Cup Naufal mencium kening Cahaya cukup lama dan penuh perasaan. Wajahnya berbinar bahagia karena aktivitas mereka barusan. Ibu jarinya mengelus pipi istrinya yang terlihat memerah karena malu sekaligus salah tingkah. “Terima kasih!” ucap Naufal dengan suara lembut “Hmm..” Cahaya memalingkan wajahnya karena Naufal menatapnya begitu lekat. “Jangan menantap wajah Cahaya seperti itu, kak!” “Kenapa? Aku suka melihatnya.” “Cahaya malu!” cicitnya Naufal terkekeh geli mendengarnya. Untuk apa malu, lagipula ia sudah melihat semuanya. Ia menyukai apa yang dimiliki oleh istrinya. “Kenapa malu, hm? Aku sudah melihat semuanya, jadi nggak perlu malu.” Semburat merah di kedua pipi Cahaya tidak akan hilang jika Naufal terus menggodanya. Ia menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya ka

