirahat karena seharian menjalani aktivitas yang melelahkan.
Kirana mengantar Cahaya sampai di depan pintu kamar putranya. “Masuk, gih!” ucapnya
“Memangnya nggak papa, Bun?”
“Kenapa nggak boleh, sayang? Kamar ini akan menjadi kamar kamu juga, jadi nggak ada masalah.”
“Tapi…”
“Kamu nggak perlu takut dengan Naufal, kalau dia melakukan sesuatu panggil Papa dan Mama biar kami yang akan menasehatinya.”
Kirana tahu apa yang dipikirkan Cahaya. Mereka membutuhkan waktu untuk beradaptasi, maka dari itu Cahaya dan Naufal harus saling mengenal terlebih dulu agar hubungan keduanya semakin dekat.
“Masuk, gih!” ujar Kirana
“I-iya, Ma.”
“Yaudah, Mama ke kamar dulu, ya! Selamat istirahat, sayang!”
“Selamat istirahat, Ma!”
Setelah kepergian Ibu mertuanya Cahaya menatap pintu kamar di hadapannya dengan tatapan ragu. Ia tidak yakin tidur satu kamar dengan Naufal, apalagi laki-laki itu belum menerima kehadirannya.
....