Keesokan harinya Cahaya mengelus rambut suaminya dengan jemarinya yang mungil. Wajah Naufal terlihat lelah membuat Cahaya merasa kasihan. Ia tahu apa yang saat ini menjadi beban di pikiran suaminya. Persahabatan yang terjalin bertahun-tahun hancur hanya karena seorang perempuan. Keegoisan salah satu dari mereka membuat tali pertemanan terputus dengan mudah. Untuk saat ini Naufal belum bisa melakukan apa-apa namun terus berusaha agar kedua temannya membaik. “Mas!” panggil Cahaya “Iya, sayang!” “Em.. Mas Naufal yakin mau pulang ke Indonesia hari ini juga?” “—“ Naufal terdiam sejenak lalu membuka suara, “Kamu masih mau di sini?” Cahaya menggelengkan kepalanya. “Enggak. Cahaya cuma tanya, mas.” Naufal bangun lalu duduk bersila menghadap sang istri. Ia merasa bersalah mengajak is

